Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Ceramah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceramah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2011

SEDANG CERAMAH DI MALANG


Dengan keseriusan dan kajian-kajian yang matang dan membumi diselingi dengan diseling humor, sajian sejenis yang seolah bicara langsung dengan penonton atau penikmat, humor segar yang etis dan santun dengan materi yang berkompeten akan siap bersaing, maka secara langsung pada tampilan ini. Keakraban yang tidak mengurangi bobot materi sajian yang berdurasi waktu antara 10 (sepuluh) atau 30 (tiga puluh) menit, dengan diselingi “pesan sponsor” atau” pariwara” penyaji siap ikut terlibat memberikan atau mempersilahkan dan sebagainya, terserah program stasiun TV ini.

Dari pengalaman yang kami petik selama ini, kami telah pula mendapat kepercayaan selama 4 (empat bulan) mulai bulan September sampai dengan Desember 2004 yang lalu malang melintang kurang lebih 53 (lima puluh tiga) kali tayang September 2004 sd. Februari 2005 dalam acara ceramah agama MUTIARA KEHIDUPAN ” durasi waktu 30 menit & “ Kultum ” durasi waktu 10 menit, di TV swasta tepatnya Malang TV kota Malang ( Malang Raya).

Selain itu sudah sering mendapat kepercayaan ceramah atau pengajian umum di berbagai Instansi Pemerintah dan swasta, di Jawa Timur dan luar Jawa ( 3 kota Irian Jaya dan Denpasar Bali ).

Untuk itu kami bermaksud menyediakan diri untuk kerjasama yang ber kesinambungan atas dasar saling percaya untuk kemajuan pertelevisian dengan mengisi acara “ Mimbar Agama ” secara monologis dengan sajian yang familier dan humoris atau Nada & Dakwah pada stasiun TV ini.

Sponsor dan waktu acara mengikuti program yang telah diagendakan atau diprogramkan oleh stasiun yang Bapak pimpin.


HUBUNGAN SUAMI ISTRI

Kehidupan Suami Istri
Dalam kehidupan rumah-tangga, sesungguhnya suami-istri memiliki hak dan kewajiban yang seim bang sesuai dengan kodrat masing-masing. Dan keduanya dituntut menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Berkaitan dengan masalah ini, perlu kiranya kita simak beberapa ayat suci Al Quran.
“Para wanita memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, memiliki satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha bijaksana”. (Q.S. Al-Baqarah:228).
“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (para pria) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (Q.S. An Nisa:43).
Tentang pergaulan suami istri pun telah dipaparkan secara gambling dalam Al-Quran dan hadis. “… wanita yang saleh ialah wanita yang taat kepada Allah dan memelihara diri (tidak berlaku curang dan serta menjaga rahasia dan harta suami).” (Q.S. An Nisa:3).
Kewajiban suami terhadap istri secara garis besarnya sebagai berikut:
1. Memberi nafkah lahir (sandang,pangan, dan papan) dan batin sebaik-baiknya sesuai dengan kesanggup an suami. Maksudnya, apa yang dimakan, disandang, dan ditempati oleh istri sama baiknya dengan yang di makan, disandang, dan ditempati oleh suami. Firman Allah SWT. “Hendaklah orang-orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (Q.S. Ath-Thalaq:7). Sabda Rasulullah saw. “Hak istri yang ada pada suami adalah agar dia memberinya makan ketika dia makan, memberinya pakaian manakala dia berpakaian. Dan tidak boleh dia memukul wajah, memaki, meninggalkannya selain dalam tempat tidur.” (H.R. Tabrani dan Al-Hakim).
2. Bersikaplah kepada istri seperti yang ia inginkan, selama itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
3. Suami berkewajiban mendidik dan mengajar istri untuk memenuhi segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya serta mendidiknya untuk berperilaku terpuji. Sabda Rasulullah saw. “Takutlah engkau kepada Allah SWT dalam urusan wanita. Sesungguhnya mereka adalah amanat di sisimu. Barang siapa tidak memerintahkan dan mengajarkan shalat kepada istrinya, berarti ia berkhianat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.“ (Al-Hadis).
4. Bergaullah dengan mereka secara patut (baik). Firman Allah SWT. “Bergaullah dengan mereka (istrimu) dengan baik. Jika kamu benci kepada mereka, bersabarlah karena barangkali kami menyukai sesuatu, sedang Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.“ (Q.S. An-Nisa:19). Sabda Rasulullah saw. “Jika orang benci karena ada sesuatu yang kurang dari perangai istrinya, maka ketahuilah bahwa pada bagian yang lain ada yang menyenangkan“. (H.R. Muslim). Dari Abu, Rasulullah saw. pernah berkata.“Mukmin yang sempurna imannya, ialah sebaik-baik pribadinya. Dan sebaik-baik pribadi ialah orang yang sebaik-baiknya terhadap istrinya.“ (H.R. Ahmad dan Tirmizi).
5. Jangan bertindak sewenang-wenang. Ajaklah ia bermusyawarah dan jika pendapat anda yang benar arahkan ia pada pendapat anda secara halus seperti yang dilakukan Rasulullah terhadap istri-istrinya.
6. Berdandanlah untuk menyenangkan hati istri.
7. Membantu pekerjaan sehari-hari istri seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Aisyah ra. mengatakan:“Dulu Rasulullah sering membantu pekerjaan keluarganya. Beliau hanya keluar untuk shalat jika waktu shalat telah tiba.“ (H.R. Bukhari dan Tirmidzi).
Kewajiban istri terhadap suami secara garis besarnya sebagai berikut:
1. Taat dan patuh kepada suami. Sabda Rasulullah saw.“Seandainya aku boleh memerintahkan manusia bersujud kepada manusia lain, akan aku perintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami yang dianugrahkan Allah kepada mereka.“ (H.R. Tirmizi).
a) istri tidak boleh menolak ajakan suami untuk “bercampur“. Sabda Rasulullah saw. Dari Abu Hurairah, telah berkata Nabi saw. “Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, tetapi si istri tidak bersedia, jika sang suami marah sepanjang malam itu, maka sepanjang malam itu pula para malaikat-malaikat mengutuk si istri.“ (sepakat ahli hadis).
b) Istri harus selalu berwajah manis di depan suami.
c) Istri tidak boleh bepergian tanpa sepengatahuan atu seizin suaminya. Sabda Rasulullah saw. “Tiada seorang wanita yang keluar rumah tnapa seizin suaminya, melainkan dia akan dilaknati oleh segala sesuatu yang disinari matahari sampai ular-ular dalam laut.“ (Al Hadis).
d) Istri harus senantiasa mencari kerelaan suaminya, dengan kata lain harus berusaha bersikap yang berkenan di dalam hati suaminya. dari Ummi Salamah, sesungguhnya Nabi saw. telah berkata:“Barangsiapa di antara wanita yang meninggal dunia dan ketika itu suaminya suka kepadanya, mana wanita itu akan masuk surga.“ (H.R.Ibnu Majah dan Tirmizi). “Ada tiga (kelompok) orang di mana Allah tidak menerima shalat mereka, serta kebaikan mereka tidak bisa naik ke langit. Yakni seorang hamba yang melarikan diri dari majikannya, sehingga dia kembali lagi. Seorang wanita yang dimarahi suaminya, sampai rela (reda kemarahannya). Dan seorang pemabuk sampai ia tersadar dari mabuknya.“ (H.R. Ibnu Hibban, Al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah dari Jabir).
e) Istri tidak boleh melaksanakan puasa sunnat kecuali atas izin suami, dan tidak boleh memberikan izin pada seseorang untuk memasuki rumah tanpa seizin suaminya.
2. Menjaga harta suami. Maksudnya sitri tidak boleh membelanjakan atau menghadiahkan harta suami tanpa seizinnya.
3. Mengatur urusan rumah tangga, dan turut serta mendidik anak-anaknya.

Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Islam
Sebagai bahan referensi dan renungan bahkan tindakan, berikut, garis besar hak dan kewajiban suami isteri dalam Islam yang di nukil dari buku “Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari Lengkap” karangan H.A. Abdurrahman Ahmad.
Hak Bersama Suami Istri
- Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)
- Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 – Al-Hujuraat: 10)
- Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)
- Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)
Adab Suami Kepada Istri .
- Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)
- Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)
- Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)
- Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
- Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa’: 34) … ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.
- Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
- Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
- Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
- Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
- Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)
- Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)
- Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
- Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
- Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
- Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa’: 3)
- Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
- Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)
- Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada istrinya. (AI-Baqarah: ?40)
Adab Isteri Kepada Suami
- Hendaknya istri menyadari clan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita. (An-Nisa’: 34)


- Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
- Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa’: 39)
- Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah:
a. Menyerahkan dirinya,
b. Mentaati suami,
c. Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya,
d. Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami
e. Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
- Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa’ i, Muttafaqun Alaih)
- Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
- Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
- Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi)
- Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw.: “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Timidzi)
- Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
- Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)
- Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa’: 34)
- Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)
- Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)
- Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)
Isteri Sholehah
- Apabila’ seorang istri, menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramddhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya Allah swt. akan memasukkannya ke dalam surga. (Ibnu Hibban)
- Istri sholehah itu lebih sering berada di dalam rumahnya, dan sangat jarang ke luar rumah. (Al-Ahzab : 33)
- Istri sebaiknya melaksanakan shalat lima waktu di dalam rumahnya. Sehingga terjaga dari fitnah. Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid, dan shalatnya wanita di kamarnya lebih utama daripada shalat di dalam rumahnya. (lbnu Hibban)
- Hendaknya menjadikan istri-istri Rasulullah saw. sebagai tauladan utama.

Selasa, 15 November 2011

KHUTHBAH IDUL ADHA

KHUTHBAH IDUL ADHA

بسم الله الرحمن الرحيم
KETUNDUKAN KEPADA ALLAH ADALAH SYARAT MUTLAK MENJADI PANUTAN YANG BAIK
(Sebuah Refleksi Dari Kisah Hidup Nabi Ibrahim )
الله أكبر الله أكبر الله أكبر, الله أكبر الله أكبر الله أكبر, الله أكبر الله أكبر الله أكبر, لا إله إلا الله الله أكبر الله أكبر ولله الحمد،
الْحَمْدُ لله الْمَلِكِ الْعَلاَّمِ غَافِرِ الذَّنْبِ وَقاَبِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ الْعِقاَبِ ذِيْ الطَّوْلِ وَاْلإِنْعاَمِ أَنْزَلَ الْكِتاَبَ فَعَلَّمْ وَشَرَعَ فَأَحْكَمْ أَحْمَدُهُ عَلىَ جَزِيْلِ نِعَمِهِ وَأَشْكُرُهُ عَلىَ غَزِيْرِ فَضْلِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ نَبِيُّ الْهُدَى وَالرَّحْمََة خَيْرُ الْبَرِيَّة وَأَفْضَلُ الْبَشَرِيَّة صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَصْحِبِهِ وَمَنْ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْحَشْرِ وَالْمَعاَدِ.
أَيُهاَ النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ والنَّجْوَى فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ فَقَالَ :
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}
الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله الله أكبر الله أكبر ولله الحمد،
Kaum Muslimin hafhizhakumullahu, lantunan takbir yang dibarengi rasa syukur seperti di pagi hari ini terasa begitu indah dan nikmat, hari raya yang bahagia bagi segenap kaum muslimin di manapun mereka berada. Lantunan tahmid dan tahlil membumbung ke angkasa menembus cakrawala mengingatkan akan hakikat diri dan curahan nikmat tiada hingga, Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilaaha Illal Laahu wallahu Akbar Allahu Akbar walillahil Hamd.
Ma’asyiral muslimin hafhizhakumullahu, Nabiyullah Ibrahim adalah tokoh sentral yang selalu dikenang di setiap Iedul Adha dan beliau patut untuk itu dari pengorbanan yang luar biasa dalam ketundukan kepada Allah yang berwujud pada ketaatan agung tidak tertandingi mulai dari hijrah hingga keikhlasan mengorbankan puteranya dalam peristiwa penyembelihan yang berakhir dengan syariat berkurban hingga saat ini. Beliau dipanuti karena kesempurnaannya sebagai hamba Allah  dalam segala hal, di dalam al-Qur’an surah an-Nahl (16): 120, Allah berfirman:
•   •        
120. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif[843]. dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),
[843] Hanif Maksudnya: seorang yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya.

{إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ}
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif, dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)”.
Di samping sebagai Rasul utusan Allah  yang sempurna menjalankan tugas berat tersebut, beliau dalam kehidupan kemanusiaannyapun berhasil mendidik istri dan keturunan beliau berjalan di atas jalan Allah . Di dalam Qs. al-Baqarah (02): 132
}وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ{
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.
Kaum Muslimin hafhizhakumullahu, kunci kesempurnaan Khalilullah (Kekasih Allah ) Ibrahim  dalam ketundukan kepada Rabbnya adalah rasa tsiqah (yakin) beliau kepada segala perintah-perintahNya bahwa di dalamnya pasti terkandung maslahat nampak atau tidak, saat ini atau di kemudian hari. Rasa tsiqah ini berwujud iman dan yakin yang senantiasa memenuhi relung hati, lisan dan perbuatan beliau sehingga kalimat yang keluar di saat datang perintah adalah sebagaimana firman Allah  dalam Qs. al-Baqarah (02):131,
{إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ}
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd
Kaum Muslimin Rahimakumullah, dari sifat Nabiyullah Ibrahim  di atas setidaknya bagi kita untuk zaman seperti sekarang ini membutuhkan dua hal penting:
1. Rasa tsiqah (yakin) kepada ketetapan Allah  yang menghasilkan keimanan nan kuat akan segala janjiNya  berupa kebahagiaan bagi yang taat dan tunduk serta kebinasaan bagi yang membenci, menolak atau menggantinya.
Allah  berfirman dalam Qs. Muhammad (47): 9
{وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ 0
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ}
“Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur'an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka”.
Di dalam ayat lain Qs. Thaha (20): 75-76, Allah  berfirman:
{وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلا 0 جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى}
“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga `Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan)”.

Kaum Muslimin yang berbahagia, syariat Allah  bukanlah untuk diperdebatkan atau dipertentangkan apalagi dijadikan sebagai bahan pooling pendapat untuk disetujui atau tidak, ia adalah ketetapan yang mutlak harus diterima sebab datangnya adalah dari Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui segala-galanya, Ialah satu-satunya yang mengetahui mashlahat dan mudharat bagi umat manusia, ketetapanNya penuh keadilan, hukum-hukumNya penuh kebijakan, tidaklah Ia ditanya tentang perbuatanNya sebaliknya umat manusialah yang berhak untuk itu.
Merubah satu dari ketetapan Allah , atau membenci apalagi sampai menolaknya dengan alasan apapun adalah bentuk-bentuk kekufuran yang pelakunya terancam murtad dari agama Islam, sebaliknya menerima hukum-hukumNya adalah syarat mutlak benarnya iman seseorang sebagaimana yang tersebut di dalam Qs. an-Nisaa (04): 65, Allah  berfirman:
{فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا}
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.
Saat ini tidak sedikit hukum Allah  yang diperdebatkan, ironisnya justru oleh orang yang kurang faham agama sehingga tidak jarang hukum-hukum tersebut ditolak hanya dengan alasan logika yang sangat pendek, sebutlah sebagai misal hukum poligami dan larangan mengucapkan selamat kepada orang kafir pada hari raya mereka yang ditentang oleh sebagian masyarakat kita dengan dalih tidak sesuai dengan keadaan zaman yang demokratis atau diskriminasi terhadap kaum wanita atau terkadang mengangkat dalil agama yang dipelintirkan tidak sesuai dengan maksud dan tujuannya diturunkan. Tidakkah orang-orang itu sadar bahwa yang mereka tentang adalah hukum Allah  bukan hukum buatan manusia ? Tidakkah lagi ada rasa takut dalam diri kita semua jika terang-terangan menolak hukumNya ? Jika Abu Bakar as-Shiddiq  saja berkata: “Langit manakah yang akan menaungiku, bumi manakah yang akan menerimaku jika aku berkata tentang al-Qur’an sesuatu yang tidak aku ketahui ?” Maka kita semua akan berkata apa melihat kelakuan sebagian umat kita seperti ini tanpa ada rasa takut kepada Allah  sedikitpun ? Kemanakah orang-orang beriman yang mengaku tunduk kepada Allah  dan senantiasa menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar ? Sadarlah wahai umat Islam dari segala musibah dan bencana yang menimpa kita selama ini bahwa ia adalah teguran Allah  akibat kelalaian dan keteledoran kita, bangkitlah dan katakan TIDAK kepada segala bentuk penentangan terhadap hukum-hukum syariat, nyata ataupun tersembunyi dengan mentakwil-takwilkannya.
{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ}
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”.

2. Qudwah Shalihah atau panutan yang baik. Kita butuh kepada siapa yang bisa mewujudkan Islam hakiki dalam kehidupan sehari-harinya sebab tabiat setiap manusia memang adalah memanuti orang lain. Ia mewarisi dari Rasulullah  dan para shahabat beliau  sunnah yang suci dan menghidupkannya dalam perilaku lurus dan bersih, perbuatannya sesuai perkataannya, tegas dalam kebenaran dan sayang kepada pengusungnya.
Kaum muslimin yang berbahagia, setiap dari kita dapat menjadi panutan jika bisa menjaga perbuatan baik dan konsisten dalam menjalankan syariat Allah  sebagai bentuk ketundukan kepadaNya. Hal ini sebagaimana firman Allah  dalam Qs. al-Furqan (25): 74
{ وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا}
“Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Para mufassirin -di antaranya adalah Abdullah ibnu Abbas - berkata: “imam” artinya pemimpin yang menjadi panutan dalam kebaikan.
Krisis panutan saat ini begitu terasa bagi kita kaum muslimin, walau di antara kita tidak sedikit yang punya ilmu tentang Islam atau yang begitu hebat berbicara tentang agama, namun yang menghidupkan Islam dalam kehidupannya dari semua yang ada tersebut masih sangat sedikit, bahkan terkadang justru para tokoh yang disebut “pakar” atau “cendekia” itulah yang membuat kebingungan di tengah umat akibat perkataan dan perbuatannya yang berbeda-beda atau bertentangan. Padahal seorang qudwah adalah dia yang bukan saja memberikan keteduhan kepada umat karena wejangan dan nasihatnya yang senantiasa membawa mashlahat tapi juga ketaatannya kepada Allah  begitu besar karena rasa takut yang terpatri di dalam dadanya. Di dalam Qs. Fathir (35): 28, Allah  berfirman:
{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”.
Salah seorang tabi’in yaitu Said ibnu Jubair rahimahullah berkata: “rasa takut adalah yang menghalangi seseorang dari maksiat kepada Allah ”.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yang demikian itu adalah karena siapa yang pengetahuannya tentang Allah  lebih sempurna maka rasa takutnya kepada Allah  juga semakin tinggi”.
Saatnya problema panutan ini diatasi dengan mendidik diri dan keturunan kita untuk tunduk dan patuh kepada ketetapan Allah  dengan berislam yang utuh dan mendalam. Semoga Allah  menambahkan hidayahNya buat kita semua.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Kepada kaum muslimah, jagalah diri dan jangan terperdaya oleh tipu muslihat kaum syahwati. Simaklah firman Allah  sebagaimana yang terdapat dalam Qs. an-Nisa’ (04): 27
{وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلاً عَظِيمًا}
“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).”
Allah  mengajak anda ke syurga dengan jalan yang mudah yaitu dengan menerima sepenuh hati segala ketetapanNya dalam agama ini serta melaksanakan anjuran Rasulullah  dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad ibnu Hambal dari Abdurrahman ibnu Auf 
(( إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ ))
“Jika seorang wanita telah melaksanakan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga harga diri dan kemuliaan, serta taat kepada suaminya maka akan dikatakan buatnya masuklah ke dalam syurga dari pintu mana saja yang engkau mau.”
Tidak sedikit gerakan-gerakan feminis saat ini yang mengatas namakan perjuangan buat kaum wanita namun tidak diridhoi Allah  akibat penentangan mereka terhadap prinsip agama dan moral kaum muslimin, sadarlah bahwa hanya Islamlah satu-satunya sistem hidup yang memuliakan kaum wanita, jika anda mencari selain Islam maka justru kehidupan anda hanya akan menjadi bahan komoditas yang laku ketika masih segar namun dicampakkan setelah renta dan layu.
Buat para pemimpin negeri ini kami serukan untuk menjadikan syariat Allah  sebagai pedoman dalam negara sebab tiada keberuntungan ataupun kebahagiaan kecuali dengannya. Dengannya anda mengundang keridhaan Allah  Pencipta dan Penguasa alam semesta serta dengannya pula anda dapat memberikan kesejahteraan kepada umat dan masyarakat yang anda pimpin. Kami sadar bahwa memimpin negeri ini memang sulit namun dengan bantuan Allah  lalu kebersamaan kaum muslimin semua amanah dan kewajiban dapat diatasi insya Allah. Syariat Allah  adalah adil dan tidak diskriminatif dapat berlaku bagi semua umat manusia yang sadar akan eksistensi dirinya sebagai makhluk, maka tidak usah takut dan khawatir akan adanya penindasan terhadap kaum minoritas, toh dalam sejarah pun hal tersebut tidak pernah terjadi.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ketahuilah bahwa hari ini adalah hari suci, maka mari bersihkan diri kita dari segala kesyirikan dan dosa serta harta kita dengan bersedekah, juga mengikuti anjuran Allah  dan Rasulullah  untuk berkurban dengan menyembelih hewan kurban (udhiyah).
Hewan yang disembelih itu adalah berupa domba yang genap berusia 6 bulan, atau kambing yang genap setahun, atau sapi yang genap 2 tahun dengan syarat hewan kurban tersebut tidak memiliki cacat dan penyakit yang bisa berpengaruh pada daging, kwantitas maupun kwalitas (rasanya) misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku dan mulut.
Seekor sapi boleh disembelih untuk tujuh orang, adapun kambing ia hanya boleh untuk satu orang saja, kecuali berserikat dalam pahala maka dibolehkan pada semuanya tanpa batas. Sebaiknya si pemiliklah yang menyembelih hewan kurbannya, namun boleh saja diwakilkan kepada penjagal dengan syarat ia adalah seorang muslim yang menjaga shalatnya, tahu hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit ataupun daging, meskipun ia juga bisa mendapat bagian dari hewan tersebut bila ia berhak.
Bacaan sebelum menyembelih adalah:
بِسْمِ اللهِ والله أَكْبَر اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ ...
Lalu menyebut nama yang berkurban.
Hewan yang telah disembelih dapat dibagi tiga, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin, meskipun bila disedekahkan semua juga boleh. Waktu penyembelihan dimulai sejak usai shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya dan dimakruhkan menyembelih di malam hari. Nilai dari hewan kurban seseorang di sisi Allah bukanlah saja dari banyaknya daging dan darah yang dikucurkan namun lebih dari itu yang sampai kepada Allah  adalah ketaqwaan dan keikhlasannya, maka luruskanlah niat kita hanya mengharap balasan dariNya semata.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Akhirnya marilah bersama menundukkan hati dan jiwa kita kepada Allah Yang Maha Perkasa, menengadahkan tangan kita kepada Dia Yang Maha Melihat, meminta dan memohon belas kasih dariNya Yang Maha Mendengar dan Memberi,
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين ،
Ya Allah, Tuhan kami, kembali di hari suci ini kami menghadapkan wajah kami kepadaMu memohon belas kasih dan ampunanMu, kami sadar akan kesalahan dan kelalaian kami, nikmat dan anugerah yang banyak dariMu belumlah kami balas dengan penghambaan yang semestinya kepadaMu, bahkan dosa dan kekeliruan tidak pernah luput dari keseharian kami, Ya Allah, Tuhan kami, namun kamipun sadar dengan segala keyakinan bahwa kasihMu tak bertepi, ampunanMu tak terbatas ampunkanlah dosa dan kesalahan kami, curahkanlah belas kasihMu kepada kami.
Ya Allah, kedua ayah ibu kami yang masih hidup ataupun yang telah kembali kepadaMu adalah orang yang pertama kali berjasa kepada kami, memperkenalkan kami kepadaMu, merawat, mendidik dan membimbing kami dengan penuh kesabaran, tak jarang airmata mereka tumpah karena ulah kami, kami mengingat NabiMu pernah bersabda bahwa siapa yang tak mampu berterima kasih kepada sesama manusia tak akan mampu bersyukur kepadaMu, Ya Allah tak ada yang mampu kami berikan kepada kedua orang tua kami kecuali seuntai doa kepadaMu untuk mengampunkan kekhilafan dan kesalahan mereka, melimpahkan kasih sayang dan rahmat kepada mereka, ampunkan mereka yang telah wafat, bimbing dan tunjuki mereka yang masih bersama kami dan jadikanlah kami orang yang mampu berbakti kepada mereka sesuai tuntunanMu, Engkaulah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.
Ya Allah, di sini di hari ini kami bergembira, hati kami dipenuhi rasa suka dan cita, namun sepenggal hati kami ini pula diselimuti duka dan kesedihan bila mengingat ada sebagian saudara kami di sana tak mampu seperti kami merayakan hari ini, mereka terusir dari tanah tempat tinggal mereka, terkekang oleh tirani jahat yang tak pernah rela akan agamaMu, terintimidasi oleh kekuatan zhalim yang gemar keangkuhan dan kepongahan. Ya Allah, masukkan rasa gembira ke dalam hati saudara-saudara kami sebagaimana yang Engkau berikan kepada kami walaupun hanya setetes, sampaikan kepada mereka bahwa sukacita kami hari ini dikabungi duka nestapa mereka, Ya Allah hanya kepadaMu kami adukan besarnya kezhaliman musuh-musuhMu atas saudara-saudara kami, balaslah mereka dengan balasan setimpal, hancurkan kekuatan mereka, timpakan atas mereka apa yang telah mereka timpakan atas kami, Ya Allah Engkaulah satu – satunya Penolong dan Pelindung kami.
Ya Allah, di hari ini kami bertekad untuk tunduk dan patuh hanya kepadaMu, menekuni agamaMu dan mewarnai hidup kami dengannya, Ya Allah selamatkanlah kami semua dari segala kejahatan dan kecelakaan, janganlah Engkau timpakan atas kami musibah dari perbuatan orang-orang zhalim di antara kami, dan anugerahkanlah buat kami panutan yang baik dari kalangan kami sendiri, Ya Allah kamilah hambaMu yang sangat butuh akan belas dariMu.
Ya Allah kabulkanlah doa kami, penuhi permintaan kami ini, kamilah hambaMu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Melihat, Engkaulah Penguasa Satu-satunya Yang Haq, Engkaulah Sebaik-baik harapan.
رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ، رَبَّناَ آتِناَ فِي الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ، اللَّهُمَّ رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْناَ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ، سُبْحاَنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُهُ الظَّالِمُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلىَ الُْمْرسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وصَلِّ اللَّهُمَّ عَلىَ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

Rabu, 30 Maret 2011

NGAJI ITU PERLU AGAR TIDAK INGKARUSSUNNAH


H.M. ALI GHUFRON SEDANG PENGAJIAN UMUM DI PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM TAMBAK BERAS JOMBANG JAWA TIMUR

SHALAWAT BADR ( WULAN POSO )

WULAN POSO WULANE IBADAH
TETEP SREGEP YEN GOLEK NAFKAH
MUGO OLEH REJEKI BAROKAH
NGGO NAFKAH BOJO LAN BOCAH-BOCAH

NYAMBUT GAWE AYO SING JUJUR
AWAK KABEH SUPOYO MUJUR
REJEKI NGONO WIS ONO SING NGATUR
YO GUSTI ALLOH KANG MOHO LUHUR

HIDUP DI DUNIA ITU AMANAH
KITA HANYA MENJALANINYA
ADA YANG KURANG ADA YANG BERADA
ITU SEMUA HANYA ROMANTIKA

KERJA KITA JADIKAN SEBAGAI IBADAH
NAFKAH KELUARGA SEBAGAI SEDEKAH
SEMOGA KITA MENDAPAT RAHMATNYA
SELAMAT DUNIA DAN AKHIRATNYA

DADI UWONG OJOK MOKONG-MOKONG
SUGIH TITIK NANG TONGGO SOMBONG
SUGIH NDUNYO KANDELE KANTONG
AKEHNO AMALE SAK DRUNGE DIPOCONG

DOWO UMUR DUNGANE UWONG
LEMU AWAKE YO KOYOK KINGKONG
SOPAN SANTUN MENYANG UWONG
ONO BANGUN MASJID YO MELOK NYOKONG

H.M. Ali Ghufron Singosari

PUASA ROMADHON DAN MASALAHNYA

Oleh : Drs. H. M. Ali Ghufron Risyam*)

PENGERTIAN PUASA

Puasa dalam bahasa Islamnya adalah as shiyam artinya menurut ilmu bahasa : “Menahan diri dari sesuatu perbuatan yang bisa membatalkan puasanya itu. Adapun menurut arti istilah yang di maksud puasa oleh Islam ialah : Menahan diri dari makan, minum dan ber setubuh di siang hari, mengeluarkan air mani dengan sengaja, dan mengeluarkan muntah dengan sengaja, memasukkan sesuatu ke jalan makan dan minum dengan sengaja, semenjak waktu terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat untuk mengharap ridlo Allah dan penuh keikhlasan kepada Allah swt. dan melatih untuk mengendalikan nafsu.

BERKURANGNYA PAHALA PUASA

Artinya : “ Lima perkara yang membatalkan puasa (menghilangkan paha puasa ) : berdusta, bergunjing, menghasut/ profokasi, sumpah palsu dan memandang dengan syahwat”. (hadits)

Termasuk sempurnanya puasa : menyegerakan buka (takjil) dengan air atau makanan yang sunnahnya tidak diproses dengan api, meneliti makanan untuk berbuka, atas perkara yang halal dan tidak memperbanyak makan.

DASAR HUKUM PUASA

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagai mana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.

“ Yaitu dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) : memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itulah yang lebih baik baginya, dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya.” (Q.S. Al Baqarah : 183-184 )

HUKUM RUKSHOH ( KERINGANAN )

Orang-orang yang diperbolehkan berbuka pada bulan Romadhon adalah sebagai berikut:

1. Orang yang sakit apabila tidak kuasa berpuasa, atau apabila berpuasa maka sakitnya akan bertam bah parah atau akan melambatkan sembuhnya menurut keterangan yang ahli dalam hal itu. Maka orang tersebut boleh berbuka, dan ia wajib mengqadha(mengganti) apabila sudah sembuh, sedangkan wak tunya adalah sehabis bulan puasa nanti.

2. Orang yang dalam perjalanan jauh ( 80,640 km ) boleh berbuka, tetapi ia wajib mengqada puasa yang ditinggalkan itu di hari lain sehabis bulan puasa nanti.

3. Orang tua yang sudah lemah, tidak kuat lagi berpuasa karena tuanya, atau karena memang lemah fisiknya, bukan karena tua. Maka ia boleh berbuka, dan ia wajib membayar fidyah (bersedekah) tiap hari 3/4 liter beras atau yang sama dengan itu ( makanan yang mengenyangkan) kepada fakir dan miskin.

4. Orang hamil dan orang yang menyusui anak. Kedua perempuan tersebut, kalau takut akan menjadi mudarat kepada dirinya sendiri atau beserta anak nya, boleh berbuka, dan mereka wajib mengqada sebagaimana orang yang sakit. Kalau keduanya hanya takut akan menimbulkan mudarat terhadap anaknya (takut keguguran, atau kurang susu yang dapat menyebabkan si anak kurus kering), maka keduanya boleh berbuka serta wajib qada dan wajib fidyah (memberi makan fakir miskin, tiap-tiap hari 3/4 liter).

HIKMAH DALAM ARTI PEMBINAAN PRIBADI

Ditinjau dari segi kerohanian maka puasa mempunyai hari depan bagi pribadi dan masyarakat yang sangat baik. Sebab puasa ialah latihan untuk membentuk berbagai watak yang baik sadar akan keberadaannya di dunia sebagai hamba Al Khaliq. Manusia yang tunduk dan disiplin kepada undang-undang agama dan negara. Jadi hikmah puasa mempunyai dampak positif yang sangat banyak bagi yang mengerjakan sepenuhnya. Antara lain :

1. Membentuk manusia disiplin

Manusia disiplin ialah manusia yang patuh pada peraturan, sebab dengan berpuasa ia harus mematuhi peraturan-peraturan puasa, me matuhi perintah Tuhannya yaitu peraturan yang melarang untuk ma kan dan minum sampai waktunya berbuka. Ia menyadari dan disiplin menurut aturan agama. Ia mengharap ridlo Allah semata-mata. Semoga Allah rela ia menjadi orang yang bertaqwa. Ingatlah disiplin adalah sarat untuk mencapai keberhasilan. Maka puasa adalah merintis ke jalan sukses.

2. Mawas diri

Orang berpuasa dalam keadaan lapar akan bisa merasakan bagaimana rasanya fakir miskin menderita lapar karena ketiadaan yang dimakan. Oleh sebab itu puasa adalah melatih diri untuk peka terhadap penderitaan orang lain yang kelaparan. Kalau ada orang kaya sakit perut karena kekenyangan, maka disebrang sana ada orang miskin sakit perut karena kelaparan. Sebab itu orang yang berpuasa menyederhanakan makan. Jangan sampai berlebih-lebihan, tak habis dimakan yang akhirnya dibuang ke tempat sampah, padahal di tempat lain banyak orang mati kelaparan. Kalau hal ini diperhatikan dan diambil hikmahnya, maka akan timbul kesadaran kepedulian sosial di antara sesama.

3. Mengekang dan mengendalikan hawa nafsu

Nafsu bagi manusia adalah semangat yang perlu dikobarkan. Namun nafsu yang tak terkendali akan merusak jiwa raga manusia. Sebab itu orang yang berpuasa harus berjuang untuk menguasai atau mengendalikan serta menundukkan hawa nafsunya. sikap yang demikian dengan sendirinya akan mempertinggi alam pikirannya. Ia akan berpikir ini baik ini buruk, ini berman faat ini mudharat. Sebab itulah nafsu harus dilatih untuk selalu kepada yang baik, yang berprikemanusiaan terjauh dari sifat tercela misalnya : bengis, ke jam dan dholim.

4. Mempunyai ketabahan dan kuat mental

Orang yang berpuasa akan tabah hati, sebab jasmani dan rohani terlatih menderita lapar dan dahaga dengan dasar kepatuhan kepada Allah SWT semata, karena hanya dia sendiri yang tahu kalau sedang berpuasa. Ia sanggup menderita, sanggup berkorban demi mengharap ridlo Allah SWT. belaka. Orang -orang demikianlah yang tidak egois, yang akan sanggup berjuang dan bertahan menghadapi segala macam kesulitan yang selalu menghadang, karena hanya pengabdian kepada Allah semata dalam hidupnya, walaupun menjani berbagai profesi dalam kehidupan bermasyarakat.

5. Sehat jasmani dan rohani

Demi untuk kesehatan, normalisasi pencernaan makanan, sekali-kali me merlukan istirahatnya. Lihat saja mesin yang dipakai non stop, bisa-bisa ti dak tahan lama. Yang mana direncanakan tahan enam puluh tahun, baru empat puluh tahun sudah rusak. Selain itu dalam istilah kedokteran puasa atau diet untuk mereka yang sakit tertentu adalah anjuran dari dokter. Misalnya penyakit kegemukan, lemah jantung dan kencing manis dll.

Banyak orang-orang yang menderita sakit, dengan suatu keyakinan, ia lan tas berpuasa, tak lama kemudian penyakitnya sembuh. Hal ini berpuasa adalah mempunyai hikmah yang sangat penting untuk kesehatan jasmani dan rohani.

6. Untuk terkabulnya doa

Muslim-muslimat atau non-Islam banyak mempraktekkan puasa .Untuk suatu maksud mereka melakukan puasa, tirakatan, bertapa, pasabrata dll.

Keprihatinan hati dalam mengharapkan pemberian apa yang dimaksudkan dari yang maha Kuasa sangat didambakan. Oleh sebab itu ia beristirahat, berpuasa dan bertapa, bersemedi dan lain-lain agar harapannya segera dikabulkan. Memang berpuasa sangat penting untuk terkabulnya doa. Banyak praktek-praktek seperti : Seorang jejaka agar disenangi perawan dan sebaliknya gadis supaya dicintai jejaka. Mereka melakukan puasa. Pejabat yang ingin naik pangkat agar tidak sebel. Orang miskin supaya di beri rizki yang halal, ia menjalankan puasa. Petani dan nelayan agar hasil taninya jadi atau ikannya tambah banyak, mereka menjalankan puasa. Tak ketinggalan pemimpin yang bertanggung jawab berpuasa agar diberi petunjuk oleh Allah, ia melakukan puasa. Tujuan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta ini di semua Agama Samawi memang diajarkan untuk puasa, terlebih agama Islam, untuk menjadi Muttaqin (Orang yang bertaqwa).

Mari kita jaga puasa kita agar tidak tercemari dengan hal-hal yang dapat merusak pahala puasa. Sebagaimana hadits Nabi ; “ Berapa banyak orang yang berpusa, tetapi tidak mendapatkan pahala puasa kecuali lapar dan dahaga saja” ( Al-Hadits). Maka agar puasa kita lebih meningkat diban ding dengan tahun-tahun sebelumnya, maka perlu untuk menyelamatkan dari 5 hal yang merusak pahala puasa, disertai mencari peluang pahala dengan banyak Tafakkur, dan dzikir yang dianjurkan Rasulullah SAW. :

“ Asyhaduallailaha illallah, astahfirullah, as-aluka ridhaaka waljannata, wa ‘auudzubika min saqatika wannaar”. “Allahumma innaka afuw wungkarim tuhibbul afwa wa’fu anni”.

Semoga kita dijadikan oleh Allah sebagai orang-orang yang muttaqin dan anak kita dijadikan putra/putri yang sholehin dan sholihat mampu melanjutkan perjuangan ulama’ Warasul Ambiya’, para umara’ (pemimpin) yang jujur dan adil demi kemakmuran rakyat. Kepada para shoimin dan shoimat

Selamat bekerja, belajar, berjuang dan beribadah puasa untuk meraih Piala Muttaqin.


PUASA MEMBENTUK PRIBADI SECARA UTUH

Oleh : Ust. Drs. H. M. Ali Ghufron Risyam *)

Ditinjau dari segi kerohanian maka puasa mempunyai hari depan pribadi yang sangat baik. Sebab pua sa ialah latihan untuk membentuk watak-watak yang baik dan terpuji. Orang yang berpuasa adalah yang tunduk dan disiplin kepada undang-undang agama. Jadi hikmah puasa mempunyai efek yang sa ngat banyak bagi yang mengerjakan sepenuhnya.

Pertama, Membina disiplin menjadi manusia yang patuh pada peraturan, sebab dengan berpuasa ia harus mematuhi peraturan-peraturan puasa, mematuhi perintah Tuhannya yaitu peraturan yang melarang untuk makan dan minum sampai waktunya berbu ka. Ia menyadari dan disiplin menurut aturan agama. Ia mengharap ridlo Allah semata-mata. Disiplin adalah sarat untuk mencapai keberhasilan. Maka puasa dapat merintis ke jalan sukses.

Kedua, Orang berpuasa dalam keadaan lapar akan bisa merasakan bagaimana rasanya fakir miskin menderita lapar. puasa adalah melatih diri (riyadhah) untuk peka terhadap penderitaan orang lain. Karena orang yang berpuasa menyederhanakan makan, minum, bicara, berfikir negatif.

Ketiga orang yang berpuasa berju ang menguasai dan mengendalikan serta menundukkan hawa nafsunya. Dari nafsu syaitoniyah, kepa da nafsu malaikatiyah, dari hayawaniyah menuju nasfu insaniyah, dari nafsi laammaratussuk pada naf su muthmainnah.

Keempat, Orang yang berpuasa akan tabah hati, sebab jasmani dan rohani ter latih menderita lapar dan dahaga dengan dasar kepatuhan kepada Allah. Ia sanggup menderita, sang gup berkorban demi mengharap ridlo Allah. Orang-orang demikianlah, orang-orang yang tidak egois, ini lah orang yang sudah pasti akan sanggup berjuang dan bertahan menghadapi segala macam kesulitan yang menghadang, pecahlah segala macam keruwetan yang semrawut dan tenanglah pikirannya walau halilintar bermain api didepan matanya. Tak ada ketakutan, tak ada kegelisahan. Hanya pengabdian kepada Allah semata dalam hidup ini.

Kelima, Banyak orang-orang yang menderita sakit, dengan suatu keyakinan, ia lantas dengan ikhtiyar puasa dan berdoa, tak lama kemudian penyakitnya sembuh. Hal ini berpuasa adalah mempunyai hikmah yang sangat penting untuk kesehatan jasmani dan rohani seseorang dengan pertolongan Allah Swt.

Keenam, orang muslim maupun orang non muslim banyak mempraktekkan. Untuk suatu maksud mereka melakukan puasa, tirakatan, bertapa, semedi, cegah lek, cegah makan, cecah minum untuk dikabulkan hajatnya. Keprihatinan hati dalam mengharapkan pem berian apa yang dimaksudkan dari yang maha Kuasa sangat didambakan. Oleh sebab itu ia beristira hat, berpuasa dan bertapa, bersemedi dan lain-lain agar harapannya segera dikabulkan. Memang berpuasa sangat pentingdalam terkabulnya doa. Banyak praktek-praktek seperti : Seorang jejaka agar disenangi prawan dan sebaliknya gadis supaya dicintai jejaka, mereka melakukan puasa. Pejabat yang ingin naik pangkat, agar tidak sebel., supaya diberi rizki yang halal, ia menjalankan puasa. Petani dan nelayan agar hasil taninya jadi atau ikannya tambah banyak, mereka menjalankan puasa. Tak keting galan pemimpin berpuasa agar diberi petunjuk oleh Allah, ia melakukan puasa sebagai pengorbit doa (Washilah). Dengan demikian puasa adalah latihan, bagai kawah candradimuka, agar seusainya menjadi manusia yang utuh, sehat lahir dan sehat batin dan Taqwa sebagai puncak tujuan puasa, sebagaimana Firman Allah dalam Alquran : Surat Al-Baqarah : 183, Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.( Q.S. Al-Baqarah : 183 )

PUASA & ZAKAT SEBAGAI PENAWAR SIFAT ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA

Oleh : Drs. H. M. Ali Ghufron Risyam *)

Bagi yang telah puasa ramadan dan menunaikan zakat dan shadaqoh dengan sungguh-sungguh karena iman dan ihlas hanya karena-Nya, maka, Pertama, akan mendapat ampunan segala dosanya yang te lah lalu. Dengan demikian ia telah bersih dari dosa dan kembali pada fitrah, kemudian masa datang akan selalu terditeksi dan terkontrol bila akan melakukan pelanggaran dan dosa. Kedua, menguasai, mengendalikan, mengontrol nafsu. Nafsu bagi manusia adalah suatu potensi yang perlu berikan porsi pengendaliannya. Nafsu yang tak terkendali akan menyeret pada kekejian hewani, bahkan lebih hina. Puasa dan zakat adalah berjuang menundukkan nafsu untuk dikuasai atau dikendalikan. Dari puasa dan zakat akan mempertinggi pikiran nya, etika, dan estetika, sebab itulah kelebihan manusia jika dibanding kan dengan hewan. Agar tidak punya aji-aji hewani, yakni ; Adigang, adigung, adiguna. Adigang, andalannnya Kijang, membanggakan loncatannya yang jauh, lincah, gesit. Adigung, andalan nya gajah, karena kebesarannya, dan Adiguna, andalannnya ular, karena mempunyai bisa yang mema tikan, sehingga meremehkan orang lain. Padahal di atas langit masih ada langit, di atas yang pandai masih banyak yang lebih pandai. Ketiga, menjadikan sehat jasmani rohani , Sabda Nabi Saw.: ”Shuu mu tashihhu ”. Artinya : “Puasalah kalian, niscaya kalian akan sehat”. (H. R. Ath- Thabrani). Hal ini berpuasa adalah mempunyai hikmah yang sangat penting un tuk kesehatan jasmani dan rohani dan Zakat sebagai penyuci jiwa dan shadaqoh sebagai to lak balak (celaka). Keempat, dapat memberi ja lan ruh untuk berkomunikasi dan berdekat-dekat kepada Allah Saw. (Taqarruban ilallah) untuk mera ih kebahagiaan yang hakiki. Imam Al-ghazali menjelas kan dalam kitab (Kimyaus Sa’adah) “ bahwa pada diri manusia terdapat berbagai karakter, ada karakter hewan, karak ter binatang buas, setan dan ada karakter ma laikat. Dan untuk masing-masing karakter me miliki kebutuhan makanan dan keman jaannya sendiri. Kebutuh an makanan dan kemanjaan karakter hewan terletak pada makan, minum, ti dur, hubungan seksual. Jika kita hanya tekun , tidak membatasi atau mengontrol nafsu-nafsu pemuas mulut, perut, kelamin (walud), tak lebih kita sama dengan hewan. Adapun ma kanan dan keba hagia an karakter binatang buas terletak pada terkaman, gigitan pada mu suh, sedang kebahagiaan setan ter letak pada keja hatan, tipu daya, pengelabuhan, ngibul, jika kita tidak mam pu menguasai maka kita pun termasuk dalam golongan mereka para se tan. Dan yang tera khir kebutuhan dan kebahagiaan ka rakter Malaikat. Kabahagian terletak ini terdapat pada kesak sian pa da keindahan hakikat ketuhanan. Dan tak ada celah nafsu angkara murka untuk mencapai kebahagiaannya. Kalau kita ingin mencapai haruslah menghayati ibadah-ibadah kita, sehingga akan terlepas dari belenggu nafsu angkara murka. Selain itu rakitan berbagai karakter dalam diri kita, bukannya manusia menjadi tawanan-Nya, namun Allah Swt. menjadikan sebagai tawanan kita agar dapat kita kendalikan dan berguna bagi spirit ibdah yang memetik sukses dunia dan di akhirat nanti. Kelima, menambah nilai taqwa seseorang dan menja di insan pari purna. Suka tak suka tetap ingat dan menyadari, hakekat ibadah kebaikannya kembali pada pelakunya, bukan kepentingan Allah Swt. Walau tak ada umat yang puasa dan zakat, Allah Swt. tak terpangaruh, tetap sebagai Tuhan semesta alam dengan sifat Keagungan Nya. Untuk itulah manusia diwajibkan ibadah untuk membedakan dengan makhluk binatang, gunung, laut dan sebagainya. Karena manusia telah berjannji untuk mau melaksanakan ibadah/ mengabdi dan mengelola alam, sebagai abid dan khalifahtullah fil ardi. Maka sangat perlu puasa, zakat, agar dapat menikmati Idul Fitri (kembali ke fitrah)nya sebagai manusia.


*) Ust. Drs. H. M. Ali Ghufron Risyam : Muballigh, Penulis, Pengamat Budaya Islami, Staf Pengajar di YAPISH Malang SMA Shalahuddin Malang dan Y.P. Almaarif Singosari SMAI dan MA serta Yayasan Pondok Pesantren Al Ishlah, SMK TI Singosari Malang.

Sabtu, 13 Maret 2010

ceramah dan Nara sumber di Malang

Saat ceramah di studio Televisi lokal Malang, di Malang TV

INTIMISASI TUHAN DENGAN NILAI ISLAMI

Disampaikan dalam Orasi Budaya & Pentas Seni MABA ’02

Fakultas Agama Islam Unisma Malang

Oleh

Drs. H. M. Ali Ghufron

Dalam segala segi kehidupan tanpa nilai Islami, tiada yang patut dibanggakan, baik individual terlebih untuk kehidupan sosial masyarakat. Jauh sebelum agama Hanif diproklamirkan di gurun Arabia. Tata nilai berjalan tertatih-tatih, bahkan sayup-sayup dan redup dari cahaya Ilahi, digilas kebodohan dan kebatilan dalam nilai aqidah/keimanan dan akhlaq/moralitas ( Jahiliyyah ).

Risalah Islam datang, Rasul menyatakan “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk memulyakan akhlaq/ moralitas”. Lantas segalanya mengalami perubahan yang cepat, yang tidak terbayang sebelumnya. Bahkan selanjutnya, terutama jaman keemasan Islam, nilai Islami semakin berkembang ke seluruh penjuru dunia, karena satu hal; ruh ajaran Islam mulai dikenal dan dipraktikkan dalam ke hidupan dan didakwahkan pada masyarakat, sehingga mempunyai tata nilai.

Tata nilai merupakan aturan pandangan dan anggapan masyarakat, yang digunakan sebagai pedoman dalam menilai sesuatu dan dalam mengendalikan serta memilih tingkah laku, dalam kehidupan sehari-hari. Atau dengan kata lain tata nilai adalah suatu kumpulan norma yang diakui oleh masyarakat, dan digunakan sebagai pedoman dalam menentukan realitas yang ada sekelilingnya, dan dalam menentukan sikap selanjutnya.

Realitas ada dua ;

1. Overt reality; realitas yang teraga, sistem sosial, sistem bahasa dan sistem teknologi.

2. Covert reality; realitas yang tidak terasa, sistem ideologi ( kosmologis, tata nilai, dan pola sikap ).

Kedua macam realitas tersebut saling mewarnai dan mempengaruhi. Secara funda mental, sistem nilai tersebut dapat dibagi dalam kategori :

a. Nilai etis, yang mendasarkan orientasinya pada ukuran baik atau buruk.

b. Nilai pragmatis, yang mendasarkan orientasinya pada ukuran berhasil atau gagal.

c. Nilai effec sensoris, yang mendasarkan orientasinya pada ukuran menyenangkan atau menyedihkan.

d. Nilai religius, yang mendasarkan orientasinya pada ukuran halal atau haram, dosa atau tidak dosa, manfaat dan mudlarat, maslahah dan mafsadah, dampak positif dan dampak negatif.

Orientasi masyarakat terhadap nilai-nilai tersebut dapat mengalami perubahan atau pergeseran, dari waktu ke waktu. Pergeseran nilai tersebut akan berakibat terjadinya perubahan pandangan, sikap dan tingkah laku masyarakat yang bersangkutan; Hal ini tidak lepas dari interaksi antara realitas teraga dengan realitas tidak teraga dalam sistem sosio kultural secara keseluruhan. Sebagai contoh dapat disebutkan sebagai berikut :

a. Dahulu, pandangan masyarakat terhadap makna hidup yang ideal, adalah hidup untuk bera mal dan berbakti. Tapi sekarang pandangan tersebut mengalami perubahan, seperti data yang diperoleh LIPI dari hasil penelitian tahun 1982, di lima daerah (Aceh, Sumbar, Sumsel, Kalbar dan Bali), ternyata masyarakat sekarang mengambil pilihan tentang makna hidup ideal sebagai berikut :

- “ Hidup untuk bekerja ”, didukung oleh lebih dari 75 %

- “ Hidup untuk bersenang-senang ”, didukung sekitar 20%

- “ Hidup untuk beramal dan berbakti ”, didukung oleh 4,5 %

b. Kini, pandangan tentang ketaatan remaja, pemuda/mahasiswa ( Nilai religius ) sekarang dianggap lebih kuat dibanding masa-masa dahulu, seperti yang diperoleh dari penelitian LIPI tahun 1980 terhadap empat masyarakat di Jawa ( Jakarta, Sunda Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur ) dengan perbandingar sebagai berikut :

- “ Remaja/pemuda kini lebih tertarik dan taat pada agama” diberikan dukungan oleh 46 % responden

- “ Remaja/pemuda kini lebih jauh dari agama” didukung oleh 35 % dari responden.

- “ Remaja/pemuda kini sama saja sikapnya terhadap agama” didukung oleh 19 % responden.

Hasil tersebut memberikan gambaran, bahwa masalah agama banyak mendapat perhatian serius dari ka langan remaja/ pemuda kini. Terbukti jumlah masjid, musholla, lembaga pendidikan Islam terus bertambah, wanita berjilbab menjamur, mimbar agama, shalawatan dan kesenian di berbagai media dsb. Walaupun kemaksiyatan juga terus mengimbangi, bahkan melaju lebih maju dan merajalela.

Dengan demikian pengaruh terhadap sosiokultural berdampak positif pada kedupan masyarakat kita yang sedang dalam transisi, dari masyarakat organis ke masyarakt mekanis, seperti masyarakat kita sekarang. Keseimbangan antara Vertikalisasi dan horizontalisasi dadam pranata kehidupan telah ditegaskan dalam firman Allah “ DZURRIBAT ‘ALAIHIMUDDZILLATU AINAMAA TSUKIFUU ILLAA BIHABLIM MINALLAHI WAHABLIM MINANNAASI”(Q.S Ali Imron : 112)

“ Mereka diliputi kehinaan di manapun mereka berada kecuali melakukan hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia “.

Dan akan intim/ erat keduanya (Hablumminallah dan Hablumminannas) bila semua aktifitas kehidupan kita sertai Lillahi ta’ala, dan diniati ibadah. Maka hidup akan bermakna denga memperoleh ridha dan Rahmat-Nya.

Maha suci Allah, dan menyukai kesucian dan mendapat ridla-Nya. Maha Adil Allah, dan menyukai keadilan dan mendapat ridla dan Rahmat-Nya. Maha Indah Allah dan menyu kai keindahan.

Malang, 7 Oktober 2002,

Rujukan:

1. Al Quran/Hadits

2. Salim, Agus. 1979. Seni dalam Islam. Bandung. Almaarif

3. Hasan, Muhammad Tholchah. 1986. Prospek Islam dalam Menghadapi Tantangan Jaman. Malang. Bangun Prakarya.







Sabtu, 09 Januari 2010

PAK ALI GHUFRON DIALOGIS DI MALANG

MENGURUS JENAZAH
A.Menghadapi Seseorang Yang Sakit Keras
Apabila kita menghadapi seseorang yang sakit keras dan diperkirakan sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup, maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :1. Hendaknya si sakit tersebut dihadapkan ke kiblat2. Hendaknya ia dituntun dengan mengucapkan kalimat syahadat (tauhid)3. Dibacakan surat yassinBagi keluarga atau ahli waris jika ada keluarganya yang sedang sakit keras hendaknya menuntun kalimat syahadat tauhid , yaitu“ Laailaaha Illalaah”.Lebih lengkapnya dituntun dengan dua kalimat syahadat, yaitu :“Asyahadu an laa ilaha illallahu. Waasayhadu anna Muhammadan Rasulullah””.Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa :
Artinya : Hendaknya semua menuntun (mengajari) kepada orang-orang yang akan meninggal dunia dengan bacaan : (Laailaaha Illallaah)(H.R. MUSLIM)Dalam menuntun kamlimat syahadat cukup sekali saja tidak perlu berulang-ulang kali, karena dikhawa tirkan baru pada sampai lafadz wafat, jika demikian maka wafatnya termasuk suul khotimah.Oleh karena itu usahakan orang yang akan wafat supaya bisa menghembuskan nafas terakhir dengan bacaan Laailaaha illallaah maka cukup kita tuntun sekali saja. Selanjutnya disambung dengan lafadz “ALLAH” sampai akhir hayatnya (wafat). Jika wafatnya bisa membaca kalimat syahadat berarti ia wafat dalam keadaan HUSNUL KHOTIMAH (Baik akhir hayatnya).Hal ini sesuai dengsn sabda Nabi Muhammad SAW :Artinya : Barang siapa ucapannya (ketika wafat) menyebut : LAAILAAHA ILLALLAAH maka ia masuk surga. (H.R. MUSLIM).
B. Menghadapi Seseorang yang baru Meninggal Dunia
Apabila kita dapati seseorang yang baru meninggal dunia, maka tindakan yang harus kita lakukan pertama kali adalah sebagai berikut :1. Mengikat kepala mayit2. Meletakkan tangan mayit di atas perut (seperti tangan orang yang sedang melaksanakan sholat)3. Mengikat dan menyatukan persendian lutut4. Menyatukan kedua ibu jari kaki5. Menghadapkan mayit ke arah kiblat.
C. TENTANG CARA MEMANDIKAN JENAZAH

I. PendahuluanApabila kita dapati seseorang yang baru meninggal, maka tindakan yang harus kita lakukan pertama kali adalah sebagai berikut :a. Mengikat kepala mayitb. Meletakkkan tangannya di atas perut (seperti tangan orang yang sedang melakukan sholatc. Mengikat dan menyatukan persendian lututd. Menyatukan kedua ibu jari kakie. Menghadapkan mayit kea rah kiblat.


II. Cara memandikan mayatSetelah mayit di letakkan pada tempat yang disediakan, maka kita tutupi seluruh tubuhnya dengan kain yang agak tipis sehingga bila disiram dengan air dapat membasahi seluruh anggota tubuhnya.
Maka mulailah kita memandikannya dengan tata cara sebagai berikut :

a. Mula-mula kita sediakaan air sebanyak mungkin, sedikit air jeruk (jeruk purut), air bedara, air kapur barus dan sabun.Yang pertama kali kita lakukan ialah menyiram seluruh tubuhnya dengan air bersih mulai dari kepala sampai ke ujung kakinya, dengan niat memandikan mayat sebagai berikut :
1. Jika mayat laki-laki dewasa,lafadz niatnya adalah :
(Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit fardhal kifaayati lillahita’ala).Artinya : Sengaja aku memandikan mayat ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.
2. Jika mayat perempuan dewaasa,lafadz niatnya adalah:
(Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati fardhal kifaayati lillahita’ala)Artinya : Sengaja aku memandikan mayat perempuan dewasa ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.3. Jika mayat kanak-kanak laki-laki, lafadz niatnya adalah :
(Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit tifli fardhal kifaayati lillahita’ala). Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak-kanak laki-laki ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala. 4. Jika mayat kanak-kanak perempuan,lafadz niatnya adalah :(Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati tiflati fardhal kifaayati lillahita’ala).Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak -kanak perempuan ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.
b. Kemudian kita ambil air yang bercampur dengan jeruk (jeruk purut),maka kita sirami semua persendiannya untuk melemahkan anggota yang kaku/tegang, agar mudah membersihkan anggota tubuh mayat. Selanjutnya kita bersihkan seluruh anggota dengan sabun,dan kita buang segala kotoran-kotoran yang masih ada pada mayat itu,sampai sebersih-bersihnya,dan sunnat membasuh anggota wudhunya terlebih dahulu dengan mendahulukan yang kanan dari yang kiri.c. Kemudian dari pada itu, maka kita dudukkan mayat itu dengan keadaan condong ke belakang, kemudian kita tekan-tekan (diramas) perutnya perlahan-lahan dan tangan kiri kita yang sudah dibalut dengan kain (atau dibuat berbentuk sarung tangan) mencuci kubul dan dubulnya dengan niat istinja’ bagi mayat.Lafadz niatnya adalah sebagai berikut :(Nawaitul istinjaa-i minal mayyit fardhan a’layya lillahi ta’ala).Artinya : Sengaja aku menyucikan daripada mayit ini fardhu atasku karena Allah Ta’ala.d. Kemudian dari pada itu, diambil wudhu’ bagi mayit,lafadz niatnya adalah :(Nawaitul wudhu-a lihaadzal mayyit lillahi Ta’ala). Artinya : Sengaja aku mengambil wudhu’ bagi mayit ini karena Allah ta’ala.Setelah itu baru disiram dengan air bedara dan dengan air kapur barus untuk menghilangkan bau dan supaya menjadi harum dan segar.e. Kemudian daripada itu, disiram air berkali-kali (3 kali atau 5 kali atau lebih) dengan jumlah bilangan ganjil yang terakhir dicampur dengan air kapur barus. Namun hal yang lazim dikerjakan adalah 9 kali menyirami air yang disebut dengan cuci sembilan (mandi sembilan) sebagaimana yang disebut dalam Kitab Arab Melayu “KIFAYATUL GHULUM” karangan Syekh Ismail Minang Kabau,yaitu dengan cara sebagai berikut :
1. Mula-mula mayat dimiringkan kekiri,kalau menyiram air kesebelah kanannya 3 kali sambil membaca do’a :(Ghufraanaka yaa Allah rabbana wailaikal mashiir)
2, Kemudian dimiringkan ke sebelah kanan, lalu menyiramkan air ke sebelah kirinya 3 kali sambil membaca do’a :(Ghufraanaka yaa rahman rabbana wailaikal mashiir)
3, Kemudian membetulkan mayat itu (tertelentang) lalu menyiram air ke sebahagian mukanya mulai dari kepala sampai ke ujung kakinya 3 kali seperti di atas,sambil membaca do’a :(Ghufraanaka yaa Allah yaa rahim rabbana wailaikal mashiir).4. Setelah itu kita angkat kepala mayat tersebut sedikit menghadap kea rah kiblat, lalu dibacakan syahadat bagi mayit. Yaitu :(Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahulmulku walahul hamdu yuhyi wayumiitu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodiir)4. Tanbihun1. Mengambil wudhu’ bagi mayat itu adadua cara, yaitu :a. Seperti mengambil wudhu’ bagi orang yang masih hidup saja.b. Pendapat lain seperti mandi sembilan dengan mengucurkan (menyiramkan) air tiga kali sebagaimana cara diatas.2. Jika mayat laki-laki (umumnya anak-anak) yang tidak bisa dibuka kulubnya (kulit yang menutup ujung zakarnya), untuk mengharuskan sholat baginya.hendaklah ditayamumkan. Lafadz niat tayammum adalah :(Nawaitul tayammuma lihaadzal mayyit il-istibaahatis sholaati ‘alaihi fardhan lillahi ta’ala)Artinya : Sengaja aku memtayamumkan bagi mayit ini, karena mengharuskan sembahyang atasnya karena Allah ta’ala.
3. Tayammum itu dikerjakan sesudah seleasai wudhunya.E. Cara Mengkafani JenazahI. PENDAHULUANSesudah mayit di mandikan, maka cawatnya dipasang (ukuran cawat adalah 1 meter dari pemotongan sisa baju).2. UKURAN PEMOTONGAN KAIN KAFANPanjang kain kafan ± 15,5 meter, dengan potongan kain sebagai berikut :a. Kafan 2 lapis dengan panjang @ 2,5 m X lebar kain + 0,5 m lebar potong kain. Total 7,5 meterb. Baju dengan panjang 2,5 meter, diambil 2/3 dari lebar. Sisanya 1/3 untuk sorban. Total 2,5 meterc. 1,5 meter untuk lengan baju, 2/3 dari lebar untuk baju. Sisanya 1/3 untuk anak baju. Total 1,5 meterd. 1 meter untuk sal atau selendang. Total 1 metere. 1,5 meter untuk ikat pinggang (1/3 dari lebar). Total 1,5 meter
3. CARA MENGKAFANI JENAZAHMula-mula kita siapkan segala sesuatunya yang diper-lukan untuk mengkafani mayat (kain kafan dan lain-lain). Kemudian sobek / koyak bagian tepi kain kafan tersebut, setelah itu potong kain kafan tersebut (sesuaikan dengan ukuran pemotongan kain kafan sebagaimana telah disebut pada huruf B di atas). Hal tersebut hendaklah disesuaikan dengan kondisi badan / fisik si mayat.Seterusnya buatlah bajunya, kain sarungnya, cawatnya serta sorban bagi mayat laki-laki atau kerudung bagi mayat perempuan. Disunnatkan pada pertama kali menyobek kain tersebut dengan membaca :(Allahummaj’al libaasahu (ha) ‘anil kariim wa adkhilhu (ha) Ya Allahu ta’ala birahmatikal Jannata yaa arhamarraahimiin.Adapun cara meletakkan kain kafan itu ialah dibujurkan ke arah kiblat (letak kaki mayat ke arah qiblat) jika tempat mengizinkan. Susunannya adalah sebagai berikut :a. Letakkan tali kain kafan sebanyak 5 helaib. Kain kafan pertama dibentangkanc. Ikat pinggang mayat dibentangkand. Kain kafan kedua dibentangkane. Selendang / sal dipasangf. Sorban dibentangkan di atas sal / selendang


g. Baju dibentangkanh. Anak baju dibentangkan di atas bajui. Kain sarung dibentangkan di atas bajuj. Kapas ditebarkan di atas baju dan kain sarungk. Selasih serbuk cendana dan wewangian ditabur di atas kapasHendaknyalah mendahulukan kain yang kanan dari pada kain yang kiriUntuk DiketahuiSebenarnya mengkafani mayat itu sama saja, yaitu dengan maksud membungkus kain itu ke seluruh tubuh si mayat sehingga tidak ada lagi bagian tubuh yang terbuka. Bagi mayat laki-laki diutamakan lima lapis kain selain gamis (baju dan sorban) dan bagi mayat perempuan lima lapis kain selain telekung / kerudung dan celana cawatnya . namun demikian atas ketiadaan, cukup sekedar menutupi seluruh anggota tubuhnya saja.
F. CARA MENSHOLATKAN JENAZAH
1. Sebelum sholat jenazah berlangsung hendaknya imam mengatur barisan (saf) makmum, Makmum berdiri di belakang imam bersaf-saf. Lebih banyak jemaahnya lebih utama. Apabila jemaahnya sedikit usahakan buat tiga saf.2. Jika jenazahnya itu laki-laki, maka imam berdiri di arah kepala jenazah. Lihat gambar berikut ini3. Jika jenazahnya itu perempuan, maka imam berdiri di arah perut jenazah. Lihat gambar berikut ini :4. Niat, yakni berniat mendirikan shalat jenazah karena AllahAdapun lafadz niat shalat jenazah laki-laki adalah sebagai berikut :(Ushollii ‘Alaa Haadzal mayyiti Arba’a Takbiirootin Fardlol lillahita’aalaa)Artinya : Aku niat sholat atas mayat ini empat takbir fardu (kifayah) karena Allah Ta’ala.Jika jenazahnya itu perempuan , lafadz niatnya adalah :(Ushollii ‘Alaa Hadzal mayyiti Arba’a Takbiirootin Fardlol lillahita’aalaa)Artinya : Aku niat sholat atas mayat ini empat takbir fardu (kifayah) karena Allah Ta’ala.Setelah mengucapkan lafadz niat sholat jenazah tersebut, kemudian membaca takbir pertama yaitu :“Allahu Akbar”Setelah mengucapkan takbir membaca surah Al-Fatihah,Bismillaahir Rahmanir RahimAlhamdu lillahi Robbil “alamin. Arrahmanir Rohim. Maliki yaumiddin. Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in. Idninas shirathal mustaqim. Shirathalladzina an’amta alaihim ghairil maghdubi ‘alaihim waladh dhallien. AminArtinya :Dengan nama Allah yang maha Pengasih lahi maha penyayang. Segala puji-pujian itu tertentu bagi Allah. Tuhan yang memiliki sekalian alam. Yang pengasih lagi penyayang. Raja yang memiliki hari pembalasan (hari qiamat). Kepada Engkaulah (han) kami menyembah dan kepada Engkaulah (Tuhan) kami mohon pertolongan. Tunjukkanlah (pimpinlah) kami ke jalan yang lurus (Benar) yaitu jalan yang telah Engkau beri nikmat atas diri mereka itu (para Nabi dan para Rasul) bukan jalan yang dimurkai atas mereka (Yahudi) dan bukan pula jalan mereka yang telah sesat. Perkenankanlah permohonan kami ini.Setelah selesai membaca surah Al-Fatihah dilanjutkan dengan bertakbir (takbir kedua) dan membaca sholawat Nabi Muhammad SAW, yaitu :(Allaahumma Sholli‘alaa Muhammad Wa’alaa aali Muhammad)


Atau boleh membaca :(Allaahumma Sholli Alla Sayyidinaa Muhammad Wa’alaa aali Sayyidinaa Muhammad)Artinya : Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada yang mulia Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya.Kemudian membaca takbir ketiga dan dilanjutkan dengan membaca do’a untuk mayat, yaitu :(Allahummaghfirla-huu Warhamhuu Waafihii Wa’fuanhu Waakrim Nuzulahuu Wawassi’ Madkholahuu Waj’alil Jannata Matswahuu)Artinya : Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat padanya, berilah maaf kepadanya, muliakanlah kedatangannya, luaskanlah tempatnya dan jadikanlah surga tempat kembalinya.Kemudian membaca takbir keempat, kemudian dilanjutkan dengan membaca do’a :(Allahumma Laa Tahrimnaa Ajrohuu Walaa Taftinnaa Ba’dahuu Wagfir)Artinya : Ya Allah, janganlah Engkau rugikan kami dari pada ganjarannya dan janganlah Engkau beri kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.Sehabis mengucapkan do’a, kemudian mengucapkan “SALAM” : (Assalaamu ‘ alaikum Warohmatullohi Wabaro kaatuh)Artinya : Selamat sejahtera atas kamu sekalian, semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan.PENJELASAN :
a. Jika mayatnya itu laki-laki, memakai domirhu ( ), misalnya “Allaahummagfirlahuu”b. Jika mayatnya itu perempuan domirnya “Hu” diganti dengan “ha” ( ), misalnya “Allaahummagfirlahaa” c. Jika mayatnya itu 2 orang, maka domirnya memakai “Huma” ( ), misalnya :“Allaahummagfir Lahumaa”d. Jika mayatnya itu banyak, maka domirnya memakai ”Hum” ( ) misalnya : “Allahumagfirlahum “
G. MENGANTARKAN JENAZAH KE KUBUR
Sesudah mayat dimandikan, dikafani dan isholati, selanjutnya jenazah dibawa ke kubur. Sebelum jenazah diberangkatkan ke tempat pemakaman, hendaklah diadakan sekedar upacara keberangkatan jenazah dengan secara singkat. Pemberi acara itu bisa dilakukan oleh pemuka agama (Kyai) atau orang yang dianggap mampu untuk memberikan ceramahnya. Dalam upacara yang isinya antara lain :1. Menyampaikan ucapan terima kasih kepada hadirin atas ikut serta duka citanya.2. Memintakan ma’af kepada para hadirin dan handaitaulan atas segala kesalahan dan kekhilafannya yang mungkin diperbuat oleh si mayat semasa hidupnya.3. Memberitahukan kepada para hadirin dan handaitaulan yang mungkin si jenazah mempunyai hubungan hutang piutang atau pinjam meminjam dan sebagainya, maka hak dan kewajiban si mayat beralih kepada orang-orang yang menjadi ahli warisnya.4. Mau’idhoh Hasanah yang ada hubungannya dengan kematian seseorang (Tazkirul Mauut).Pada umumnya pelaksanaan upacara pelepasan jenazah ini dilakukan di muka rumah duka sewaktu hendak diberangkatkan ke masjid untuk mensholati jenazah.Setelah upacara selesai kemudian hendaknya dipikul pada empat penjuru berjalan membawa jenazah dengan segera.Maksud segera diberangkatkan menurut sabda Nabi Muhammad SAW :Artinya : Dari Abi Huroiroh, r.a. Rasulullah S.A.W. : “Hendaklah kamu segera bawa jenazah itu, karena jika ia orang shaleh, maka kamu melekaskannya kepada kebaikan, tetapi jika ia bukan orang shalelh maka supaya kejahatannya itu lekas terbuang dari tanggungannya. (H.R. Jama’ah)


Jika seseorang sedang melihat jenazah lewat hendaklah ia memberi penghormatan dengan cara berdiri sambil mengucap-kan do’a : (Subhaanal Hayyil Ladzii Laa Yamuutu)Artinya : Maha suci zat yang maha hidup dan tidak akan mati.Dalam penghormatan terhadap jenazah tersebut tidak pan-dang jenazah tersebut muslim atau non muslim, karena hal ini sesuai dengan hadits nabi Muhammad SAW yang menyebutkan :Artinya : dari Jabir, r.a. katanya Telah lewat di depan kami jenazah, lalu Nabi Muhammad SAW berdiri, kamipun berdiri pula, lantas kami katakan kepada beliau bahwa jenazah itu, jenazah Yahudi, Beliau bersabda : Apabila kamu melihat jenazah maka hendaklah kamu berdiri. (H.R. Bukhari)
H. CARA MENGUBURKAN JENAZAH
Mengubur mayat hukumnya adalah fardu kifayah bagi orang yang masih hidup, mayat sebelum dimakamkan maka perlu diperhatikan tata cara menguburnya, yaitu antara lain :1. Cara Membuat Liang Kubur- jenazah sebelum diantar ke kubur, liang kubur harus sudah siap- Ukuran liang kubur :a. Dalamnya kadar orang berdiri tegak dan dilebihi satu hasta (± 50 s/d 75 centi meter)b. Lebarnya kira-kira 1 meterc. Panjangnya : sepanjang jenazah dan ditambah 0,5 meter.2. Bentuk Liang KuburLiang kubur dengan ukuran sebagaimana telah diuraikan sebelumnya dan nhendaknya di tengahnya diberi semacam parit seluas dan sepanjang mayat serta diberi dampingan papan atau lainnya pada kedua sampingnya serta diberi semacam atap terbuat dari papan atau bambu. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai terbau dan tidak mudah terbongkar oleh binatang buas. Selain itu juga untuk menjaga kehormatan mayat dan kesehatan orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut.3. Cara Mengubur Jenazaha. Ada tiga (3) orang (umumnya kerabat dekat jenazah) turun terlebih dahulu ke dalam liang kubur untukmenerima mayat :- Seorang menerima bagian kepala mayat- Seorang menerima bagian perut mayat- Seorang lagi menerima bagian kaki mayat
b. Ada beberapa orang di atas mengangkat mayat dengan pelan-pelan dari tempat pengangkutan mayat (kerendo) kemudian diterimakan kepada tiga orang yang sudah siap menerima (berada dalam liang kubur).c. Sewaktu akan memasukkan jenazah ke dalam liang kubur hendaknya yang memasukkan jenazah itu membaca do’a :“Bismillaahi Wa’alaa Milati Rosuulillahi”Artinya : Denganmenyebut ama Allah dan atas tetapnya agama Rosulullah
d. Posisi Mayat Dalam Kubur :
1. Setelah jenazah/mayat berada dalam liang kubur hendaknya mayat dimiringkan menghadap ke kiblat.2. Tali-tali yang ada terutama pada bagian kepala dan kaki supaya dilepas dengan maksud agar wajah dan kaki, sebab dua anggota tubuh tersebut adalah bagian dari anggota sujud dalam melaksanakan sholat.3. Dibagian kepala, punggung dan belakang paha hendaknya diberi penyangga atau gelu yaitu terbuat dari tanah yang dibulatkan (ganjal istilah bahasa jawa), agar posisi mayat dalam keadaan tetap miring. Lazimnya disiapkan sebanyak minimal 7 (tujuh) buah gelu. Sewaktu pembuatan gelu seyogyanya memba ca surat Al-Qodr.Bagian-bagian peletakan glu adalah :(a) Tumit(b) Pelipatan lutut(c) Pinggang(d) Punggung(e) Leher(f) Tengkuk(g) Di belakang kepala.


4. Pipi atau hidung mayat yang kanan harus menem-pel pada tanah, oleh karena itu wajah mayat hendaknya terbuka. 5. Setelah posisi mayat sudah tertib dan sebelum liang kubur ditutup dengan papan atau bambu atau dengan benda lainnya, mayat agar diadzani dan diiqomatkan.6. Setelah diadzani dan diiqomatkan.selanjutnya liang kubur dipasang kayu dako sebanyak 3 buah dan diletakkan di atasnya papan dako.sebagai penutup, kemudian baru ditimbuni dengan tanah secara perlahan-lahan.7. Timbunan tanah itu agar diratakan dan diberi nisan atau tanda, dalam memberi nisan dapat menggunakan dengan batu atau kayu atau lainnya.8. Setelah selesai semuanya, seyogyanya si mayat dibacakan talqin oleh pemuka agama.Sabda Nabi Muhammad SAW :Artinya : Dari Usman, Nabi Muhammad SAW apabila selesai dari menguburkan mayat, beliau selalu berdiri lalu bersabda : Mintakan ampun saudaramu dan mintakanlah olehmu agar ia diberi ketetapan iman karena sekara ia sedang ditanyai.(H.R. Abu Daud dan Hakim).TALQINTerhadap mayat yang baru dikubur, harap dibacakan Talqin (Al-Adzkar). Talqin yang berlaku di kalangan Ahlus Sunnah adalah sebagai berikut :Saudara-saudara yang berbahagiaAllah Subhaanahuu Wata’aalaa telah berfirman di dalam Al-Qur.an yang artinya :Semua mahluk yang mempunyai roh akan merasakan mati, dan manusia setelah mati kelak (Hari Kiamat) akan memerima balasan setimpal dengan amal perbuatannya ketika di dunia, maka barang siapa berbuat buruk akan dibalas masuk neraka dan barang siapa berbuat baik akan dibalas masuk surga.Saudara mayit .......... pegang teguhlah janjimu yaitu ucapan Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rosuulullaah.Ketahuilah bahwa surga itu benar-benar ada, nerakapun juga ada dan sesungguhnya mati itu benar-benar terjadi dan alam barzah itupun benar-benar ada sebagaimana yang sedang engkau alami.Dan demikian pula pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir pun demikian juga, yang lain-lain seperti khisab, mizan bangkit dari kubur, telaga, pengadilan akhirat, syafaat, sirotol mustaqim, kumpulnya manusia di padang makshsyar, dan kesempatan bagi orang-orang mukmin itu menyaksikan keagungan Allah adalah benar-benar nyata dan ada.Saudara mayit ............ mulai hari ini kamu bermukim di alam barzah ini, ini semua merupakan realitanya firman Allah.Dari bumi, kami ciptakan kamu, dan di dalamnya kami mengembalikan kamu, dan dari padanya kami mengeluar-kan kamu sekali lagi.Sebentar lagi kamu akan kedatangan malaikat Munkar dan Nakir perlu akan menanyakan kamu.Pertanyaannya demikian :


Hai manusia siapa Tuhan mu ?, siapa Nabi mu ?, apa Kitab Suci mu, apa agama mu ? dimana Kiblat mu ?, dan siapa saudara mu ?Maka jawablah :


Allah itu Tuhan ku, Nabi Muhammad S.A.W. Nabi ku, Al-Qur’an Kitab suci ku, Islam agama ku, Ka’bah Kiblat ku, dan seluruh orang Islam baik laki-laki maupun perempuan saudara ku.


MEMBERI MAKAN AHLI MAYAT DAN SEBALIKNYA
Memberi makanan kepada keluarga yang baru saja mendapat musibah karena kematian anggota keluarganya, dalam ajaran agama Islam sungguh dianjurkan (Sunnah muakad). Sabda Nabi Muhammad S.A.W. :
Artinya : Dari Abdullah bin Ja’far, katanya : Ketika datang kabar meninggalnya Ja’far mati terbunuh, Rasulullah S.A.W. bersabda : “Buatlah olehmu makanan untuk keluarga Ja’far karena mereka sedang menderita kesusahan”. (H.R. Lima ahli hadits terkecuali An-Nasal))Namun pada kenyataannya yang terjadi sekarang ini malah sebaliknya dan dianggap lazim, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam, semua teman, keluarga, tetangga dan sahabat-sahabat yang terdekat beramai-ramai berkumpul di rumah ahli mayat (rumah duka) untuk makan makanan dan ahli mayat terpaksa menyediakan makanan yang bermacam-macam, sehingga oleh ahlul musibah kadang-kadang mencari hutangan kesana kemari untuk memberi jamuan atau hidangan kepada mereka yang berkunjung.Dalam hal demikian itu oleh ajaran Islam melarangnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad S.A.W. :
Artinya : Dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali katanya : “Berkumpul-kumpul pada ahli mayat serta membuat makan-makanan sesudah mayat dikuburkan, kami anggap sebahagian meratap”. (H.R. Ahmad & Ibnu Majah)Hadits tersebut memberi pengertian bahwa memberi makan-makanan kepada para pengunjung oleh keluarga yang baru mendapat musibah hukumnya sama dengan meratap, sedangkan meratap setelah ditinggal mati oleh salah seorang anggota keluaraganya hukumnya adalah haram. Dengan demikian bagi orang-orang yang berakal sehat hendaklah dijauhi dan dihindarkan sungguh-sungguh, agar kita terlepas dari hukum haram tersebut.

Kisah di Zaman Nabi
seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka cuba membunuh ular itu.
Apabila mereka coba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, mengapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat.”
Lalu para sahabat bertanya, “Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?” Berkata ular, “Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya;
1. Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang2. Dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya.3. Dia tidak mahu mendengar nasihat para ulama
KISAH PADA ZAMAN NABI MUSA AS.
Ada sebuah kisah untuk renungan bersama,cerita ini terjadi pada zaman Nabi Musa A.S, di dalam sebuah kampung , ada seorang pemuda yang suka mencuri, kerjanya hari-hari mencuri , dia tidak tahu pekerjaan apa yang sesuai untuknya selain mencuri, tetapi selepas dia mencuri dia merintih dengan Tuhan "apalah aku ni Tuhan, asyik mencuri sahaja kerja aku,aku tidak tahu hendak buat kerja lain , yang aku tahu mencuri sahaja" . Begitulah yang terdetik di dalam hati si pencuri ini , hatinya selalu bermain tarik tali dengan nafsunya .

Pada suatu hari , ketika pemuda itu berjalan-jalan dia ternampak Nabi Musa dari jarak yang yang jauh, dia ingin berjumpa dengan Nabi Musa , tapi hatinya sangat malu dengan Nabi Musa " itu Nabi Musa , seorang Nabi, tapi aku seorang pencuri, takkanlah dia hendak bertemu denganku" . Dalam masa yang sama juga ada seorang tua yang kuat Ibadahnya , pagi petang siang malam dia sibuk dengan ibadahnya . Si tua itu cuba mendekati Nabi Musa . Terlihatlah pemuda itu lalu dia berkata perlahan " kalau orang tua itu boleh bertemu Nabi Musa , masakan aku tidak" tapi bila dihampiri si tua itu, dia cuba mempercepatkan langkah kakinya seolah-olah tidak mahu hampir dengan si pemuda pencuri ini , makin pencuri ini hampir dengannya , makin laju meninggalkan pencuri itu.
Si pencuri berasa hairan dengan si tua itu " kenapalah sombong sungguh si tua itu" . Si tua itu mengtahui pemuda itu pencuri , lalu menghidarinya . Sampailah si tua itu bersama si pencuri itu serentak di hadapan Nabi Musa A.S , lantas Nabi Musa terus berkata " Kamu si pencuri , dosa-dosa kamu Allah sudah ampunkan, dan kamu si ahli Ibadah , Ibadah kamu dari dulu sampai sekarang Allah tolak" Si pencuri ini gembiralah bila dikhabarkan demikian, si tua ahli abid itu lemah lututlah mendengar kata-kata Nabi Musa , akhirnya kedua-duanya bertaubat ,dan meninggalkan dosa-dosa yang lampau.

Kesimpulan yang dapat diambil dari cerita ini ialah Rahmat Tuhan amatlah luas , RahmatNya itu mengatasi kemurkaanNya , Si pencuri buat dosa dalam masa yang sama dia membawa rasa-rasa hamba iaitu rasa berdosa,rasa bersalah, rasa lemah,hina, dina tapi si ahli Ibadah dalam dia beribadah dia tidak bawa rasa-rasa hamba,bahkan ibadah dia itu nenebalkan lagi mazmumah dia , dia anggap imanyalah yang hebat, iman orang lain iman katak-katak je , rupanya dia tertipu dalam beribadah , dia rasa selamat apabila dia beribadah, sedangkan tujuan utama ibadah ialah menebalkan rasa-rasa hamba , dan menajamkan rasa-rasa bertuhan .

Begitulah kesimpulan dari kisah ini , ia berlaku pada zaman Nabi Musa A.S tapi tidak mustahil ia boleh berlaku pada zaman ini ? Apabila selesai sembahyang adakah kita merenung kembali adakah sembahyang kita sudah cukup untuk dipersembahkan kepada Tuhan? Bila kita berkhidmat dengan manusia , adakah perasaan kita rasa malu dan takut dengan Tuhan,malu kerana Tuhan masih beri kita berkhidmat dengan manusia sedangkan kita manusia berdosa , takut kerana Kebaikan itu adalah kepunyaan Tuhan , belum tentu Tuhan terima apa yang kita lakukan . Rasa-rasa inilah yang perlu kita bawa dalam kita beribadah, berdakwah dan berjuang , moga dapat diambil manfaat dari cerita ini.