Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Khuthbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khuthbah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2011

Budaya Saling Memberi Nasehat

Budaya Saling Memberi Nasehat

الحمد لله الذي فتح لعباده طريق الفلاح وأرشدهم إلى ما فيه الخير و البر و التقى وأمرهم بالتناصح على الحق وجعل أمرهم شورى بينهم ليتحقق لهم الفوز والنجاة . وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده والصلاة و السلام على محمد عَلى حَبِْيبِنا و شَفِيْعِنا مُحمَّدٍ سَيِّدِ المُرْسلين و إمامِ المهتَدين و قائِدِ المجاهدين وعلى آله وصحبه أجمعين.أما بعد،، فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Sering kita dengar dari keterangan dan penjelasan para ulama, para kiayi, ustazd, dan muballigh bahwa tugas paling penting dari para Rasul adalah menyampaikan risalah Allah swt. kepada ummat manusia. Urgensi isi risalah para rasul itu sama, yaitu “agar manusia menyembah hanya kepada Allah dan mengingkari semua bentuk sesembahan selain Allah (thaghut).”
Ternyata selain tugas mulia dan suci ini, para nabi banyak disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai pemberi nasehat. Hal ini disebabkan karena manusia tidak cukup hanya menerima risalah dakwah Islam saja. Akan tetapi juga membutuhkan pemberi nasehat dan peringatan dalam hidupnya, karena manusia adalah mahluk pelupa dan pelalai, bahkan makhluk yang banyak berbuat kesalahan. Oleh karena itu, Allah swt. menyatakan:
Wal ashri, innal insaana lafii khusrin, illalladziina aamanuu wa ‘amilush-shaalihaati watawaa shaubil haqqi watawaa shaubish-shabri.

“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Asr)
Semangat surat Al-Asr ini menjelaskan keharusan setiap orang untuk beriman dan beramal sholeh, jika ingin selamat baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan iman dan amal sholeh saja ternyata masih merugi, sebelum menyempurnakannnya dengan semangat saling memberi nasehat dan bersabar dalam mempertahankan iman, meningkatkan amal shaleh, menegakkan kebenaran dalam menjalankan kehidupan ini.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Sedemikian pentingnya prinsip “saling memberi nasehat” dalam ajaran Islam, maka setiap manusia pasti membutuhkannya, siapapun, kapanpun, dan di manapun dia hidup. Layaklah kalau dikatakan bahwa “saling memberi menasihat “ adalah sebagai sebuah keniscayaan yang harus ada pada setiap muslim.
Namun sangatlah disayangkan jika ada di antara kita yang menganggap sepele soal nasehat ini. Atau merasa dirinya sudah cukup, sudah pintar, sudah berpengalaman sehing ga tidak lagi butuh yang namanya nasehat dari orang lain. Padahal dengan menerima nase hat dari orang lain pertanda adanya kejujuran, kerendahan hati, keterbukaan dan menun jukkan kelebihan pada orang tersebut.
Kalimat “nasaha” yang artinya nasehat, makna dasarnya adalah menjahit atau menambal dari pakaian yang sobek atau berlubang. Maka orang yang menerima nasehat artinya orang tersebut siap untuk ditutupi kekeruangan, kesalahan, dan aib yang ada pada dirinya. Sedangkan orang yang tidak mau menerima nasehat menunjukkan adanya sifat kesombongan, keangkuhan, dan ketertutupan pada orang tersebut.
Saking sedemikian pentingnya nasehat ini, Nabi saw. bersabda:
عن أَبي رُقَيَّةَ تَمِيم بن أوس الداريِّ - رضي الله عنه - : أنَّ النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : (( الدِّينُ النَّصِيحةُ )) قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : (( لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ((2)) )) رواه مسلم
Dari Abi Amer atau Abi Amrah Abdullah, ia berkata, Nabi saw. bersabda, “Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin umat Islam dan orang-orang biasa.” (HR. Muslim)
Dari hadist di atas dapat kita pahami bahwa memberi dan menerima nasehat adalah berlaku untuk manusia, siapapun dia, apapun kedudukan dan jabatannya, tanpa kecuali.
Hadist di atas juga menjelaskan kepada kita bahwa agama akan tegak manakala tegak pula sendi-sendinya. Sendi-sendi itu adalah saling menasehati dan saling mengingatkan antara sesama muslim dalam keimanan kepada Allah, keimanan kepada Rasul, dan keimanan kepada Kitab-Nya. Artinya, agar kita selalu berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dari Allah dan Kitab-Nya dan mentauladani sunah-sunah Rasul-Nya.
Sedangkan bentuk nasehat kepada para pemimpin adalah ketaatan dan dukungan kita sebagai rakyat kepada para pemimpin Islam dalam menegakkan kebenaran, mengingatkan mereka jika lalai dan menyimpang dengan cara yang bijak dan kelembutan, meluruskan mereka jika menyimpang dan salah. Sedangkan nasehat untuk orang-orang biasa adalah dengan memberi kasih sayang kepada mereka, memperhatikan kepentingan hajat mereka, menjauhkan hal yang merugikan mereka dan sebagainya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Di dalam Al-Qur’an, Allah swt. mengisahkan tentang bagainama Nabi Musa a.s., seorang nabi dan rasul yang ternyata dapat menerima nasehat dari salah seorang kaumnya.
wa jaa-a rajulun min aqshal madinati yas’aa, qaala yaa muusaa innal mala-a ya’tamiruuna bika liyaqtuluuka, fakhruj innii laka minan nashihiin. Fakharaja minhaa khaa-ifan yataraqqabu, qaala rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin.

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: Ya Tuhanku selamatkanlah aku dari orang-orang yang dzalim itu.” (QS. Al-Qashash: 20-21)
Lalu bagaimana dengan kita yang orang biasa yang bukan Nabi dan Rasul? Sudah barang tentu sangatlah membutuhkan nasehat. Kita senantiasa membutuhkan nasehat dari orang lain. Demikian juga harus bersedia memberi nasehat kepada orang lain yang memohon nasehat kepada kita.
وعن أَبي هريرة - رضي الله عنه - : أنَّ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : وفي رواية لمسلم : (( حَقُّ المُسْلِم عَلَى المُسْلِم ستٌّ : إِذَا لَقيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيهِ ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأجبْهُ ، وإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ ، وإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ الله فَشَمِّتْهُ ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ )) .
“Hak seorang muslim pada muslim lainnya ada enam: jika berjumpa hendaklah memberi salam; jika mengundang dalam sebuah acara, maka datangilah undangannya; bila dimintai nasehat, maka nasehatilah ia; jika memuji Allah dalam bersin, maka doakanlah; jika sakit, jenguklah ia; dan jika meninggal dunia, maka iringilah ke kuburnya.” (HR. Muslim)
Dengan saling menasehati antara kita, maka akan banyak kita peroleh hikmah dan manfaat dalam kehidupan kita. Akan banyak kita temukan solusi dari berbagai persoalan, baik dalam skala pribadi, keluarga, masyarakat bangsa bahkan Negara.
Karenanya nasehat itu sangatlah diperlukan untuk menutupi kekurangan dan aib yang ada di antara kita. Karena nasehat itu dapat memberi keuntungan dan keselamatan bagi yang ikhlas menerima dan menjalankannya. Karena saling menasehati itu dapat melunakkan hati dan mendekatkan hubungan antara kita. Karena satu sama lain di antara kita saling membutuhkannya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Saling menasehati antara sesama muslim terasa semakin kita perlukan, terutama ketika tersebar upaya menfitnah adu domba antara sesama muslim yang datang dari orang-orang kafir, munafik, dan orang-orang fasik yang ingin melemahkan umat Islam sebagai penduduk terbesar negeri ini. Mereka tidak senang terhadap kesatuan dan persatuan umat Islam.
Demikian pula ketika mendekati hari-hari menjelang pesta demokasi seperti pilkada, pilgub, pemilihan umum, dan sebagainya. Terkadang panasnya suhu politik menyulut sikap orang in-rasional (tidak rasional) dan emosi di tengah masa, bahkan dapat mengarah ke sikap anarkhis dan merusak.
Dalam situasi seperti itu, kita sering lupa akan makna ukhuwah Islam. Lupa tugas amar ma’ruf nahi mungkar dan lupa tugas dan kewajiban untuk saling menasehati dengan cara saling kasih sayang antara kita.
Semoga Allah swt. senantiasa memberikan pemahaman kepada kita akan arti pentingnya saling memberi nasehat antara kita. Semoga kita mampu memberi nasehat dan senang menerima nasehat dari siapapun, selama tidak bertentangan dengan nilai kebenaran dan kabaikan, sehingga kita dapat terhindarkan dari bahaya adu domba dan fitnah yang dapat memecah belah umat Islam, masyarakat, bangsa, dan Negara. Barakallu lii walakum….

Selasa, 15 November 2011

KHUTHBAH IDUL ADHA

KHUTHBAH IDUL ADHA

بسم الله الرحمن الرحيم
KETUNDUKAN KEPADA ALLAH ADALAH SYARAT MUTLAK MENJADI PANUTAN YANG BAIK
(Sebuah Refleksi Dari Kisah Hidup Nabi Ibrahim )
الله أكبر الله أكبر الله أكبر, الله أكبر الله أكبر الله أكبر, الله أكبر الله أكبر الله أكبر, لا إله إلا الله الله أكبر الله أكبر ولله الحمد،
الْحَمْدُ لله الْمَلِكِ الْعَلاَّمِ غَافِرِ الذَّنْبِ وَقاَبِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ الْعِقاَبِ ذِيْ الطَّوْلِ وَاْلإِنْعاَمِ أَنْزَلَ الْكِتاَبَ فَعَلَّمْ وَشَرَعَ فَأَحْكَمْ أَحْمَدُهُ عَلىَ جَزِيْلِ نِعَمِهِ وَأَشْكُرُهُ عَلىَ غَزِيْرِ فَضْلِهِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ نَبِيُّ الْهُدَى وَالرَّحْمََة خَيْرُ الْبَرِيَّة وَأَفْضَلُ الْبَشَرِيَّة صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَصْحِبِهِ وَمَنْ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْحَشْرِ وَالْمَعاَدِ.
أَيُهاَ النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ والنَّجْوَى فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ فَقَالَ :
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}
الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله الله أكبر الله أكبر ولله الحمد،
Kaum Muslimin hafhizhakumullahu, lantunan takbir yang dibarengi rasa syukur seperti di pagi hari ini terasa begitu indah dan nikmat, hari raya yang bahagia bagi segenap kaum muslimin di manapun mereka berada. Lantunan tahmid dan tahlil membumbung ke angkasa menembus cakrawala mengingatkan akan hakikat diri dan curahan nikmat tiada hingga, Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilaaha Illal Laahu wallahu Akbar Allahu Akbar walillahil Hamd.
Ma’asyiral muslimin hafhizhakumullahu, Nabiyullah Ibrahim adalah tokoh sentral yang selalu dikenang di setiap Iedul Adha dan beliau patut untuk itu dari pengorbanan yang luar biasa dalam ketundukan kepada Allah yang berwujud pada ketaatan agung tidak tertandingi mulai dari hijrah hingga keikhlasan mengorbankan puteranya dalam peristiwa penyembelihan yang berakhir dengan syariat berkurban hingga saat ini. Beliau dipanuti karena kesempurnaannya sebagai hamba Allah  dalam segala hal, di dalam al-Qur’an surah an-Nahl (16): 120, Allah berfirman:
•   •        
120. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif[843]. dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),
[843] Hanif Maksudnya: seorang yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya.

{إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ}
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif, dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)”.
Di samping sebagai Rasul utusan Allah  yang sempurna menjalankan tugas berat tersebut, beliau dalam kehidupan kemanusiaannyapun berhasil mendidik istri dan keturunan beliau berjalan di atas jalan Allah . Di dalam Qs. al-Baqarah (02): 132
}وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ{
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.
Kaum Muslimin hafhizhakumullahu, kunci kesempurnaan Khalilullah (Kekasih Allah ) Ibrahim  dalam ketundukan kepada Rabbnya adalah rasa tsiqah (yakin) beliau kepada segala perintah-perintahNya bahwa di dalamnya pasti terkandung maslahat nampak atau tidak, saat ini atau di kemudian hari. Rasa tsiqah ini berwujud iman dan yakin yang senantiasa memenuhi relung hati, lisan dan perbuatan beliau sehingga kalimat yang keluar di saat datang perintah adalah sebagaimana firman Allah  dalam Qs. al-Baqarah (02):131,
{إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ}
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd
Kaum Muslimin Rahimakumullah, dari sifat Nabiyullah Ibrahim  di atas setidaknya bagi kita untuk zaman seperti sekarang ini membutuhkan dua hal penting:
1. Rasa tsiqah (yakin) kepada ketetapan Allah  yang menghasilkan keimanan nan kuat akan segala janjiNya  berupa kebahagiaan bagi yang taat dan tunduk serta kebinasaan bagi yang membenci, menolak atau menggantinya.
Allah  berfirman dalam Qs. Muhammad (47): 9
{وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ 0
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ}
“Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur'an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka”.
Di dalam ayat lain Qs. Thaha (20): 75-76, Allah  berfirman:
{وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلا 0 جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى}
“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga `Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan)”.

Kaum Muslimin yang berbahagia, syariat Allah  bukanlah untuk diperdebatkan atau dipertentangkan apalagi dijadikan sebagai bahan pooling pendapat untuk disetujui atau tidak, ia adalah ketetapan yang mutlak harus diterima sebab datangnya adalah dari Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui segala-galanya, Ialah satu-satunya yang mengetahui mashlahat dan mudharat bagi umat manusia, ketetapanNya penuh keadilan, hukum-hukumNya penuh kebijakan, tidaklah Ia ditanya tentang perbuatanNya sebaliknya umat manusialah yang berhak untuk itu.
Merubah satu dari ketetapan Allah , atau membenci apalagi sampai menolaknya dengan alasan apapun adalah bentuk-bentuk kekufuran yang pelakunya terancam murtad dari agama Islam, sebaliknya menerima hukum-hukumNya adalah syarat mutlak benarnya iman seseorang sebagaimana yang tersebut di dalam Qs. an-Nisaa (04): 65, Allah  berfirman:
{فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا}
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.
Saat ini tidak sedikit hukum Allah  yang diperdebatkan, ironisnya justru oleh orang yang kurang faham agama sehingga tidak jarang hukum-hukum tersebut ditolak hanya dengan alasan logika yang sangat pendek, sebutlah sebagai misal hukum poligami dan larangan mengucapkan selamat kepada orang kafir pada hari raya mereka yang ditentang oleh sebagian masyarakat kita dengan dalih tidak sesuai dengan keadaan zaman yang demokratis atau diskriminasi terhadap kaum wanita atau terkadang mengangkat dalil agama yang dipelintirkan tidak sesuai dengan maksud dan tujuannya diturunkan. Tidakkah orang-orang itu sadar bahwa yang mereka tentang adalah hukum Allah  bukan hukum buatan manusia ? Tidakkah lagi ada rasa takut dalam diri kita semua jika terang-terangan menolak hukumNya ? Jika Abu Bakar as-Shiddiq  saja berkata: “Langit manakah yang akan menaungiku, bumi manakah yang akan menerimaku jika aku berkata tentang al-Qur’an sesuatu yang tidak aku ketahui ?” Maka kita semua akan berkata apa melihat kelakuan sebagian umat kita seperti ini tanpa ada rasa takut kepada Allah  sedikitpun ? Kemanakah orang-orang beriman yang mengaku tunduk kepada Allah  dan senantiasa menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar ? Sadarlah wahai umat Islam dari segala musibah dan bencana yang menimpa kita selama ini bahwa ia adalah teguran Allah  akibat kelalaian dan keteledoran kita, bangkitlah dan katakan TIDAK kepada segala bentuk penentangan terhadap hukum-hukum syariat, nyata ataupun tersembunyi dengan mentakwil-takwilkannya.
{أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ}
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”.

2. Qudwah Shalihah atau panutan yang baik. Kita butuh kepada siapa yang bisa mewujudkan Islam hakiki dalam kehidupan sehari-harinya sebab tabiat setiap manusia memang adalah memanuti orang lain. Ia mewarisi dari Rasulullah  dan para shahabat beliau  sunnah yang suci dan menghidupkannya dalam perilaku lurus dan bersih, perbuatannya sesuai perkataannya, tegas dalam kebenaran dan sayang kepada pengusungnya.
Kaum muslimin yang berbahagia, setiap dari kita dapat menjadi panutan jika bisa menjaga perbuatan baik dan konsisten dalam menjalankan syariat Allah  sebagai bentuk ketundukan kepadaNya. Hal ini sebagaimana firman Allah  dalam Qs. al-Furqan (25): 74
{ وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا}
“Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Para mufassirin -di antaranya adalah Abdullah ibnu Abbas - berkata: “imam” artinya pemimpin yang menjadi panutan dalam kebaikan.
Krisis panutan saat ini begitu terasa bagi kita kaum muslimin, walau di antara kita tidak sedikit yang punya ilmu tentang Islam atau yang begitu hebat berbicara tentang agama, namun yang menghidupkan Islam dalam kehidupannya dari semua yang ada tersebut masih sangat sedikit, bahkan terkadang justru para tokoh yang disebut “pakar” atau “cendekia” itulah yang membuat kebingungan di tengah umat akibat perkataan dan perbuatannya yang berbeda-beda atau bertentangan. Padahal seorang qudwah adalah dia yang bukan saja memberikan keteduhan kepada umat karena wejangan dan nasihatnya yang senantiasa membawa mashlahat tapi juga ketaatannya kepada Allah  begitu besar karena rasa takut yang terpatri di dalam dadanya. Di dalam Qs. Fathir (35): 28, Allah  berfirman:
{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”.
Salah seorang tabi’in yaitu Said ibnu Jubair rahimahullah berkata: “rasa takut adalah yang menghalangi seseorang dari maksiat kepada Allah ”.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yang demikian itu adalah karena siapa yang pengetahuannya tentang Allah  lebih sempurna maka rasa takutnya kepada Allah  juga semakin tinggi”.
Saatnya problema panutan ini diatasi dengan mendidik diri dan keturunan kita untuk tunduk dan patuh kepada ketetapan Allah  dengan berislam yang utuh dan mendalam. Semoga Allah  menambahkan hidayahNya buat kita semua.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Kepada kaum muslimah, jagalah diri dan jangan terperdaya oleh tipu muslihat kaum syahwati. Simaklah firman Allah  sebagaimana yang terdapat dalam Qs. an-Nisa’ (04): 27
{وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلاً عَظِيمًا}
“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).”
Allah  mengajak anda ke syurga dengan jalan yang mudah yaitu dengan menerima sepenuh hati segala ketetapanNya dalam agama ini serta melaksanakan anjuran Rasulullah  dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad ibnu Hambal dari Abdurrahman ibnu Auf 
(( إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ ))
“Jika seorang wanita telah melaksanakan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga harga diri dan kemuliaan, serta taat kepada suaminya maka akan dikatakan buatnya masuklah ke dalam syurga dari pintu mana saja yang engkau mau.”
Tidak sedikit gerakan-gerakan feminis saat ini yang mengatas namakan perjuangan buat kaum wanita namun tidak diridhoi Allah  akibat penentangan mereka terhadap prinsip agama dan moral kaum muslimin, sadarlah bahwa hanya Islamlah satu-satunya sistem hidup yang memuliakan kaum wanita, jika anda mencari selain Islam maka justru kehidupan anda hanya akan menjadi bahan komoditas yang laku ketika masih segar namun dicampakkan setelah renta dan layu.
Buat para pemimpin negeri ini kami serukan untuk menjadikan syariat Allah  sebagai pedoman dalam negara sebab tiada keberuntungan ataupun kebahagiaan kecuali dengannya. Dengannya anda mengundang keridhaan Allah  Pencipta dan Penguasa alam semesta serta dengannya pula anda dapat memberikan kesejahteraan kepada umat dan masyarakat yang anda pimpin. Kami sadar bahwa memimpin negeri ini memang sulit namun dengan bantuan Allah  lalu kebersamaan kaum muslimin semua amanah dan kewajiban dapat diatasi insya Allah. Syariat Allah  adalah adil dan tidak diskriminatif dapat berlaku bagi semua umat manusia yang sadar akan eksistensi dirinya sebagai makhluk, maka tidak usah takut dan khawatir akan adanya penindasan terhadap kaum minoritas, toh dalam sejarah pun hal tersebut tidak pernah terjadi.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ketahuilah bahwa hari ini adalah hari suci, maka mari bersihkan diri kita dari segala kesyirikan dan dosa serta harta kita dengan bersedekah, juga mengikuti anjuran Allah  dan Rasulullah  untuk berkurban dengan menyembelih hewan kurban (udhiyah).
Hewan yang disembelih itu adalah berupa domba yang genap berusia 6 bulan, atau kambing yang genap setahun, atau sapi yang genap 2 tahun dengan syarat hewan kurban tersebut tidak memiliki cacat dan penyakit yang bisa berpengaruh pada daging, kwantitas maupun kwalitas (rasanya) misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku dan mulut.
Seekor sapi boleh disembelih untuk tujuh orang, adapun kambing ia hanya boleh untuk satu orang saja, kecuali berserikat dalam pahala maka dibolehkan pada semuanya tanpa batas. Sebaiknya si pemiliklah yang menyembelih hewan kurbannya, namun boleh saja diwakilkan kepada penjagal dengan syarat ia adalah seorang muslim yang menjaga shalatnya, tahu hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit ataupun daging, meskipun ia juga bisa mendapat bagian dari hewan tersebut bila ia berhak.
Bacaan sebelum menyembelih adalah:
بِسْمِ اللهِ والله أَكْبَر اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ ...
Lalu menyebut nama yang berkurban.
Hewan yang telah disembelih dapat dibagi tiga, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin, meskipun bila disedekahkan semua juga boleh. Waktu penyembelihan dimulai sejak usai shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya dan dimakruhkan menyembelih di malam hari. Nilai dari hewan kurban seseorang di sisi Allah bukanlah saja dari banyaknya daging dan darah yang dikucurkan namun lebih dari itu yang sampai kepada Allah  adalah ketaqwaan dan keikhlasannya, maka luruskanlah niat kita hanya mengharap balasan dariNya semata.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Akhirnya marilah bersama menundukkan hati dan jiwa kita kepada Allah Yang Maha Perkasa, menengadahkan tangan kita kepada Dia Yang Maha Melihat, meminta dan memohon belas kasih dariNya Yang Maha Mendengar dan Memberi,
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين ،
Ya Allah, Tuhan kami, kembali di hari suci ini kami menghadapkan wajah kami kepadaMu memohon belas kasih dan ampunanMu, kami sadar akan kesalahan dan kelalaian kami, nikmat dan anugerah yang banyak dariMu belumlah kami balas dengan penghambaan yang semestinya kepadaMu, bahkan dosa dan kekeliruan tidak pernah luput dari keseharian kami, Ya Allah, Tuhan kami, namun kamipun sadar dengan segala keyakinan bahwa kasihMu tak bertepi, ampunanMu tak terbatas ampunkanlah dosa dan kesalahan kami, curahkanlah belas kasihMu kepada kami.
Ya Allah, kedua ayah ibu kami yang masih hidup ataupun yang telah kembali kepadaMu adalah orang yang pertama kali berjasa kepada kami, memperkenalkan kami kepadaMu, merawat, mendidik dan membimbing kami dengan penuh kesabaran, tak jarang airmata mereka tumpah karena ulah kami, kami mengingat NabiMu pernah bersabda bahwa siapa yang tak mampu berterima kasih kepada sesama manusia tak akan mampu bersyukur kepadaMu, Ya Allah tak ada yang mampu kami berikan kepada kedua orang tua kami kecuali seuntai doa kepadaMu untuk mengampunkan kekhilafan dan kesalahan mereka, melimpahkan kasih sayang dan rahmat kepada mereka, ampunkan mereka yang telah wafat, bimbing dan tunjuki mereka yang masih bersama kami dan jadikanlah kami orang yang mampu berbakti kepada mereka sesuai tuntunanMu, Engkaulah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.
Ya Allah, di sini di hari ini kami bergembira, hati kami dipenuhi rasa suka dan cita, namun sepenggal hati kami ini pula diselimuti duka dan kesedihan bila mengingat ada sebagian saudara kami di sana tak mampu seperti kami merayakan hari ini, mereka terusir dari tanah tempat tinggal mereka, terkekang oleh tirani jahat yang tak pernah rela akan agamaMu, terintimidasi oleh kekuatan zhalim yang gemar keangkuhan dan kepongahan. Ya Allah, masukkan rasa gembira ke dalam hati saudara-saudara kami sebagaimana yang Engkau berikan kepada kami walaupun hanya setetes, sampaikan kepada mereka bahwa sukacita kami hari ini dikabungi duka nestapa mereka, Ya Allah hanya kepadaMu kami adukan besarnya kezhaliman musuh-musuhMu atas saudara-saudara kami, balaslah mereka dengan balasan setimpal, hancurkan kekuatan mereka, timpakan atas mereka apa yang telah mereka timpakan atas kami, Ya Allah Engkaulah satu – satunya Penolong dan Pelindung kami.
Ya Allah, di hari ini kami bertekad untuk tunduk dan patuh hanya kepadaMu, menekuni agamaMu dan mewarnai hidup kami dengannya, Ya Allah selamatkanlah kami semua dari segala kejahatan dan kecelakaan, janganlah Engkau timpakan atas kami musibah dari perbuatan orang-orang zhalim di antara kami, dan anugerahkanlah buat kami panutan yang baik dari kalangan kami sendiri, Ya Allah kamilah hambaMu yang sangat butuh akan belas dariMu.
Ya Allah kabulkanlah doa kami, penuhi permintaan kami ini, kamilah hambaMu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Melihat, Engkaulah Penguasa Satu-satunya Yang Haq, Engkaulah Sebaik-baik harapan.
رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ، رَبَّناَ آتِناَ فِي الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ، اللَّهُمَّ رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْناَ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ، سُبْحاَنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُهُ الظَّالِمُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلىَ الُْمْرسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وصَلِّ اللَّهُمَّ عَلىَ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

Senin, 04 April 2011

PENGAJIAN DAN KREATIFITAS SENI ITU PERLU




1. JUDUL LUKISAN : Al-‘Ashr : 1-3

Koleksi Pribadi di Jl. Tumapel II/ 51 Singosari

Artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

JUDUL LUKISAN : Al-‘Ashr : 1-3 ( 1982)

Ukuran : 105 cm. X 105 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi pribadi

Pernah DIPAMERKAN :

1. Tahun 1982 PAMERAN BERDUA di Sukorejo Pasuruan

2. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

3. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

4. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

5. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

6. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

7. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

8. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

2. JUDUL LUKISAN : Allah Maha Besar

Koleksi Pribadi di Jl. Tumapel II/ 51 Singosari

JUDUL LUKISAN : Allah Maha Besar ( 1982 )

Ukuran : 85 cm. X 85 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi pribadi

Pernah DIPAMERKAN :

1. Tahun 1982 PAMERAN BERDUA di Sukorejo Pasuruan

2. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

3. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

4. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

5. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

6. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

7. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

8. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

3. JUDUL LUKISAN : Kalimatut Tahlil

Koleksi Pribadi di Jl. Tumapel II/ 51 Singosari

JUDUL LUKISAN : Kalimatut Tahlil ( 1983 )

Ukuran : 80cm. X 60 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi pribadi

Pernah DIPAMERKAN :

1. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

2. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

3. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

4. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

5. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

6. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

7. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

4. JUDUL LUKISAN : IQRA’

Koleksi : M. Najib Jauhari, Spd. M.Hum.

JUDUL LUKISAN : IQRA’ ( 1983 )

Ukuran : 80cm. X 60 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi M. Najib Jauhari, Spd. M.Hum.

Jl. Tumapel I/ 53 Singosari

Pernah DIPAMERKAN :

8. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

9. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

10. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

11. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

12. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

13. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

14. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

Kolektor,

M. Najib Jauhari, Spd. M.Hum.

5. JUDUL LUKISAN : Al-Fatihah

Dra. Emmy Sri Wulangsih

JUDUL LUKISAN : Al-Fatihah ( 1983 )

Ukuran : 80cm. X 60 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Dra. Emmy Sri Wulangsih

Jl. Bantaran

Pernah DIPAMERKAN :

15. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

16. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

17. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

18. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

19. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

20. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

21. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

Kolektor,

Dra. Emmy Sri Wulangsih

6. JUDUL LUKISAN : Al-Ikhlas

Drs. H. M. Munif Jl. Sido Agung Singosari

JUDUL LUKISAN :

Ukuran : 80cm. X 60 cm. ( 1983 )

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Drs. H. M. Munif Jl. Sido Agung Singosari

Pernah DIPAMERKAN :

22. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

23. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

24. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

25. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

26. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

27. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

28. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

Kolektor,

Drs. H. M. Munif

7. JUDUL LUKISAN : Potret Kyai dan Bu Nyai Noor Salim

H. A. Fauzan Habib, S.Ag Jl. Masjid 5 Singosari

JUDUL LUKISAN : Potret Kyai dan Bu Nyai Noor Salim (1982 )

Ukuran : 80cm. X 60 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi H. A. Fauzan Habib, S.Ag. Jl. Masjid 5 Singosari

Pernah DIPAMERKAN :

29. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

30. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

31. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

32. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

33. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

34. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

35. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

Kolektor,

H. A. Fauzan Habib, S.Ag.

8. JUDUL LUKISAN :

Koleksi Pribadi di Jl. Tumapel II/ 51 Singosari

JUDUL LUKISAN : Surat Al-Ikhlas (1982 )

Ukuran : 80cm. X 60 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Pribadi

Pernah DIPAMERKAN :

36. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

37. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

38. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

39. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

40. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

41. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

42. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

9. JUDUL LUKISAN : Pasukan Semut (An-Naml)

Moh Thohir Jl. Masjid Barat Singosari

JUDUL LUKISAN : Pasukan Semut (An-Naml) ( 1981 )

Ukuran : 120 cm. X 60 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Moh Thohir Jl. Masjid Barat Singosari

Pernah DIPAMERKAN :

43. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

44. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

45. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

46. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

47. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

48. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

49. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

Kolektor,

Moh. Thohir

10. JUDUL LUKISAN :

Koleksi Pribadi di Jl. Tumapel II/ 51 Singosari

JUDUL LUKISAN :

Ukuran : 120cm. X 80 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Pribadi

Pernah DIPAMERKAN :

50. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

51. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

52. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

53. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

54. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

55. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

56. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

11. JUDUL LUKISAN : Bismillah

Koleksi Pribadi di Jl. Tumapel II/ 51 Singosari

JUDUL LUKISAN : Bismillah

Ukuran : Diameter 40 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Pribadi di Singosari

Pernah DIPAMERKAN :

57. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

58. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

59. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

60. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

61. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

62. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

63. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

12. JUDUL LUKISAN : Terbuka

Koleksi Pribadi di Jl. Tumapel II/ 51 Singosari

JUDUL LUKISAN : Terbuka

Ukuran : 120cm. X 80 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Pribadi di Jl. Tumapel II/ 51 Singosari

Pernah DIPAMERKAN :

64. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

65. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

66. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

67. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

68. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

69. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

70. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

13. JUDUL LUKISAN : Al-Baqarah

Koleksi Pribadi di Jl. Tumapel II/ 51 Singosari

JUDUL LUKISAN : Al-Baqarah

Ukuran : 120cm. X 80 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Pribadi

Pernah DIPAMERKAN :

71. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

72. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

73. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

74. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

75. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

76. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

77. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

14. JUDUL LUKISAN :

Koleksi Pribadi di Jl. Tumapel II/ 51 Singosari

JUDUL LUKISAN :

Ukuran : 120cm. X 80 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Pribadi

Pernah DIPAMERKAN :

78. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

79. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

80. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

81. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

82. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

83. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

84. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

15. JUDUL LUKISAN : Di Gunungan Kematian

JUDUL LUKISAN :

Ukuran : 120cm. X 80 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Pribadi

Pernah DIPAMERKAN :

85. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

86. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

87. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

88. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

89. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

90. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

91. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

16. JUDUL LUKISAN :

Al-Ikhlas

JUDUL LUKISAN : Al-Ikhlas

Ukuran : 80cm. X 60 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Pribadi

Pernah DIPAMERKAN :

92. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

93. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

94. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

95. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

96. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

97. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

98. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

17. JUDUL LUKISAN :

Asmaul Husna

JUDUL LUKISAN : Al-Ikhlas (1983 )

Ukuran : 80cm. X 80 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Pribadi

Pernah DIPAMERKAN :

1. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

2. Tahun 1983 PAMERAN BERDUA di YP. AL Maarif Singosari Malang

3. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Indrokilo Malang

4. Tahun 1984 PAMERAN BERSAMA di Universitas Brawijaya Malang

5. Tahun 1985 PAMERAN BERSAMA di Kantor Pos Besar Malang

6. Tahun 1986 PAMERAN BERSAMA di Dewan kesenian Malang (DKM)

7. Tahun 1987 PAMERAN 4 PELUKIS di Aula Masjid Sabilillah Blimbing Malang

Pelukis,

Ali Ghufron

18. JUDUL LUKISAN : Al-Ashr (1983 )

Koleksi Dr. Hazim Amir MA (Alm.) Dosen Bhs Inggris IKIP Malang

JUDUL LUKISAN : Al-Ashr (1983 )

Ukuran : 80cm. X 80 cm.

Media : Cat minyak-Kanvas, teknik : campuran (colage dan sapuan)

Status : Koleksi Dr. Hazim Amir MA (Alm.) Dosen Bhs Inggris IKIP Malang

Pernah DIPAMERKAN :

1. Tahun 1983 PAMERAN Bersama di IKIP Malang

2. Tahun 1983 PAMERAN TUNGGAL di Plaza Batu

3. Tahun 1983 (dikoleksi Dr. Hazim Amir MA) sulit dipinjam untuk dipamerkan.

Pelukis,

Ali Ghufron