Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label SINGOSARI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SINGOSARI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2011

SEDANG CERAMAH DI MALANG


Dengan keseriusan dan kajian-kajian yang matang dan membumi diselingi dengan diseling humor, sajian sejenis yang seolah bicara langsung dengan penonton atau penikmat, humor segar yang etis dan santun dengan materi yang berkompeten akan siap bersaing, maka secara langsung pada tampilan ini. Keakraban yang tidak mengurangi bobot materi sajian yang berdurasi waktu antara 10 (sepuluh) atau 30 (tiga puluh) menit, dengan diselingi “pesan sponsor” atau” pariwara” penyaji siap ikut terlibat memberikan atau mempersilahkan dan sebagainya, terserah program stasiun TV ini.

Dari pengalaman yang kami petik selama ini, kami telah pula mendapat kepercayaan selama 4 (empat bulan) mulai bulan September sampai dengan Desember 2004 yang lalu malang melintang kurang lebih 53 (lima puluh tiga) kali tayang September 2004 sd. Februari 2005 dalam acara ceramah agama MUTIARA KEHIDUPAN ” durasi waktu 30 menit & “ Kultum ” durasi waktu 10 menit, di TV swasta tepatnya Malang TV kota Malang ( Malang Raya).

Selain itu sudah sering mendapat kepercayaan ceramah atau pengajian umum di berbagai Instansi Pemerintah dan swasta, di Jawa Timur dan luar Jawa ( 3 kota Irian Jaya dan Denpasar Bali ).

Untuk itu kami bermaksud menyediakan diri untuk kerjasama yang ber kesinambungan atas dasar saling percaya untuk kemajuan pertelevisian dengan mengisi acara “ Mimbar Agama ” secara monologis dengan sajian yang familier dan humoris atau Nada & Dakwah pada stasiun TV ini.

Sponsor dan waktu acara mengikuti program yang telah diagendakan atau diprogramkan oleh stasiun yang Bapak pimpin.


Senin, 13 Desember 2010

BABAK BARU UNTUK RENUNGAN

Dan jika aku istirahat untuk sejenak, Sekolah, Madrasah, Masjid, Surau, Rumah....dan Khusnul Khatimah....Amin

Ya Alloh biha 2 X Ya Alloh biha bihusnul khotimah

Ya Alloh Penguasa Alam

Hambamu yang penuh penyesalan

Ingin tobat dengan penuh penyesalan

Agar tak rugi di hari depan

Ya Alloh Kang Moho Ageng Kuosonipun

Kawulo ingkang katah dosanipun

Bade tobat duso ingkang sampun

Klawan duso alit dan agengipun

*) Ust. Drs. H. M. Ali Ghufron Risyam : Muballigh, Penulis, Pengamat Budaya Islami, Staf Pengajar di YAPISH Malang SMA Shalahuddin Malang dan Y.P. Almaarif Singosari SMAI dan MA serta Yayasan Pondok Pesantren Al Ishlah, SMK TI Singosari Malang.

Rabu, 10 Februari 2010

TAMBAHAN MATERI CERAMAH


Adakah Pewarisan NU pada generasi mendatang…. ?

Berawal dari seorang siswa salah satu sekolah swasta bertanya, “ Pak, Apa sih NU itu ?”. Saya jawab dengan santai karena tanyanya juga santai “NU ?, itu Nahdlatul Ulama”, saya jawab secara kelakar. Siswa : “ Saya tanya beneran, karena saya cuma pernah diajarkan waktu Ibtida’ (SD) sama Tsanawiyah , dan setelah duduk di SLTA, ternyata sekarang saya pingin tahu beneran, karena ada sedikit ingin tahu ! “ Maka menja di bahan renungan bagi penulis yang kebetulan diamanati menjadi guru Aswaja, sebagai Mata Pelajaran muatan lokal. Karena di Sekolah Taman Siswa, ada Ke-Taman Siswa-an, di Muhammaddiyah, ada Ke- Muhammaddiyah-an.
Kata Hikmah “Syubbanul aan rijaalul ghodi “(Pemuda masa sekarang cacon pengganti pemimpin masa depan/ men datang).
Nahdlatul Ulama’, para tokoh pendirinya adalah para Kyai Pondok Pesantren di Jawa khususnya Jawa Timur, yang kesemuasnya mem punyai amanah Santri. Dalam menindak lanjuti kelang sungan, kelestarian NU, maka harus dilanjutkan , di kembangkan, dilestarikan oleh para Santri dan pelajar di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif, afdhol jika me nyampaikan amanat kyai pendahulu dengan memberikan be kal Santri dan pelajar Madrasah dengan materi Ke-NU-an.
Pondok –pondok Pesantren dan Madrasah-madrasah tidak langsung percaya kepada santri atau pelajarnya pasti akan ikut melestarikan NU, jika tidak dikenalkan dan dibekali dengan wawasan Ke-NU-an, karena putra atau putri Nahdliy yin kalau tidak dibekali dengan ajaran orang tua, guru, kyai, ustadz dengan Ke-NU-an, tidak mustahil bersemboyan dan beramaliyah “pokoknya Islam”. Hal ini yang perlu mendapat perhatian setiap kyai Pengasuh Pondok -pondok Pesantren dan Lembaga Pendidikan terutama Madrasah-madrasah di ba wah naungan LP. Ma’rif Nahdlatul Ulama’. Yang Guru dan Ustadz nya tidak mau kalau tidak dibilang sebagai orang NU, bahkan mungkin malu dibilang sebagai orang NU. Hanya ama liyahnya amat NU. Dengan kata lain NU Kultural tidak mau sebagai NU struktural, atau ikut berhidmat. Sehingga ditanya tentang NU, jawabnya :” Kallau pendiri Yayasan dan bebera pa pengurusnya di sekolah kami sangat NU, kallau saya ini anaknya orang NU, kallau saya…. Tak tanya judullu pada Guru Aswaja, (lumayan masih mau tanya). Waduh.. saya ini pokoknya Islam, shalat, puasa, zakat, hajji, berres tak iya”., Malaikat tak akan tanya soal NU. Yang ditanyakan bab sholat katanya Hadits Nabi”. Apalagi menjadi Pengurus NU, Cuma datang diundang membahas NU di kampungnya saja tak mau datang kok. Apalagi ingin mewaris kan kepada Para Santri dan Anak didiknya. Dengan asumsi Nanti akan NU dengan sendirinya ? (Engkok lek wis uwong lak NU-NU dewe a ! ). Sangat kasihan kyai-kyai Pendiri NU termasuk Pendiri Lem baga Pendidikan Ma’arif, karena anak cucunya melupakan ajarannya. Ya kadang masih mau tapi ogah-ogah tapi mau Pengenalan NU, yang dijadikan materi LKD, Latsus, Ospek, yang seharusnya dijadikan materi Intra Kurikuler, tapi alasan nya ada saja waktunya tidak cukup lah, guru pengajarnya ti dak ada lah, PBNU-nya kejeglong ke politik praktis lah,

Tokoh-tokoh yang sekarang ada yang menyeret NU untuk kepentingan sesaat dukung mendukung tim sukses sese orang yang mau jadi atau ini jadi itu, dan beberapa oknom yang ber petualang macam begitu (kebetulan hanya itu yang dilihat anak-anak muda NUsekarang ini) dan masih sak ambrek alas an lain yang tidak mungkin di tulis secara detail. Tetapi kasi han Kyai-kyai yang Muhlis yang betul-betul kepingin berhid mat secara tulus untuk NU, karena beliau tahu dan mengerti seja rah NU. Kejadian ini di negara antah berantah. Kalaupun ada di sekitar kita, hanya kebetulan saja kiranya, maka pelajar an KeNU-an sudah diberikan di SD, SLP sudah cukup, SLTA dan Perguruan Tinggi nanti akan NU sendiri ? alasan lain. Kenyataan di lapangan, Ternyata yang dilihat yang instan-instan, yang programnya mengkristal dan nyata, walaupun Ormasy/ Orpol Islam baru muncul. Dengan alasan yang pen ting hati saya tetap NU. Karena Jamiyah NU itu sa ngat luas dan luwes, jika di ibaratkan sebagai kereta api NU itu gerbong nya panjang, belum penumpangnya yang sa ngat hiterogen (bermacam-macam). Dan kadang kala u tidak tabah cepat lom pat pagar, karena tergiur kedudukan dan jabatan profesi atau struktural Ormasy/ Orpol Islam baru muncul itu.

Kedudukan Pondok Pesantren dan Sekolah/ Madrasah LP. Maarif
Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah sebagai lembaga pendidikan Islam (mayoritas Ahlussunnah Waljamaah), setiap pesantren setidaknya memiliki lima elemen dasar, yaitu :
1. Masjid/ musholla, kiai/ ulama, pondok/ asrama,
2. Santri dan pengajaran kitab-kitab klasik (Kitab Kuning).
3. Tujuan utama berdirinya pesantren tidak terlepas dari cita-cita dakwah islamiah di Indonesia,
4. sekaligus merupakan tempat untuk membina kader-kader ulama pengabdi kepada Allah SWT. yang bertafaqquh fiddin(menguasai dan mengamalkan agama), dan menjadi ‘ulamaul ‘amilin.
5. Dengan demikian pondok pesantren merupakan benteng pertahanan yang dapat menjamin berlangsungnya syiar dan dakwah islamiyah (ala Ahlussunnah Waljamaah) di Indonesia, sekarang dan masa akan datang.
Murid-murid pada pondok pesantren sering disebut dengan istilah santri, kata SANTRI ada yang memberi makna :
 = Salikun ilal akhiroh = Jalan (perkara-perkara) ke Akhirat
 = Naaibun ‘anil masyayikh = Penggantinya para kyai/ guru
 = Taarikun ‘anil m’aashi = Meninggalkan ma’shiyat
 = Raaghibun fil khairat/ Rawaatibuz zaman = Senag pada kebaikan/ Mengikuti perkembangan zaman
 = Yarjus salamati fid diin wad dunya wal aakhiroh = Mengharap keselamatan di bidang Agama, dunia dan akhirat.

A. Sejarah, Dasar dan Bentuk Keorganisasian Nahdlatul Ulama’
1. Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama’
Pendirian N U merupakan manifestasi Kebang kitan para Ulama’ untuk mempertahankan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali yang dikenal dengan Madzahibul Ar ba’ah/ madzhab empat. Dengan demikian motivasi berdi rinya N U adalah “ Berupa mempertahankan dan melesta rikan faham Ahlussunnah Waljamaah dengan me ngikuti salah satu madzhab empat sebagaimana yang telah berakar di Indonesia sejak awal perkem bangan Islam” seperti yang diajarkan oleh para Waliyulloh di Indonesia ;
Rumusan Anggaran Dasar N U atau yang sering dise but Qonun Asasi Li Jamiati Nahdlatul Ulama’ sebenarnya telah disepakati sejak organisasi ini didirikan pada tgl. 16 Rojab 1344 H/ 31 Januari 1926 M. yang didirikan oleh para Ulama’ KH. M. Hasyim Asy ’ari ( Pendiri cikal bakal N U ; Komite Hijaz ), KH. Abdul Wahab Hazbullah, KH. Mas Alwi Abdul Aziz (Pemberi nama N U), KH. Ridwan Abdullah (Pembuat Lambang N U ) .
Dalam Anggaran Dasar ini disebutkan secara ekspli sit tujuan Nahdlatul Ulama’ yaitu “mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah.”. Rumusan tujuan tersebut sesuai dengan pengarahan Rois Akbar Jamiyah NU Hadratus Syeh KH. M. Hasyim Asy’ ari yang dijadikan sebagai muqaddimah Al- Qonunil Asasi. Juga terdapat dalam pasal 2 dan 3 berbunyi sebagai berikut :
Pasal 2 :“Adapun maksud perkumpulan ini yaitu : memegang teguh pada salah satu dari madzhab Imam Empat (Madzahibul Arba’ah) ,Imam Muhammad bin Idris AsSyafi’i (Syafi’i), Imam Malik bin Anas (Maliki) , Imam Abu Hanifah An Nu’man (Hanafi), Imam Ahmad bin Ham bal (Hambali) dan mengerjakan apa saja yang menjadi kan kemaslahatan agama Islam”
Pasal 3 : Untuk mencapai maksud perkumpulan ini, maka diadakan ikhtiar :
a. Mengadakan perhubungan di antara ulama’-ulama’ yang bermadzhab tersebut dalam pasal 2
b. Memeriksa kitab kitab sebelumnya dipakai untuk me ngajar supaya diketahui apa itu dari kitab-kitab Ahlus sunnah Waljamaah atau kitab-kitab ahli Bid’ah.
c. Menyiarkan agama Islam di atas madzhab sebagaima na tersebut dalam pasal 2, dengan jalan apa saja yang baik.
d. Berikhtiar memperbanyak Madrasah-madrasah yang berdasar agama Islam.
e. Memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan masjid-masjid, langgar-langgar, pondok-pondok, begi tu juga dengan hal ihwal anak-anak yatim dan orang-orang fakir miskin.

Pilihan akan ikhtiar yang dilakukan mendasari kegiatan N U dari masa ke masa dengan tujuan untuk melakukan perbaikan, perubahan, dan pembaharuan masyarakat, teru tama dengan mendorong swadaya masyarakat sendiri.

N U sejak semula meyakini bahwa persatuan dan kesa tuan para ulama’ dan pengikutnya, masalah pendidikan, dakwah Islamiyah, kegiatan sosial serta perekonomian adalah masalah yang tidak dapat dipisahkan untuk mengu bah masyarakat yang terbelakang, bodoh, dan miskin men jadi masyarakat maju, sejahtera, dan berakhlak mulia

Pilihan kegiatan NU tersebut sekaligus menumbuhkan sikap partisipatif terhadap setiap usaha yang bertujuan membawa masyarakat kepada kehidupan yang maslahat. Setiap kegiatan NU untuk kemaslahatan manusia dipan dang sebagai perwujudan amal ibadah yang didasarkan pada faham keagamaan yang dianutnya..

2. Sistem Keorganisasian Nahdlatul Ulama’
Seperti halnya organisasi negara modern yang membe dakan antara kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif , organisasi N U juga membedakan antara kekuasaan Syu riyah yang berfungsi sebagai badan legislatif dengan keku asaan Tanfidziyah sebagai badan eksekutif. Akan tetapi fungsi Syuriyah dalam NU merangkap sebagai pengadil an banding atau badan yudikatif. Karena itu dalam jam iyah NU, Syuriyah merupakan pimpinan tertinggi yang pe tunjuk dan pendapatnya mengikat sampai ke tingkat pa ling bawah menurut garis vertikal. Dilihat dari pola ini, NU dapat disebut sebagai organisasi “lini”.
Namun dilihat dari tugas dan fungsi Ketua Tanfidzi yah yang karena jabatannya termasuk anggota pleno pe ngurus Syuriyah, maka secara resmi Ketua Tanfidziyah juga bertindak sebagai pengambil keputusan. Dari sisi ini NU dikatagorikan sebagai “Organisasi staf”.
Kemudian jika dilihat dari sudut pembagian tugas se suai dengan bidangnya, sehing ga melahirkan badan oto nom (banom) yang berhak mengatur rumah tangganya sen diri , maka N U dapat disebut sebagai organisasi “fungsi onal”. Dengan demikian pola organisasi NU merupakan pola gabungan antara “lini”, staf dan fungsional”.

3. Struktur Kepengurusan Nahdlatul Ulama’
Struktur kepengurusan N U terdiri dari Mustasyar , Syuriyah, dan Tanfidziyah. Mustasyar bertugas menye lengarakan pertemuan setiap kali dianggap perlu untuk se cara kolektif memberikan nasehat kepada pengurus N U menurut tingkatannya dalam rangka menjaga kemurnian Khitthoh Nahdhliyah dan Islahu Dzitilbain.

Pengurus Syuriyah selaku pimpinan tertinggi berfung si secara kolektif sebagai pembi na, pengendali, pengawas dan penentu kebijaksanaan N U mempunyai tugas ;
a. Menentukan arah kebijaksanaan N U dalam melaksana kan usaha dan tindakan untuk mencapai tujuan organi sasi.
b. Memberi petunjuk, bimbingan dan pembinaan dalam me mahami, menganalisa, dan mengamalkan ajaran Islam menurut faham Ahlussunnah Waljamaah baik di bidang aqidah, syariah, maupun tasawwuf/ akhlak.
c. Mengendalikan, mengawasi dan memberikan koreksi ter hadap semua perangkat organisasi N U agar pelaksana an program-program N U berjalan di atas ketentuan jam iyah dan agama Islam.
d. Membimbing, mengarahkan, dan mengawasi Badan Oto nom, Lembaga dan Lajnah langsung di bawah Syuriyah.
e. Membatalkan keputusan atau langkah organisasi N U yang dinilai bertentangan deng an ajaran Ahlussun nah Waljamaah .

Sedangkan pengurus Tanfidziyah sebagai pelaksana harian mempunyai tugas-tugas :
a. Memimpin jalannya organisasi sehari-hari sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh pengurus Syuri yah .
b. Melaksanakan program jamiyah N U .
c. Membimbing, mengarahkan, memimpin, dan mengawasi kegiatan-kegiatan jamiyah yang berada di bawahnya .
d. Menyampaikan laporan secara periodik kepada pengu rus Syuriyah mengenai pelaksanaan tugas-tugasnya .

Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, Pengurus Tanfidziyah berwenang membentuk tim-tim kerja tetap (permanen) atau sementara (temporer) sesuai kebutuhan dan tuntutan perkembangan zaman, berikut pembagian tugas dan penerapan tatakerjanya.
Sebagai organisasi yang berskala nasional, tingkat-tingkat kepengurusan dalam N U diatur berdasarkan ting kat daerah, sesuai dengan Undang-undang dan peraturan yang berlaku.
1. Untuk tingkat Pusat dipergunakan istilah Pengurus Besar (PB) berkedudukan di ibukota negara.
2. Tingkat Propinsi atau daerah yang disamakan dengan itu dipergunakan istilah Pengurus Wilayah (PW) .
3. Di tingkat Kabupaten/ kota/ kota Administratif dise but Pengurus Cabang (PC) .
4. Di tingkat Kecamatan disebut Majlis Wakil Cabang (MWC NU) .
5. Sedangkan di tingkat Desa atau Kelurahan disebut Pengurus Ranting (PRNU) .

B. Perangkat Keorganisasian dalam Nahdlatul Ulama’
Untuk melaksanakan usaha-usaha dalam rangka men capai tujuan Jamiyah Nahdlatul Ulama’, telah dibentuk perangkat-perangkat organisasi yang terdiri atas; Lemba ga, Lajnah dan Badan Otonom yang ketiganya merupakan bagian integral dari Nahdlatul Ulama’.

Lembaga ;
Lembaga adalah perangkat departemenasi organisasi N U yang berfungsi sebagai pelaksana kebijaksanaan NU, khusus nya yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu.
Lembaga-lembaga yang yang telah terbentuk pada Pengu rus Besar, antara lain :
a. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, (LDNU) ; ber tugas melaksanakan kebijaksanaan N U di bidang pe nyiaran agama Islam Ahlussunnah Waljamaah.
b. Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama, (LP Ma’arif NU) ; bertugas melaksanakan kebijaksa naan N U di bidang pendidikan dan penga jaran, baik jalur sekolah maupun luar sekolah selain pondok pesantren .
c. Lembaga Sosial Mabarrot Nahdlatul Ulama, (LSMNU) ; bertugas melaksanakan kebijaksanaan N U di bidang Sosial dan Kesehatan .
d. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama, (LENU) ; bertugas melaksanakan kebijak sanaan N U di bidang pengembangan Ekonomi warga .
e. Lembaga Pembangunan dan Pengembangan Perta nian Nahdlatul Ulama, (LP 3 NU) ; bertugas melak sanakan kebijaksanaan N U di bidang pengem bangan Pertanian, Peternakan,
f. Rabithoh Ma’ahid Islamiah(RMI) ; bertugas melak sanakan kebijaksanaan N U di bidang pengem bangan Pondok Pesantren
g. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama , (LKKNU) ; bertugas melaksana kan kebijaksanaan N U dibidang Kemaslahatan Keluarga, Kependudukan dan Lingkungan hidup .
h. Haiah Ta’mirul Masajid Indonesia ( HTMI ) ; bertu gas melaksanakan kebijaksanaan N U di bidang pe ngembangan dan Kemakmuran masjid.
i. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia ( LAKPESDAM ) ; bertu gas melaksana kan kebijaksanaan N U di bidang Pengkajian dan pe ngembangan Sum berdaya Manusia .
j. Lembaga Pengembangan Tenaga Kerja, (LKKNU) ; bertugas melaksanakan kebijaksa naan N U di bidang pengembangan ketenagakerjaan .
k. Lembaga Seni Budaya Muslimaan Indonesia, (LESBUMI) ; bertugas melaksana kan kebijaksanaan N U di bidang pengembangan Kesenian dan Kebuda yaan selain Seni Hadrah/ Terbangan .
l. Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum (LPBH) ; bertugas melaksanakan penyuluhan dan memberikan bantuan hukum .
Lembaga dapat dibentuk di tingkat Pusat, Wilayah, Cabang, Majlis Wakil Cabang dan Ranting, sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan tugas dan kemampuan. Pembentukan dan peng hapusan lembaga ditetap kan oleh permusyawaratan tertinggi pada masing-ma sing tingkat kepengurusan N U .

Lajnah ;
Lajnah adalah perangkat organisasi N U untuk me laksanakan program N U yang memerlukan penanganan khusus. Lajnah yang telah dibentuk di tingkat Pengurus Besar adalah :
a. Lajnah Falakiyah ; bertugas mengurus masalah hisab (hitungan) dan Ru’yatul Hilah ( melihat bulan) di matlak (tempat untuk meneropong/ melihat bulan) .
b. Lajnah Ta’lif wan Nasyr ; bertugas mengurus penulisan, penerjemahan dan penyebar an kitab-kitab menurut faham Ahlussunnah Waljamaah dan bentuk-bentuk penerbitan lain yang sesuai.
c. Lajnah Waqfiyah Nahdlatul Ulama ; bertugas meng himpun, mengurus dan mengelo la tanah serta bangun an yang diwaqakafkan kepada Nahdltul Ulama .
d. Lajnah Zakat, Infaq dan Shodaqoh ; bertugas meng himpun, dan mengelola dan mentasharrufkan zakat, in fak dan shodaqoh.
e. Lajnah Bahtsul Masail Diniyah ; bertugas menghimpun, membahas dan memecahkan masalah-masalah yang mauquf (mandek) dan waqiiyah yang harus segera mendapat kan kepastian hukum syar’i .

Lajnah dapat dibentuk di tingkat Wilayah sesuai dengan kebu tuhan, penanganan, dan perubahan khusus, serta ketersediaan tenaga. Penyusunan dan perubahan Pengurus Lajnah dilaku kan oleh sebuah tim yang dibentuk khusus untuk itu oleh Pe ngurus NU di tingkat masing-masing, terdiri atas unsur Pengu rus NU dan Pengurus Lajnah yang bersang kutan .



Badan Otonom ;
Adapun Badan Otonom adalah perangkat organisasi Nahdltul Ulama yang ber fungsi membantu melaksanakan kebijakan N U, khususnya yang berkaitan dengan kelom pok masyarakat tertentu dan beranggotakan perorangan . Badan otonom diberi hak mengatur rumah tangganya sen diri sesuai dengan Peraturan Dasar dan Rumah Tangga masing-masing .
Badan Otonom dapat dibentuk di semua Kepengurusan Nahdltul Ulama terdiri atas;
a. Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat N U)
b. Gerakan Pemuda Ansor (G P. Ansor)
c. Fatayat Nahdltul Ulama (Fatayat N U)
d. Ikatan Pelajar Nahdltul Ulama (IPNU)
e. Ikatan Pelajar Puteri Nahdltul Ulama (IPPNU)
f. Jamiyah Ahlit Thoriqoh Al Muktabaroh An Nahdliyah
g. Jamiatul Qurra’ wal Huffadz
h. Ikatan Sarjana Nahdltul Ulama (ISNU)
i. Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa Nahdltul Ulama (LPSPNNU)
j. Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI)

C. Kegiatan organisasi dalam Nahdlatul Ulama’

Adapun kegiatan organisasi Nahdltul Ulama khususnya yang berkaitan dengan kelompok masyarakat adalah :
a. Lailatul Ijtima’ yang dilaksanakan di tingkat Ran ting Nahdltul Ulama bersama MWCNU setempat; Sholat Gho ib pada arwah pendiri, pengurus dan anggota yang telah wafat dan mendahului kita. Konsolidasi organisasi, Cera mah agama dsb. Dahulu diambil waktu Bulan Purnama, tetapi sekarang sudah menyesuaikan .
b. Bahtsul Masail, di semua tingkat kepengurusan yang di laksanakan di tingkat, Pusat sampai dengan Ranting Nahdltul Ulama, oleh Rois Syuriyah dan jajaran lain.
c. Baca Yasin-Tahlil, Istighotsah, Burdah, Manaqib, Diba’, Hadrah , yang dilaksanakan di tingkat Ranting maupun bersama MWCNU setem pat atau sendiri-sendiri di Ranting masing-masing.
d. Baca Burdah, Diba’, Hadrah, Tanjidor yang dilaksana kan pada acara Walimahan, berbagai acara khusus mau pun umum, di rumah, pesantren dan tempat pengajian.
e. Sosial Mabarrot, santunan terhadap Yatim piatu, kaum dhuafa.
f. Semua Lembaga dan Lajnah, adalah merupakan kegiat an ormasy NU.

D. Kedududukan Ulama dalam NU adalah keduduk an Sentral ;
a. Para Ulama’ adalah pendiri NU
b. Para Ulama’ adalah pengendali NU
c. Para Ulama’ adalah panutan kaum Nahdliyyin/ warga besar NU.

Maka para Santri dan Siswa Madrasah serta Sekolah di bawah naungan LP. Maarif adalah calon pelestari Nahdlatu Ulama’ masa mendatang ?, untuk mengembalikan dan mem perbaiki penyalahgunaan kepentingan sesaat agar bisa dilurus kan seperti sediakala maksud dan tujuan suci Pendirinya. atau hanya cukup pernah membaca Kejayaan Ormasy Keagamaan terbesar di Negaranya ? Indonesia tercinta ini, atau “Pokok nya Islam” ?, atau mempunyai jawaban lain ?.
Ini jawaban penulis, kepada si penanya tadi, Wallahu A’lamu Bishshowaab.


Singosari, 3 Maret 2005 M.
23 Muharram1426 H.

*) Drs. H. M. Ali Ghufron R.MUBALLIGH
Staf Pengajar di YP.Almaarif Singosari ( MA & SMAI) Singosari, YAPISH (SMA Shalahuddin) Malang, Muballigh dan Mantan Ketua GP. Ansor Ancab. Singosari (1993-1998), Wakil Ketua GP. Ansor Kab. Malang (1995 – 1999), berkhidmat di Bagian (MWC NU) Singosari. Malang. Sekretaris MUI Kec Singosari Malang









Rabu, 18 November 2009

RINGKASAN CERAMAH DAN WALISONGO


PAK ALI GHUFRON SINGOSARI MALANG, SEDANG NGAJI DI MASJID SMA SHALAHUDDIN MALANG JAWA TIMUR

Ringkasan Ceramah : 25 Juni 2005 di Pesantren Terpadu Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

Santri = Insan punya Tri (3) Kesadaran :

1. Kesadaran Ibadah/ mengabdi

2. Kesadaran Ilmu/ pengamalannya

3. Kesadaran Sosial kemasyarakatan

I. Macam Ilmu :
1. Imu Jali. Eksakta/Bhs. Caranya :
1. Bitt’allum = Nyantri/ sekolah kuliyah
2. Ilmu Khofi
2. Bittaqorrub =Tirakat (Syeh Idris)
3. Ilmu Dadunni

S = JALAN (perkara-perkara) ke Akhirat س=ﺴﺎﻠﻙﺍﻠﻰﺍﻷﺨرﺓ
N = PENGGANTINYA PARA Kyai/ guru ن=ﻨﺎﺌﺏﻋنﺍﻠﻤﺸﺎﻴﺢ
T = MENINGGALKAN Ma'siyat ت = ﺘﺎ رﻙﻋن ﺍﻠﻤﻌﺎ ﺼﻰ

R = Senang pada KEBAIKAN ر= رﺍﻏﺏ ﻔﻰ ﺍﻠﺨﻴرﺍﺕ

ي= ﻴرﺠﻭﺍﻠﺴﻼ ﻤﺔ ﻔﻰﺍﻠﺩ ﻴن ﻭﺍﻠﺩ ﻨﻴﺎ ﻭﺍﻷ ﺨﺭﺓ

Y = MENGHARAP Keselamatan di bidang Agama, Dunia dan Akhrirat

Orang Hidup butuh DUIT = Doa, Usaha, Iman & Taqwa

KENAL DENGAN PERJUANGAN WALISONGO

PARA WALIYULLAH, WALI SONGO antara lain :

1. MAULANA MALIK IBRAHIM atau MAULANA MAGH RIBI(Gresik ).12 Rabiul Awwal 882 H./ 9 April.1419 M.

2. RADEN RAHMAT (SUNAN AMPEL) Wafat th. Ampel dento, Surabaya

3. RADEN PAKU/ MAULANA AINUL YAKIN (SUNAN GIRI - Gresik)

4. MAHDUM IBRAHIM (SUNAN BONANG) (1465 M - 1525 M - Tuban)

5. RADEN MUHAMMAD SAID/ JAKA SAID (SUNAN KALIJAGA,/ QODLI ZAKKA di Ngadilangu Demak)

6. RADEN SYARIFUDDIN/ MASIH SUNAT (SUNAN DRAJAT, di Paciran, Lamongan).

7. SYEKH JAKFAR SHADIQ/ R.AMIR HAJI (SUNAN KUDUS, di Kudus)

8. RADEN UMAR SAID / R. PRAWOTO (SUNAN MURIA – Gununung Muria dekat Rembang)

9. RADEN FATAHILLAH / R. ABDUL QADIR (SUNAN GUNUNGJATI, di Cirebon ) (Wafat th 1572 M).


1. SUNAN BONANG
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.
Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.

Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.
Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.
Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta’('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan ‘isbah (peneguhan).

2. Sunan Ampel

Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.

Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

3. Sunan Drajat
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M.
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.

Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.

4. Sunan Giri
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

5. Sunan Gunung Jati
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

6. Sunan Kalijaga
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.

Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.

Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (’kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak

7. Sunan Kudus
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang.
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

8. Maulana Malik Ibrahim
(Wafat 1419)
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.

Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.

Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.

9. Sunan Muria
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.

Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

“Walisongo” berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.
Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha,dll.

Selasa, 17 November 2009

SINGOSARI MALANG, KELAHIRAN MALANG, TINGGAL DI SINGOSARI


H.M. ALI GHUFRON SINGOSARI MALANG, AKTIFIS ORGANISASI, DARI IPNU, GP. ANSOR, BANSER, NU, MUI, MUBALLIGH, MENGAJAR DI SINGOSARI MALANG DAN KOTA MALANG JAWA TIMUR, ASLI MALANG BERISTRIKAN WANITA DESA BUNGKUK KECAMATAN SINGOSARI MALANG JAWA TIMUR.