"Ali Ghufron Risyam, Pengajar di Sekolah SMA SHALAHUDDIN MALANG, SMA ISLAM ALMAARIF,MA ALMAARIF SINGOSARI,SMK TERPADU ISLAHIYAH SINGOSARI. Aktifis ormasy,Pengamat Budaya.Melalui sebuah tulisan, karya puisi,dan lain lain untuk teman, sahabat, saudara, para siswa, mahasiswa, para Jama'ah dan orang yang berkepentingan sejagad Raya" raya...." email: ag.fron@gmail.com Blog : www.alighufron.blogspot.com
Daftar Blog Saya
Sabtu, 09 Januari 2010
PAK ALI GHUFRON DIALOGIS DI MALANG
MENGURUS JENAZAH
A.Menghadapi Seseorang Yang Sakit Keras
Apabila kita menghadapi seseorang yang sakit keras dan diperkirakan sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup, maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :1. Hendaknya si sakit tersebut dihadapkan ke kiblat2. Hendaknya ia dituntun dengan mengucapkan kalimat syahadat (tauhid)3. Dibacakan surat yassinBagi keluarga atau ahli waris jika ada keluarganya yang sedang sakit keras hendaknya menuntun kalimat syahadat tauhid , yaitu“ Laailaaha Illalaah”.Lebih lengkapnya dituntun dengan dua kalimat syahadat, yaitu :“Asyahadu an laa ilaha illallahu. Waasayhadu anna Muhammadan Rasulullah””.Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa :
Artinya : Hendaknya semua menuntun (mengajari) kepada orang-orang yang akan meninggal dunia dengan bacaan : (Laailaaha Illallaah)(H.R. MUSLIM)Dalam menuntun kamlimat syahadat cukup sekali saja tidak perlu berulang-ulang kali, karena dikhawa tirkan baru pada sampai lafadz wafat, jika demikian maka wafatnya termasuk suul khotimah.Oleh karena itu usahakan orang yang akan wafat supaya bisa menghembuskan nafas terakhir dengan bacaan Laailaaha illallaah maka cukup kita tuntun sekali saja. Selanjutnya disambung dengan lafadz “ALLAH” sampai akhir hayatnya (wafat). Jika wafatnya bisa membaca kalimat syahadat berarti ia wafat dalam keadaan HUSNUL KHOTIMAH (Baik akhir hayatnya).Hal ini sesuai dengsn sabda Nabi Muhammad SAW :Artinya : Barang siapa ucapannya (ketika wafat) menyebut : LAAILAAHA ILLALLAAH maka ia masuk surga. (H.R. MUSLIM).
Artinya : Hendaknya semua menuntun (mengajari) kepada orang-orang yang akan meninggal dunia dengan bacaan : (Laailaaha Illallaah)(H.R. MUSLIM)Dalam menuntun kamlimat syahadat cukup sekali saja tidak perlu berulang-ulang kali, karena dikhawa tirkan baru pada sampai lafadz wafat, jika demikian maka wafatnya termasuk suul khotimah.Oleh karena itu usahakan orang yang akan wafat supaya bisa menghembuskan nafas terakhir dengan bacaan Laailaaha illallaah maka cukup kita tuntun sekali saja. Selanjutnya disambung dengan lafadz “ALLAH” sampai akhir hayatnya (wafat). Jika wafatnya bisa membaca kalimat syahadat berarti ia wafat dalam keadaan HUSNUL KHOTIMAH (Baik akhir hayatnya).Hal ini sesuai dengsn sabda Nabi Muhammad SAW :Artinya : Barang siapa ucapannya (ketika wafat) menyebut : LAAILAAHA ILLALLAAH maka ia masuk surga. (H.R. MUSLIM).
B. Menghadapi Seseorang yang baru Meninggal Dunia
Apabila kita dapati seseorang yang baru meninggal dunia, maka tindakan yang harus kita lakukan pertama kali adalah sebagai berikut :1. Mengikat kepala mayit2. Meletakkan tangan mayit di atas perut (seperti tangan orang yang sedang melaksanakan sholat)3. Mengikat dan menyatukan persendian lutut4. Menyatukan kedua ibu jari kaki5. Menghadapkan mayit ke arah kiblat.
C. TENTANG CARA MEMANDIKAN JENAZAH
I. PendahuluanApabila kita dapati seseorang yang baru meninggal, maka tindakan yang harus kita lakukan pertama kali adalah sebagai berikut :a. Mengikat kepala mayitb. Meletakkkan tangannya di atas perut (seperti tangan orang yang sedang melakukan sholatc. Mengikat dan menyatukan persendian lututd. Menyatukan kedua ibu jari kakie. Menghadapkan mayit kea rah kiblat.
II. Cara memandikan mayatSetelah mayit di letakkan pada tempat yang disediakan, maka kita tutupi seluruh tubuhnya dengan kain yang agak tipis sehingga bila disiram dengan air dapat membasahi seluruh anggota tubuhnya.
Maka mulailah kita memandikannya dengan tata cara sebagai berikut :
a. Mula-mula kita sediakaan air sebanyak mungkin, sedikit air jeruk (jeruk purut), air bedara, air kapur barus dan sabun.Yang pertama kali kita lakukan ialah menyiram seluruh tubuhnya dengan air bersih mulai dari kepala sampai ke ujung kakinya, dengan niat memandikan mayat sebagai berikut :
1. Jika mayat laki-laki dewasa,lafadz niatnya adalah :
(Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit fardhal kifaayati lillahita’ala).Artinya : Sengaja aku memandikan mayat ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.
(Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit fardhal kifaayati lillahita’ala).Artinya : Sengaja aku memandikan mayat ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.
2. Jika mayat perempuan dewaasa,lafadz niatnya adalah:
(Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati fardhal kifaayati lillahita’ala)Artinya : Sengaja aku memandikan mayat perempuan dewasa ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.3. Jika mayat kanak-kanak laki-laki, lafadz niatnya adalah :
(Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit tifli fardhal kifaayati lillahita’ala). Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak-kanak laki-laki ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala. 4. Jika mayat kanak-kanak perempuan,lafadz niatnya adalah :(Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati tiflati fardhal kifaayati lillahita’ala).Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak -kanak perempuan ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.
(Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati fardhal kifaayati lillahita’ala)Artinya : Sengaja aku memandikan mayat perempuan dewasa ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.3. Jika mayat kanak-kanak laki-laki, lafadz niatnya adalah :
(Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit tifli fardhal kifaayati lillahita’ala). Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak-kanak laki-laki ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala. 4. Jika mayat kanak-kanak perempuan,lafadz niatnya adalah :(Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati tiflati fardhal kifaayati lillahita’ala).Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak -kanak perempuan ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.
b. Kemudian kita ambil air yang bercampur dengan jeruk (jeruk purut),maka kita sirami semua persendiannya untuk melemahkan anggota yang kaku/tegang, agar mudah membersihkan anggota tubuh mayat. Selanjutnya kita bersihkan seluruh anggota dengan sabun,dan kita buang segala kotoran-kotoran yang masih ada pada mayat itu,sampai sebersih-bersihnya,dan sunnat membasuh anggota wudhunya terlebih dahulu dengan mendahulukan yang kanan dari yang kiri.c. Kemudian dari pada itu, maka kita dudukkan mayat itu dengan keadaan condong ke belakang, kemudian kita tekan-tekan (diramas) perutnya perlahan-lahan dan tangan kiri kita yang sudah dibalut dengan kain (atau dibuat berbentuk sarung tangan) mencuci kubul dan dubulnya dengan niat istinja’ bagi mayat.Lafadz niatnya adalah sebagai berikut :(Nawaitul istinjaa-i minal mayyit fardhan a’layya lillahi ta’ala).Artinya : Sengaja aku menyucikan daripada mayit ini fardhu atasku karena Allah Ta’ala.d. Kemudian dari pada itu, diambil wudhu’ bagi mayit,lafadz niatnya adalah :(Nawaitul wudhu-a lihaadzal mayyit lillahi Ta’ala). Artinya : Sengaja aku mengambil wudhu’ bagi mayit ini karena Allah ta’ala.Setelah itu baru disiram dengan air bedara dan dengan air kapur barus untuk menghilangkan bau dan supaya menjadi harum dan segar.e. Kemudian daripada itu, disiram air berkali-kali (3 kali atau 5 kali atau lebih) dengan jumlah bilangan ganjil yang terakhir dicampur dengan air kapur barus. Namun hal yang lazim dikerjakan adalah 9 kali menyirami air yang disebut dengan cuci sembilan (mandi sembilan) sebagaimana yang disebut dalam Kitab Arab Melayu “KIFAYATUL GHULUM” karangan Syekh Ismail Minang Kabau,yaitu dengan cara sebagai berikut :
1. Mula-mula mayat dimiringkan kekiri,kalau menyiram air kesebelah kanannya 3 kali sambil membaca do’a :(Ghufraanaka yaa Allah rabbana wailaikal mashiir)
1. Mula-mula mayat dimiringkan kekiri,kalau menyiram air kesebelah kanannya 3 kali sambil membaca do’a :(Ghufraanaka yaa Allah rabbana wailaikal mashiir)
2, Kemudian dimiringkan ke sebelah kanan, lalu menyiramkan air ke sebelah kirinya 3 kali sambil membaca do’a :(Ghufraanaka yaa rahman rabbana wailaikal mashiir)
3, Kemudian membetulkan mayat itu (tertelentang) lalu menyiram air ke sebahagian mukanya mulai dari kepala sampai ke ujung kakinya 3 kali seperti di atas,sambil membaca do’a :(Ghufraanaka yaa Allah yaa rahim rabbana wailaikal mashiir).4. Setelah itu kita angkat kepala mayat tersebut sedikit menghadap kea rah kiblat, lalu dibacakan syahadat bagi mayit. Yaitu :(Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahulmulku walahul hamdu yuhyi wayumiitu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodiir)4. Tanbihun1. Mengambil wudhu’ bagi mayat itu adadua cara, yaitu :a. Seperti mengambil wudhu’ bagi orang yang masih hidup saja.b. Pendapat lain seperti mandi sembilan dengan mengucurkan (menyiramkan) air tiga kali sebagaimana cara diatas.2. Jika mayat laki-laki (umumnya anak-anak) yang tidak bisa dibuka kulubnya (kulit yang menutup ujung zakarnya), untuk mengharuskan sholat baginya.hendaklah ditayamumkan. Lafadz niat tayammum adalah :(Nawaitul tayammuma lihaadzal mayyit il-istibaahatis sholaati ‘alaihi fardhan lillahi ta’ala)Artinya : Sengaja aku memtayamumkan bagi mayit ini, karena mengharuskan sembahyang atasnya karena Allah ta’ala.
3. Tayammum itu dikerjakan sesudah seleasai wudhunya.E. Cara Mengkafani JenazahI. PENDAHULUANSesudah mayit di mandikan, maka cawatnya dipasang (ukuran cawat adalah 1 meter dari pemotongan sisa baju).2. UKURAN PEMOTONGAN KAIN KAFANPanjang kain kafan ± 15,5 meter, dengan potongan kain sebagai berikut :a. Kafan 2 lapis dengan panjang @ 2,5 m X lebar kain + 0,5 m lebar potong kain. Total 7,5 meterb. Baju dengan panjang 2,5 meter, diambil 2/3 dari lebar. Sisanya 1/3 untuk sorban. Total 2,5 meterc. 1,5 meter untuk lengan baju, 2/3 dari lebar untuk baju. Sisanya 1/3 untuk anak baju. Total 1,5 meterd. 1 meter untuk sal atau selendang. Total 1 metere. 1,5 meter untuk ikat pinggang (1/3 dari lebar). Total 1,5 meter
3. CARA MENGKAFANI JENAZAHMula-mula kita siapkan segala sesuatunya yang diper-lukan untuk mengkafani mayat (kain kafan dan lain-lain). Kemudian sobek / koyak bagian tepi kain kafan tersebut, setelah itu potong kain kafan tersebut (sesuaikan dengan ukuran pemotongan kain kafan sebagaimana telah disebut pada huruf B di atas). Hal tersebut hendaklah disesuaikan dengan kondisi badan / fisik si mayat.Seterusnya buatlah bajunya, kain sarungnya, cawatnya serta sorban bagi mayat laki-laki atau kerudung bagi mayat perempuan. Disunnatkan pada pertama kali menyobek kain tersebut dengan membaca :(Allahummaj’al libaasahu (ha) ‘anil kariim wa adkhilhu (ha) Ya Allahu ta’ala birahmatikal Jannata yaa arhamarraahimiin.Adapun cara meletakkan kain kafan itu ialah dibujurkan ke arah kiblat (letak kaki mayat ke arah qiblat) jika tempat mengizinkan. Susunannya adalah sebagai berikut :a. Letakkan tali kain kafan sebanyak 5 helaib. Kain kafan pertama dibentangkanc. Ikat pinggang mayat dibentangkand. Kain kafan kedua dibentangkane. Selendang / sal dipasangf. Sorban dibentangkan di atas sal / selendang
g. Baju dibentangkanh. Anak baju dibentangkan di atas bajui. Kain sarung dibentangkan di atas bajuj. Kapas ditebarkan di atas baju dan kain sarungk. Selasih serbuk cendana dan wewangian ditabur di atas kapasHendaknyalah mendahulukan kain yang kanan dari pada kain yang kiriUntuk DiketahuiSebenarnya mengkafani mayat itu sama saja, yaitu dengan maksud membungkus kain itu ke seluruh tubuh si mayat sehingga tidak ada lagi bagian tubuh yang terbuka. Bagi mayat laki-laki diutamakan lima lapis kain selain gamis (baju dan sorban) dan bagi mayat perempuan lima lapis kain selain telekung / kerudung dan celana cawatnya . namun demikian atas ketiadaan, cukup sekedar menutupi seluruh anggota tubuhnya saja.
g. Baju dibentangkanh. Anak baju dibentangkan di atas bajui. Kain sarung dibentangkan di atas bajuj. Kapas ditebarkan di atas baju dan kain sarungk. Selasih serbuk cendana dan wewangian ditabur di atas kapasHendaknyalah mendahulukan kain yang kanan dari pada kain yang kiriUntuk DiketahuiSebenarnya mengkafani mayat itu sama saja, yaitu dengan maksud membungkus kain itu ke seluruh tubuh si mayat sehingga tidak ada lagi bagian tubuh yang terbuka. Bagi mayat laki-laki diutamakan lima lapis kain selain gamis (baju dan sorban) dan bagi mayat perempuan lima lapis kain selain telekung / kerudung dan celana cawatnya . namun demikian atas ketiadaan, cukup sekedar menutupi seluruh anggota tubuhnya saja.
F. CARA MENSHOLATKAN JENAZAH
1. Sebelum sholat jenazah berlangsung hendaknya imam mengatur barisan (saf) makmum, Makmum berdiri di belakang imam bersaf-saf. Lebih banyak jemaahnya lebih utama. Apabila jemaahnya sedikit usahakan buat tiga saf.2. Jika jenazahnya itu laki-laki, maka imam berdiri di arah kepala jenazah. Lihat gambar berikut ini3. Jika jenazahnya itu perempuan, maka imam berdiri di arah perut jenazah. Lihat gambar berikut ini :4. Niat, yakni berniat mendirikan shalat jenazah karena AllahAdapun lafadz niat shalat jenazah laki-laki adalah sebagai berikut :(Ushollii ‘Alaa Haadzal mayyiti Arba’a Takbiirootin Fardlol lillahita’aalaa)Artinya : Aku niat sholat atas mayat ini empat takbir fardu (kifayah) karena Allah Ta’ala.Jika jenazahnya itu perempuan , lafadz niatnya adalah :(Ushollii ‘Alaa Hadzal mayyiti Arba’a Takbiirootin Fardlol lillahita’aalaa)Artinya : Aku niat sholat atas mayat ini empat takbir fardu (kifayah) karena Allah Ta’ala.Setelah mengucapkan lafadz niat sholat jenazah tersebut, kemudian membaca takbir pertama yaitu :“Allahu Akbar”Setelah mengucapkan takbir membaca surah Al-Fatihah,Bismillaahir Rahmanir RahimAlhamdu lillahi Robbil “alamin. Arrahmanir Rohim. Maliki yaumiddin. Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in. Idninas shirathal mustaqim. Shirathalladzina an’amta alaihim ghairil maghdubi ‘alaihim waladh dhallien. AminArtinya :Dengan nama Allah yang maha Pengasih lahi maha penyayang. Segala puji-pujian itu tertentu bagi Allah. Tuhan yang memiliki sekalian alam. Yang pengasih lagi penyayang. Raja yang memiliki hari pembalasan (hari qiamat). Kepada Engkaulah (han) kami menyembah dan kepada Engkaulah (Tuhan) kami mohon pertolongan. Tunjukkanlah (pimpinlah) kami ke jalan yang lurus (Benar) yaitu jalan yang telah Engkau beri nikmat atas diri mereka itu (para Nabi dan para Rasul) bukan jalan yang dimurkai atas mereka (Yahudi) dan bukan pula jalan mereka yang telah sesat. Perkenankanlah permohonan kami ini.Setelah selesai membaca surah Al-Fatihah dilanjutkan dengan bertakbir (takbir kedua) dan membaca sholawat Nabi Muhammad SAW, yaitu :(Allaahumma Sholli‘alaa Muhammad Wa’alaa aali Muhammad)
Atau boleh membaca :(Allaahumma Sholli Alla Sayyidinaa Muhammad Wa’alaa aali Sayyidinaa Muhammad)Artinya : Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada yang mulia Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya.Kemudian membaca takbir ketiga dan dilanjutkan dengan membaca do’a untuk mayat, yaitu :(Allahummaghfirla-huu Warhamhuu Waafihii Wa’fuanhu Waakrim Nuzulahuu Wawassi’ Madkholahuu Waj’alil Jannata Matswahuu)Artinya : Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat padanya, berilah maaf kepadanya, muliakanlah kedatangannya, luaskanlah tempatnya dan jadikanlah surga tempat kembalinya.Kemudian membaca takbir keempat, kemudian dilanjutkan dengan membaca do’a :(Allahumma Laa Tahrimnaa Ajrohuu Walaa Taftinnaa Ba’dahuu Wagfir)Artinya : Ya Allah, janganlah Engkau rugikan kami dari pada ganjarannya dan janganlah Engkau beri kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.Sehabis mengucapkan do’a, kemudian mengucapkan “SALAM” : (Assalaamu ‘ alaikum Warohmatullohi Wabaro kaatuh)Artinya : Selamat sejahtera atas kamu sekalian, semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan.PENJELASAN :
a. Jika mayatnya itu laki-laki, memakai domirhu ( ), misalnya “Allaahummagfirlahuu”b. Jika mayatnya itu perempuan domirnya “Hu” diganti dengan “ha” ( ), misalnya “Allaahummagfirlahaa” c. Jika mayatnya itu 2 orang, maka domirnya memakai “Huma” ( ), misalnya :“Allaahummagfir Lahumaa”d. Jika mayatnya itu banyak, maka domirnya memakai ”Hum” ( ) misalnya : “Allahumagfirlahum “
Atau boleh membaca :(Allaahumma Sholli Alla Sayyidinaa Muhammad Wa’alaa aali Sayyidinaa Muhammad)Artinya : Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada yang mulia Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya.Kemudian membaca takbir ketiga dan dilanjutkan dengan membaca do’a untuk mayat, yaitu :(Allahummaghfirla-huu Warhamhuu Waafihii Wa’fuanhu Waakrim Nuzulahuu Wawassi’ Madkholahuu Waj’alil Jannata Matswahuu)Artinya : Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat padanya, berilah maaf kepadanya, muliakanlah kedatangannya, luaskanlah tempatnya dan jadikanlah surga tempat kembalinya.Kemudian membaca takbir keempat, kemudian dilanjutkan dengan membaca do’a :(Allahumma Laa Tahrimnaa Ajrohuu Walaa Taftinnaa Ba’dahuu Wagfir)Artinya : Ya Allah, janganlah Engkau rugikan kami dari pada ganjarannya dan janganlah Engkau beri kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.Sehabis mengucapkan do’a, kemudian mengucapkan “SALAM” : (Assalaamu ‘ alaikum Warohmatullohi Wabaro kaatuh)Artinya : Selamat sejahtera atas kamu sekalian, semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan.PENJELASAN :
a. Jika mayatnya itu laki-laki, memakai domirhu ( ), misalnya “Allaahummagfirlahuu”b. Jika mayatnya itu perempuan domirnya “Hu” diganti dengan “ha” ( ), misalnya “Allaahummagfirlahaa” c. Jika mayatnya itu 2 orang, maka domirnya memakai “Huma” ( ), misalnya :“Allaahummagfir Lahumaa”d. Jika mayatnya itu banyak, maka domirnya memakai ”Hum” ( ) misalnya : “Allahumagfirlahum “
G. MENGANTARKAN JENAZAH KE KUBUR
Sesudah mayat dimandikan, dikafani dan isholati, selanjutnya jenazah dibawa ke kubur. Sebelum jenazah diberangkatkan ke tempat pemakaman, hendaklah diadakan sekedar upacara keberangkatan jenazah dengan secara singkat. Pemberi acara itu bisa dilakukan oleh pemuka agama (Kyai) atau orang yang dianggap mampu untuk memberikan ceramahnya. Dalam upacara yang isinya antara lain :1. Menyampaikan ucapan terima kasih kepada hadirin atas ikut serta duka citanya.2. Memintakan ma’af kepada para hadirin dan handaitaulan atas segala kesalahan dan kekhilafannya yang mungkin diperbuat oleh si mayat semasa hidupnya.3. Memberitahukan kepada para hadirin dan handaitaulan yang mungkin si jenazah mempunyai hubungan hutang piutang atau pinjam meminjam dan sebagainya, maka hak dan kewajiban si mayat beralih kepada orang-orang yang menjadi ahli warisnya.4. Mau’idhoh Hasanah yang ada hubungannya dengan kematian seseorang (Tazkirul Mauut).Pada umumnya pelaksanaan upacara pelepasan jenazah ini dilakukan di muka rumah duka sewaktu hendak diberangkatkan ke masjid untuk mensholati jenazah.Setelah upacara selesai kemudian hendaknya dipikul pada empat penjuru berjalan membawa jenazah dengan segera.Maksud segera diberangkatkan menurut sabda Nabi Muhammad SAW :Artinya : Dari Abi Huroiroh, r.a. Rasulullah S.A.W. : “Hendaklah kamu segera bawa jenazah itu, karena jika ia orang shaleh, maka kamu melekaskannya kepada kebaikan, tetapi jika ia bukan orang shalelh maka supaya kejahatannya itu lekas terbuang dari tanggungannya. (H.R. Jama’ah)
Jika seseorang sedang melihat jenazah lewat hendaklah ia memberi penghormatan dengan cara berdiri sambil mengucap-kan do’a : (Subhaanal Hayyil Ladzii Laa Yamuutu)Artinya : Maha suci zat yang maha hidup dan tidak akan mati.Dalam penghormatan terhadap jenazah tersebut tidak pan-dang jenazah tersebut muslim atau non muslim, karena hal ini sesuai dengan hadits nabi Muhammad SAW yang menyebutkan :Artinya : dari Jabir, r.a. katanya Telah lewat di depan kami jenazah, lalu Nabi Muhammad SAW berdiri, kamipun berdiri pula, lantas kami katakan kepada beliau bahwa jenazah itu, jenazah Yahudi, Beliau bersabda : Apabila kamu melihat jenazah maka hendaklah kamu berdiri. (H.R. Bukhari)
Jika seseorang sedang melihat jenazah lewat hendaklah ia memberi penghormatan dengan cara berdiri sambil mengucap-kan do’a : (Subhaanal Hayyil Ladzii Laa Yamuutu)Artinya : Maha suci zat yang maha hidup dan tidak akan mati.Dalam penghormatan terhadap jenazah tersebut tidak pan-dang jenazah tersebut muslim atau non muslim, karena hal ini sesuai dengan hadits nabi Muhammad SAW yang menyebutkan :Artinya : dari Jabir, r.a. katanya Telah lewat di depan kami jenazah, lalu Nabi Muhammad SAW berdiri, kamipun berdiri pula, lantas kami katakan kepada beliau bahwa jenazah itu, jenazah Yahudi, Beliau bersabda : Apabila kamu melihat jenazah maka hendaklah kamu berdiri. (H.R. Bukhari)
H. CARA MENGUBURKAN JENAZAH
Mengubur mayat hukumnya adalah fardu kifayah bagi orang yang masih hidup, mayat sebelum dimakamkan maka perlu diperhatikan tata cara menguburnya, yaitu antara lain :1. Cara Membuat Liang Kubur- jenazah sebelum diantar ke kubur, liang kubur harus sudah siap- Ukuran liang kubur :a. Dalamnya kadar orang berdiri tegak dan dilebihi satu hasta (± 50 s/d 75 centi meter)b. Lebarnya kira-kira 1 meterc. Panjangnya : sepanjang jenazah dan ditambah 0,5 meter.2. Bentuk Liang KuburLiang kubur dengan ukuran sebagaimana telah diuraikan sebelumnya dan nhendaknya di tengahnya diberi semacam parit seluas dan sepanjang mayat serta diberi dampingan papan atau lainnya pada kedua sampingnya serta diberi semacam atap terbuat dari papan atau bambu. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai terbau dan tidak mudah terbongkar oleh binatang buas. Selain itu juga untuk menjaga kehormatan mayat dan kesehatan orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut.3. Cara Mengubur Jenazaha. Ada tiga (3) orang (umumnya kerabat dekat jenazah) turun terlebih dahulu ke dalam liang kubur untukmenerima mayat :- Seorang menerima bagian kepala mayat- Seorang menerima bagian perut mayat- Seorang lagi menerima bagian kaki mayat
b. Ada beberapa orang di atas mengangkat mayat dengan pelan-pelan dari tempat pengangkutan mayat (kerendo) kemudian diterimakan kepada tiga orang yang sudah siap menerima (berada dalam liang kubur).c. Sewaktu akan memasukkan jenazah ke dalam liang kubur hendaknya yang memasukkan jenazah itu membaca do’a :“Bismillaahi Wa’alaa Milati Rosuulillahi”Artinya : Denganmenyebut ama Allah dan atas tetapnya agama Rosulullah
b. Ada beberapa orang di atas mengangkat mayat dengan pelan-pelan dari tempat pengangkutan mayat (kerendo) kemudian diterimakan kepada tiga orang yang sudah siap menerima (berada dalam liang kubur).c. Sewaktu akan memasukkan jenazah ke dalam liang kubur hendaknya yang memasukkan jenazah itu membaca do’a :“Bismillaahi Wa’alaa Milati Rosuulillahi”Artinya : Denganmenyebut ama Allah dan atas tetapnya agama Rosulullah
d. Posisi Mayat Dalam Kubur :
1. Setelah jenazah/mayat berada dalam liang kubur hendaknya mayat dimiringkan menghadap ke kiblat.2. Tali-tali yang ada terutama pada bagian kepala dan kaki supaya dilepas dengan maksud agar wajah dan kaki, sebab dua anggota tubuh tersebut adalah bagian dari anggota sujud dalam melaksanakan sholat.3. Dibagian kepala, punggung dan belakang paha hendaknya diberi penyangga atau gelu yaitu terbuat dari tanah yang dibulatkan (ganjal istilah bahasa jawa), agar posisi mayat dalam keadaan tetap miring. Lazimnya disiapkan sebanyak minimal 7 (tujuh) buah gelu. Sewaktu pembuatan gelu seyogyanya memba ca surat Al-Qodr.Bagian-bagian peletakan glu adalah :(a) Tumit(b) Pelipatan lutut(c) Pinggang(d) Punggung(e) Leher(f) Tengkuk(g) Di belakang kepala.
4. Pipi atau hidung mayat yang kanan harus menem-pel pada tanah, oleh karena itu wajah mayat hendaknya terbuka. 5. Setelah posisi mayat sudah tertib dan sebelum liang kubur ditutup dengan papan atau bambu atau dengan benda lainnya, mayat agar diadzani dan diiqomatkan.6. Setelah diadzani dan diiqomatkan.selanjutnya liang kubur dipasang kayu dako sebanyak 3 buah dan diletakkan di atasnya papan dako.sebagai penutup, kemudian baru ditimbuni dengan tanah secara perlahan-lahan.7. Timbunan tanah itu agar diratakan dan diberi nisan atau tanda, dalam memberi nisan dapat menggunakan dengan batu atau kayu atau lainnya.8. Setelah selesai semuanya, seyogyanya si mayat dibacakan talqin oleh pemuka agama.Sabda Nabi Muhammad SAW :Artinya : Dari Usman, Nabi Muhammad SAW apabila selesai dari menguburkan mayat, beliau selalu berdiri lalu bersabda : Mintakan ampun saudaramu dan mintakanlah olehmu agar ia diberi ketetapan iman karena sekara ia sedang ditanyai.(H.R. Abu Daud dan Hakim).TALQINTerhadap mayat yang baru dikubur, harap dibacakan Talqin (Al-Adzkar). Talqin yang berlaku di kalangan Ahlus Sunnah adalah sebagai berikut :Saudara-saudara yang berbahagiaAllah Subhaanahuu Wata’aalaa telah berfirman di dalam Al-Qur.an yang artinya :Semua mahluk yang mempunyai roh akan merasakan mati, dan manusia setelah mati kelak (Hari Kiamat) akan memerima balasan setimpal dengan amal perbuatannya ketika di dunia, maka barang siapa berbuat buruk akan dibalas masuk neraka dan barang siapa berbuat baik akan dibalas masuk surga.Saudara mayit .......... pegang teguhlah janjimu yaitu ucapan Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rosuulullaah.Ketahuilah bahwa surga itu benar-benar ada, nerakapun juga ada dan sesungguhnya mati itu benar-benar terjadi dan alam barzah itupun benar-benar ada sebagaimana yang sedang engkau alami.Dan demikian pula pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir pun demikian juga, yang lain-lain seperti khisab, mizan bangkit dari kubur, telaga, pengadilan akhirat, syafaat, sirotol mustaqim, kumpulnya manusia di padang makshsyar, dan kesempatan bagi orang-orang mukmin itu menyaksikan keagungan Allah adalah benar-benar nyata dan ada.Saudara mayit ............ mulai hari ini kamu bermukim di alam barzah ini, ini semua merupakan realitanya firman Allah.Dari bumi, kami ciptakan kamu, dan di dalamnya kami mengembalikan kamu, dan dari padanya kami mengeluar-kan kamu sekali lagi.Sebentar lagi kamu akan kedatangan malaikat Munkar dan Nakir perlu akan menanyakan kamu.Pertanyaannya demikian :
Hai manusia siapa Tuhan mu ?, siapa Nabi mu ?, apa Kitab Suci mu, apa agama mu ? dimana Kiblat mu ?, dan siapa saudara mu ?Maka jawablah :
Allah itu Tuhan ku, Nabi Muhammad S.A.W. Nabi ku, Al-Qur’an Kitab suci ku, Islam agama ku, Ka’bah Kiblat ku, dan seluruh orang Islam baik laki-laki maupun perempuan saudara ku.
MEMBERI MAKAN AHLI MAYAT DAN SEBALIKNYA
1. Setelah jenazah/mayat berada dalam liang kubur hendaknya mayat dimiringkan menghadap ke kiblat.2. Tali-tali yang ada terutama pada bagian kepala dan kaki supaya dilepas dengan maksud agar wajah dan kaki, sebab dua anggota tubuh tersebut adalah bagian dari anggota sujud dalam melaksanakan sholat.3. Dibagian kepala, punggung dan belakang paha hendaknya diberi penyangga atau gelu yaitu terbuat dari tanah yang dibulatkan (ganjal istilah bahasa jawa), agar posisi mayat dalam keadaan tetap miring. Lazimnya disiapkan sebanyak minimal 7 (tujuh) buah gelu. Sewaktu pembuatan gelu seyogyanya memba ca surat Al-Qodr.Bagian-bagian peletakan glu adalah :(a) Tumit(b) Pelipatan lutut(c) Pinggang(d) Punggung(e) Leher(f) Tengkuk(g) Di belakang kepala.
4. Pipi atau hidung mayat yang kanan harus menem-pel pada tanah, oleh karena itu wajah mayat hendaknya terbuka. 5. Setelah posisi mayat sudah tertib dan sebelum liang kubur ditutup dengan papan atau bambu atau dengan benda lainnya, mayat agar diadzani dan diiqomatkan.6. Setelah diadzani dan diiqomatkan.selanjutnya liang kubur dipasang kayu dako sebanyak 3 buah dan diletakkan di atasnya papan dako.sebagai penutup, kemudian baru ditimbuni dengan tanah secara perlahan-lahan.7. Timbunan tanah itu agar diratakan dan diberi nisan atau tanda, dalam memberi nisan dapat menggunakan dengan batu atau kayu atau lainnya.8. Setelah selesai semuanya, seyogyanya si mayat dibacakan talqin oleh pemuka agama.Sabda Nabi Muhammad SAW :Artinya : Dari Usman, Nabi Muhammad SAW apabila selesai dari menguburkan mayat, beliau selalu berdiri lalu bersabda : Mintakan ampun saudaramu dan mintakanlah olehmu agar ia diberi ketetapan iman karena sekara ia sedang ditanyai.(H.R. Abu Daud dan Hakim).TALQINTerhadap mayat yang baru dikubur, harap dibacakan Talqin (Al-Adzkar). Talqin yang berlaku di kalangan Ahlus Sunnah adalah sebagai berikut :Saudara-saudara yang berbahagiaAllah Subhaanahuu Wata’aalaa telah berfirman di dalam Al-Qur.an yang artinya :Semua mahluk yang mempunyai roh akan merasakan mati, dan manusia setelah mati kelak (Hari Kiamat) akan memerima balasan setimpal dengan amal perbuatannya ketika di dunia, maka barang siapa berbuat buruk akan dibalas masuk neraka dan barang siapa berbuat baik akan dibalas masuk surga.Saudara mayit .......... pegang teguhlah janjimu yaitu ucapan Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rosuulullaah.Ketahuilah bahwa surga itu benar-benar ada, nerakapun juga ada dan sesungguhnya mati itu benar-benar terjadi dan alam barzah itupun benar-benar ada sebagaimana yang sedang engkau alami.Dan demikian pula pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir pun demikian juga, yang lain-lain seperti khisab, mizan bangkit dari kubur, telaga, pengadilan akhirat, syafaat, sirotol mustaqim, kumpulnya manusia di padang makshsyar, dan kesempatan bagi orang-orang mukmin itu menyaksikan keagungan Allah adalah benar-benar nyata dan ada.Saudara mayit ............ mulai hari ini kamu bermukim di alam barzah ini, ini semua merupakan realitanya firman Allah.Dari bumi, kami ciptakan kamu, dan di dalamnya kami mengembalikan kamu, dan dari padanya kami mengeluar-kan kamu sekali lagi.Sebentar lagi kamu akan kedatangan malaikat Munkar dan Nakir perlu akan menanyakan kamu.Pertanyaannya demikian :
Hai manusia siapa Tuhan mu ?, siapa Nabi mu ?, apa Kitab Suci mu, apa agama mu ? dimana Kiblat mu ?, dan siapa saudara mu ?Maka jawablah :
Allah itu Tuhan ku, Nabi Muhammad S.A.W. Nabi ku, Al-Qur’an Kitab suci ku, Islam agama ku, Ka’bah Kiblat ku, dan seluruh orang Islam baik laki-laki maupun perempuan saudara ku.
MEMBERI MAKAN AHLI MAYAT DAN SEBALIKNYA
Memberi makanan kepada keluarga yang baru saja mendapat musibah karena kematian anggota keluarganya, dalam ajaran agama Islam sungguh dianjurkan (Sunnah muakad). Sabda Nabi Muhammad S.A.W. :
Artinya : Dari Abdullah bin Ja’far, katanya : Ketika datang kabar meninggalnya Ja’far mati terbunuh, Rasulullah S.A.W. bersabda : “Buatlah olehmu makanan untuk keluarga Ja’far karena mereka sedang menderita kesusahan”. (H.R. Lima ahli hadits terkecuali An-Nasal))Namun pada kenyataannya yang terjadi sekarang ini malah sebaliknya dan dianggap lazim, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam, semua teman, keluarga, tetangga dan sahabat-sahabat yang terdekat beramai-ramai berkumpul di rumah ahli mayat (rumah duka) untuk makan makanan dan ahli mayat terpaksa menyediakan makanan yang bermacam-macam, sehingga oleh ahlul musibah kadang-kadang mencari hutangan kesana kemari untuk memberi jamuan atau hidangan kepada mereka yang berkunjung.Dalam hal demikian itu oleh ajaran Islam melarangnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad S.A.W. :
Artinya : Dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali katanya : “Berkumpul-kumpul pada ahli mayat serta membuat makan-makanan sesudah mayat dikuburkan, kami anggap sebahagian meratap”. (H.R. Ahmad & Ibnu Majah)Hadits tersebut memberi pengertian bahwa memberi makan-makanan kepada para pengunjung oleh keluarga yang baru mendapat musibah hukumnya sama dengan meratap, sedangkan meratap setelah ditinggal mati oleh salah seorang anggota keluaraganya hukumnya adalah haram. Dengan demikian bagi orang-orang yang berakal sehat hendaklah dijauhi dan dihindarkan sungguh-sungguh, agar kita terlepas dari hukum haram tersebut.
Artinya : Dari Abdullah bin Ja’far, katanya : Ketika datang kabar meninggalnya Ja’far mati terbunuh, Rasulullah S.A.W. bersabda : “Buatlah olehmu makanan untuk keluarga Ja’far karena mereka sedang menderita kesusahan”. (H.R. Lima ahli hadits terkecuali An-Nasal))Namun pada kenyataannya yang terjadi sekarang ini malah sebaliknya dan dianggap lazim, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam, semua teman, keluarga, tetangga dan sahabat-sahabat yang terdekat beramai-ramai berkumpul di rumah ahli mayat (rumah duka) untuk makan makanan dan ahli mayat terpaksa menyediakan makanan yang bermacam-macam, sehingga oleh ahlul musibah kadang-kadang mencari hutangan kesana kemari untuk memberi jamuan atau hidangan kepada mereka yang berkunjung.Dalam hal demikian itu oleh ajaran Islam melarangnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad S.A.W. :
Artinya : Dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali katanya : “Berkumpul-kumpul pada ahli mayat serta membuat makan-makanan sesudah mayat dikuburkan, kami anggap sebahagian meratap”. (H.R. Ahmad & Ibnu Majah)Hadits tersebut memberi pengertian bahwa memberi makan-makanan kepada para pengunjung oleh keluarga yang baru mendapat musibah hukumnya sama dengan meratap, sedangkan meratap setelah ditinggal mati oleh salah seorang anggota keluaraganya hukumnya adalah haram. Dengan demikian bagi orang-orang yang berakal sehat hendaklah dijauhi dan dihindarkan sungguh-sungguh, agar kita terlepas dari hukum haram tersebut.
Kisah di Zaman Nabi
seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka cuba membunuh ular itu.
Apabila mereka coba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, mengapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat.”
Lalu para sahabat bertanya, “Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?” Berkata ular, “Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya;
1. Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang2. Dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya.3. Dia tidak mahu mendengar nasihat para ulama
KISAH PADA ZAMAN NABI MUSA AS.
Ada sebuah kisah untuk renungan bersama,cerita ini terjadi pada zaman Nabi Musa A.S, di dalam sebuah kampung , ada seorang pemuda yang suka mencuri, kerjanya hari-hari mencuri , dia tidak tahu pekerjaan apa yang sesuai untuknya selain mencuri, tetapi selepas dia mencuri dia merintih dengan Tuhan "apalah aku ni Tuhan, asyik mencuri sahaja kerja aku,aku tidak tahu hendak buat kerja lain , yang aku tahu mencuri sahaja" . Begitulah yang terdetik di dalam hati si pencuri ini , hatinya selalu bermain tarik tali dengan nafsunya .
Pada suatu hari , ketika pemuda itu berjalan-jalan dia ternampak Nabi Musa dari jarak yang yang jauh, dia ingin berjumpa dengan Nabi Musa , tapi hatinya sangat malu dengan Nabi Musa " itu Nabi Musa , seorang Nabi, tapi aku seorang pencuri, takkanlah dia hendak bertemu denganku" . Dalam masa yang sama juga ada seorang tua yang kuat Ibadahnya , pagi petang siang malam dia sibuk dengan ibadahnya . Si tua itu cuba mendekati Nabi Musa . Terlihatlah pemuda itu lalu dia berkata perlahan " kalau orang tua itu boleh bertemu Nabi Musa , masakan aku tidak" tapi bila dihampiri si tua itu, dia cuba mempercepatkan langkah kakinya seolah-olah tidak mahu hampir dengan si pemuda pencuri ini , makin pencuri ini hampir dengannya , makin laju meninggalkan pencuri itu.
Si pencuri berasa hairan dengan si tua itu " kenapalah sombong sungguh si tua itu" . Si tua itu mengtahui pemuda itu pencuri , lalu menghidarinya . Sampailah si tua itu bersama si pencuri itu serentak di hadapan Nabi Musa A.S , lantas Nabi Musa terus berkata " Kamu si pencuri , dosa-dosa kamu Allah sudah ampunkan, dan kamu si ahli Ibadah , Ibadah kamu dari dulu sampai sekarang Allah tolak" Si pencuri ini gembiralah bila dikhabarkan demikian, si tua ahli abid itu lemah lututlah mendengar kata-kata Nabi Musa , akhirnya kedua-duanya bertaubat ,dan meninggalkan dosa-dosa yang lampau.
Kesimpulan yang dapat diambil dari cerita ini ialah Rahmat Tuhan amatlah luas , RahmatNya itu mengatasi kemurkaanNya , Si pencuri buat dosa dalam masa yang sama dia membawa rasa-rasa hamba iaitu rasa berdosa,rasa bersalah, rasa lemah,hina, dina tapi si ahli Ibadah dalam dia beribadah dia tidak bawa rasa-rasa hamba,bahkan ibadah dia itu nenebalkan lagi mazmumah dia , dia anggap imanyalah yang hebat, iman orang lain iman katak-katak je , rupanya dia tertipu dalam beribadah , dia rasa selamat apabila dia beribadah, sedangkan tujuan utama ibadah ialah menebalkan rasa-rasa hamba , dan menajamkan rasa-rasa bertuhan .
Begitulah kesimpulan dari kisah ini , ia berlaku pada zaman Nabi Musa A.S tapi tidak mustahil ia boleh berlaku pada zaman ini ? Apabila selesai sembahyang adakah kita merenung kembali adakah sembahyang kita sudah cukup untuk dipersembahkan kepada Tuhan? Bila kita berkhidmat dengan manusia , adakah perasaan kita rasa malu dan takut dengan Tuhan,malu kerana Tuhan masih beri kita berkhidmat dengan manusia sedangkan kita manusia berdosa , takut kerana Kebaikan itu adalah kepunyaan Tuhan , belum tentu Tuhan terima apa yang kita lakukan . Rasa-rasa inilah yang perlu kita bawa dalam kita beribadah, berdakwah dan berjuang , moga dapat diambil manfaat dari cerita ini.
Apabila mereka coba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, mengapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat.”
Lalu para sahabat bertanya, “Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?” Berkata ular, “Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya;
1. Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang2. Dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya.3. Dia tidak mahu mendengar nasihat para ulama
KISAH PADA ZAMAN NABI MUSA AS.
Ada sebuah kisah untuk renungan bersama,cerita ini terjadi pada zaman Nabi Musa A.S, di dalam sebuah kampung , ada seorang pemuda yang suka mencuri, kerjanya hari-hari mencuri , dia tidak tahu pekerjaan apa yang sesuai untuknya selain mencuri, tetapi selepas dia mencuri dia merintih dengan Tuhan "apalah aku ni Tuhan, asyik mencuri sahaja kerja aku,aku tidak tahu hendak buat kerja lain , yang aku tahu mencuri sahaja" . Begitulah yang terdetik di dalam hati si pencuri ini , hatinya selalu bermain tarik tali dengan nafsunya .
Pada suatu hari , ketika pemuda itu berjalan-jalan dia ternampak Nabi Musa dari jarak yang yang jauh, dia ingin berjumpa dengan Nabi Musa , tapi hatinya sangat malu dengan Nabi Musa " itu Nabi Musa , seorang Nabi, tapi aku seorang pencuri, takkanlah dia hendak bertemu denganku" . Dalam masa yang sama juga ada seorang tua yang kuat Ibadahnya , pagi petang siang malam dia sibuk dengan ibadahnya . Si tua itu cuba mendekati Nabi Musa . Terlihatlah pemuda itu lalu dia berkata perlahan " kalau orang tua itu boleh bertemu Nabi Musa , masakan aku tidak" tapi bila dihampiri si tua itu, dia cuba mempercepatkan langkah kakinya seolah-olah tidak mahu hampir dengan si pemuda pencuri ini , makin pencuri ini hampir dengannya , makin laju meninggalkan pencuri itu.
Si pencuri berasa hairan dengan si tua itu " kenapalah sombong sungguh si tua itu" . Si tua itu mengtahui pemuda itu pencuri , lalu menghidarinya . Sampailah si tua itu bersama si pencuri itu serentak di hadapan Nabi Musa A.S , lantas Nabi Musa terus berkata " Kamu si pencuri , dosa-dosa kamu Allah sudah ampunkan, dan kamu si ahli Ibadah , Ibadah kamu dari dulu sampai sekarang Allah tolak" Si pencuri ini gembiralah bila dikhabarkan demikian, si tua ahli abid itu lemah lututlah mendengar kata-kata Nabi Musa , akhirnya kedua-duanya bertaubat ,dan meninggalkan dosa-dosa yang lampau.
Kesimpulan yang dapat diambil dari cerita ini ialah Rahmat Tuhan amatlah luas , RahmatNya itu mengatasi kemurkaanNya , Si pencuri buat dosa dalam masa yang sama dia membawa rasa-rasa hamba iaitu rasa berdosa,rasa bersalah, rasa lemah,hina, dina tapi si ahli Ibadah dalam dia beribadah dia tidak bawa rasa-rasa hamba,bahkan ibadah dia itu nenebalkan lagi mazmumah dia , dia anggap imanyalah yang hebat, iman orang lain iman katak-katak je , rupanya dia tertipu dalam beribadah , dia rasa selamat apabila dia beribadah, sedangkan tujuan utama ibadah ialah menebalkan rasa-rasa hamba , dan menajamkan rasa-rasa bertuhan .
Begitulah kesimpulan dari kisah ini , ia berlaku pada zaman Nabi Musa A.S tapi tidak mustahil ia boleh berlaku pada zaman ini ? Apabila selesai sembahyang adakah kita merenung kembali adakah sembahyang kita sudah cukup untuk dipersembahkan kepada Tuhan? Bila kita berkhidmat dengan manusia , adakah perasaan kita rasa malu dan takut dengan Tuhan,malu kerana Tuhan masih beri kita berkhidmat dengan manusia sedangkan kita manusia berdosa , takut kerana Kebaikan itu adalah kepunyaan Tuhan , belum tentu Tuhan terima apa yang kita lakukan . Rasa-rasa inilah yang perlu kita bawa dalam kita beribadah, berdakwah dan berjuang , moga dapat diambil manfaat dari cerita ini.
Rabu, 18 November 2009
RINGKASAN CERAMAH DAN WALISONGO
PAK ALI GHUFRON SINGOSARI MALANG, SEDANG NGAJI DI MASJID SMA SHALAHUDDIN MALANG JAWA TIMUR
Ringkasan Ceramah : 25 Juni 2005 di Pesantren Terpadu Bahrul Ulum Tambakberas Jombang
Santri = Insan punya Tri (3) Kesadaran :
1. Kesadaran Ibadah/ mengabdi
2. Kesadaran Ilmu/ pengamalannya
3. Kesadaran Sosial kemasyarakatan
I. Macam Ilmu :
1. Imu Jali. Eksakta/Bhs. Caranya :
1. Bitt’allum = Nyantri/ sekolah kuliyah
2. Ilmu Khofi
2. Bittaqorrub =Tirakat (Syeh Idris)
3. Ilmu Dadunni
S = JALAN (perkara-perkara) ke Akhirat س=ﺴﺎﻠﻙﺍﻠﻰﺍﻷﺨرﺓ
N = PENGGANTINYA PARA Kyai/ guru ن=ﻨﺎﺌﺏﻋنﺍﻠﻤﺸﺎﻴﺢ
T = MENINGGALKAN Ma'siyat ت = ﺘﺎ رﻙﻋن ﺍﻠﻤﻌﺎ ﺼﻰ
R = Senang pada KEBAIKAN ر= رﺍﻏﺏ ﻔﻰ ﺍﻠﺨﻴرﺍﺕ
ي= ﻴرﺠﻭﺍﻠﺴﻼ ﻤﺔ ﻔﻰﺍﻠﺩ ﻴن ﻭﺍﻠﺩ ﻨﻴﺎ ﻭﺍﻷ ﺨﺭﺓ
Y = MENGHARAP Keselamatan di bidang Agama, Dunia dan Akhrirat
Orang Hidup butuh DUIT = Doa, Usaha, Iman & Taqwa
Santri = Insan punya Tri (3) Kesadaran :
1. Kesadaran Ibadah/ mengabdi
2. Kesadaran Ilmu/ pengamalannya
3. Kesadaran Sosial kemasyarakatan
I. Macam Ilmu :
1. Imu Jali. Eksakta/Bhs. Caranya :
1. Bitt’allum = Nyantri/ sekolah kuliyah
2. Ilmu Khofi
2. Bittaqorrub =Tirakat (Syeh Idris)
3. Ilmu Dadunni
S = JALAN (perkara-perkara) ke Akhirat س=ﺴﺎﻠﻙﺍﻠﻰﺍﻷﺨرﺓ
N = PENGGANTINYA PARA Kyai/ guru ن=ﻨﺎﺌﺏﻋنﺍﻠﻤﺸﺎﻴﺢ
T = MENINGGALKAN Ma'siyat ت = ﺘﺎ رﻙﻋن ﺍﻠﻤﻌﺎ ﺼﻰ
R = Senang pada KEBAIKAN ر= رﺍﻏﺏ ﻔﻰ ﺍﻠﺨﻴرﺍﺕ
ي= ﻴرﺠﻭﺍﻠﺴﻼ ﻤﺔ ﻔﻰﺍﻠﺩ ﻴن ﻭﺍﻠﺩ ﻨﻴﺎ ﻭﺍﻷ ﺨﺭﺓ
Y = MENGHARAP Keselamatan di bidang Agama, Dunia dan Akhrirat
Orang Hidup butuh DUIT = Doa, Usaha, Iman & Taqwa
KENAL DENGAN PERJUANGAN WALISONGO
PARA WALIYULLAH, WALI SONGO antara lain :
1. MAULANA MALIK IBRAHIM atau MAULANA MAGH RIBI(Gresik ).12 Rabiul Awwal 882 H./ 9 April.1419 M.
2. RADEN RAHMAT (SUNAN AMPEL) Wafat th. Ampel dento, Surabaya
3. RADEN PAKU/ MAULANA AINUL YAKIN (SUNAN GIRI - Gresik)
4. MAHDUM IBRAHIM (SUNAN BONANG) (1465 M - 1525 M - Tuban)
5. RADEN MUHAMMAD SAID/ JAKA SAID (SUNAN KALIJAGA,/ QODLI ZAKKA di Ngadilangu Demak)
6. RADEN SYARIFUDDIN/ MASIH SUNAT (SUNAN DRAJAT, di Paciran, Lamongan).
7. SYEKH JAKFAR SHADIQ/ R.AMIR HAJI (SUNAN KUDUS, di Kudus)
8. RADEN UMAR SAID / R. PRAWOTO (SUNAN MURIA – Gununung Muria dekat Rembang)
9. RADEN FATAHILLAH / R. ABDUL QADIR (SUNAN GUNUNGJATI, di Cirebon ) (Wafat th 1572 M).
1. SUNAN BONANG
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.
Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.
Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.
Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.
Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.
Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta’('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.
Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan ‘isbah (peneguhan).
2. Sunan Ampel
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
3. Sunan Drajat
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M.
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
4. Sunan Giri
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
5. Sunan Gunung Jati
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).
Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
6. Sunan Kalijaga
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (’kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak
7. Sunan Kudus
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang.
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
8. Maulana Malik Ibrahim
(Wafat 1419)
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
9. Sunan Muria
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.
Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
“Walisongo” berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.
Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha,dll.
PARA WALIYULLAH, WALI SONGO antara lain :
1. MAULANA MALIK IBRAHIM atau MAULANA MAGH RIBI(Gresik ).12 Rabiul Awwal 882 H./ 9 April.1419 M.
2. RADEN RAHMAT (SUNAN AMPEL) Wafat th. Ampel dento, Surabaya
3. RADEN PAKU/ MAULANA AINUL YAKIN (SUNAN GIRI - Gresik)
4. MAHDUM IBRAHIM (SUNAN BONANG) (1465 M - 1525 M - Tuban)
5. RADEN MUHAMMAD SAID/ JAKA SAID (SUNAN KALIJAGA,/ QODLI ZAKKA di Ngadilangu Demak)
6. RADEN SYARIFUDDIN/ MASIH SUNAT (SUNAN DRAJAT, di Paciran, Lamongan).
7. SYEKH JAKFAR SHADIQ/ R.AMIR HAJI (SUNAN KUDUS, di Kudus)
8. RADEN UMAR SAID / R. PRAWOTO (SUNAN MURIA – Gununung Muria dekat Rembang)
9. RADEN FATAHILLAH / R. ABDUL QADIR (SUNAN GUNUNGJATI, di Cirebon ) (Wafat th 1572 M).
1. SUNAN BONANG
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.
Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.
Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.
Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.
Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.
Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta’('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.
Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan ‘isbah (peneguhan).
2. Sunan Ampel
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
3. Sunan Drajat
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M.
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
4. Sunan Giri
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
5. Sunan Gunung Jati
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).
Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.
6. Sunan Kalijaga
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (’kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak
7. Sunan Kudus
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang.
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.
8. Maulana Malik Ibrahim
(Wafat 1419)
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
9. Sunan Muria
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.
Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
“Walisongo” berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.
Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha,dll.
Selasa, 17 November 2009
SINGOSARI MALANG, KELAHIRAN MALANG, TINGGAL DI SINGOSARI
Senin, 16 November 2009
PENGAJIAN, NU CERAMAH, KHUTHBAH, NU MENGAJAR
SINGOSARI MALANG, CERAMAH GAYA NU, AKRAB, MURAH SENYUM BIL-HIKMAH WALMAUIDHATUL HASANAH, DI STUDIO TV, TEBAR ILMU DI SINGOSAR, MALANG RAYA, DENPASAR BALI SAMPAI PAPUA IRIAN JAYA
SINGOSARI MALANG, CERAMAH GAYA NU, AKRAB, MURAH SENYUM BILHIKMAH WALMAUIDHATUL HASANAH, DI PENGAJIAN WARGA MUSLIM-MUSLIMAT TANJUNG KOTA MALANG
DAKWAH DENGAN SENYUM DAN KISAH MUSTAMIIN JADI ENJOY, DI TV, PANGGUNG, GEDUNG, LAPANGAN, PERUSAHAAN DAN TEMPAT YANG LAYAK UNTUK NGAJI.HM. ALI GHUFRON NGAJI DI SAMPOERNA SUWAYUWO PANDAAN PASURUAN JAWA TIMUR
Minggu, 15 November 2009
TAMBAKBERAS JOMBANG JAWA TIMUR
Jumat, 13 November 2009
Langganan:
Postingan (Atom)





